
"Maafkan Alira Bi," ucap Rey.
"Bibi paham Den, wajar jika Non Alira marah. Kalau menurut Bibi, Den Rey sebaiknya melupakan masalah ini dan fokuslah dengan rumahtangga Aden."
"Bibi nggak mau masalah ini membuat rumah tangga Den Rey berantakan. Biarlah Sabrina menjalani hidupnya seperti sekarang Den. Saya janji jika kelak akan mempertemukan Aden dengan bayi itu."
"Nggak bisa Bi, anak itu harus punya status. Dia akan menyandang nama keluarga kami," ucap Papa.
"Iya Bi, hal itu juga tidak adil bagi Sabrina. Masa dia yang harus menanggung kesalahan itu sendirian."
"Walaupun Alira tidak setuju, kamu tetap harus menikahi Ina. Setelah bayi itu lahir terserah apa kalian akan melanjutkan pernikahan itu atau milih berpisah," ucap Mama.
"Tapi Nya, bagaimana kita menemukan Ina, sementara dia tidak bisa kita hubungi."
"Aku tahu di mana Ina Bi, hanya saja alamat pastinya belum aku dapat. Kemaren waktu di Bali, kami nggak sengaja bertemu tapi setelah itu Rina menghilang."
"Apa dia baik-baik saja Den?"
"Iya Bi, dia sehat. Tapi Rina memang sengaja menjauhiku dan mengatakan jika dia sudah menggugurkan kandungannya."
"Astaghfirullah Ina. Kenapa kamu malah menambah dosa Nak!" ucap Bu Murni sembari meraup wajahnya.
"Bibi tenang dulu, aku yakin Ina berbohong. Karena sampai saat ini, aku masih merasakan mengidam."
"Maksud Aden?"
"Aku yang mengidam Bi. Aku yang muntah dan ingin makan ini itu, padahal makanan yang ku mau, bukanlah makanan yang aku suka."
"Dokter sudah membenarkan hal itu."
__ADS_1
"Syukurlah jika memang bayi itu masih ada Rey," ucap Mama.
"Begini saja Rey, Papa akan kirim orang untuk mencari Sabrina. Mudah-mudahan saja dia masih tinggal di sekitaran pulau Bali."
"Sekarang pergilah temui Alira. Kamu harus bicarakan semuanya. Ingat Rey, apapun nanti sikap Alira, kamu jangan sampai bertindak kasar, hingga menyakiti mata batin istrimu," ucap Mama.
"Terimakasih Ma, Pa, Bi. Sekarang pikiran ku lebih tenang dan aku akan kembali ke kamar untuk menjelaskan semuanya kepada Alira."
Setelah mengatakan hal itu, Rey pun bergegas ke kamar, sedangkan para orang tua masih duduk untuk membicarakan rencana mereka selanjutnya.
"Ma, jika nanti orang suruhan Papa menemukan Sabrina, sebaiknya Mama dan Bibi berangkat ke Bali untuk bicara langsung dengan Ina."
"Iya Pa, Ina harus tahu jika kita menginginkan bayi itu. Jangan sampai dia nekat ingin menggugurkan."
"Bayi itu berhak hidup, meski kehadirannya karena sebuah kesalahan."
Papa Rey bukan hanya meminta orang-orang kepercayaannya untuk mencari tapi juga meminta tolong pihak kepolisian. Kebetulan beliau memiliki seorang teman sekolah yang kini menjadi polisi dan bertugas di Bali.
"Semoga Ina cepat ditemukan dan mau memaafkan kesalahan Rey ya Pa."
"Iya Ma, Mama juga harus bicara dengan Alira. Pasti berat bagi dia, tapi semua sudah terjadi dan kita semua harus ikhlas. Sekarang papa mau balik ke kantor, nanti kalau sudah mendapatkan kabar tentang Ina, Papa akan telepon Mama."
"Hati-hati ya Pa," ucap Mama sembari mengantar papa Rey sampai ke pintu.
Rey sedang berusaha menjelaskan kepada Alira, tapi Alira malah menutup telinganya, dia tidak mau mendengar apapun tentang Sabrina.
Karena merasa penjelasannya tidak berguna, Rey pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Rey akan menenangkan diri di sana, sekaligus memberi waktu kepada Alira untuk memikirkan semuanya.
Rey menghabiskan waktu untuk bekerja dan baru kembali malam hari.
__ADS_1
Alira masih bersikap sama, bahkan saat ini dia diam seribu bahasa dan tidak peduli dengan kepulangan Rey.
Rey hanya bisa menghela nafas, dia sadar semua ini kesalahannya dan dia berusaha terima jika Alira belum bisa memaafkannya.
Kini Rey melayani dirinya sendiri karena Alira tidak mempedulikannya baik masalah makanan maupun kebutuhan lainnya.
Ajakan Rey untuk pergi berbulan madu juga ditolak Alira dan dia hanya akan pergi jika Rey mau pindah ke Turki.
Rey tentu saja keberatan karena karirnya sudah bagus di sini, lagipula dia tidak ingin meninggalkan orangtuanya dan juga Sabrina yang sedang mengandung bayinya.
Tidak ada lagi kebahagiaan dalam rumah tangga Rey, sejak Alira bersikap cuek bahkan Alira lebih memilih menghabiskan waktunya di kantor, mengurus hotel orangtuanya.
Penjelasan dari mama juga tidak berpengaruh apapun, bahkan Alira malah mendiamkan beliau.
Anak buah papa sudah menemukan Sabrina, lalu merekapun mengirimkan alamat rumah Nek Mawar kepada Papa.
Papa langsung memberitahu Rey dan juga mama. Dan Rey yang tidak asing dengan alamat tersebut memastikan lagi ke papanya, apakah orang-orang suruhan sang papa benar tidak salah dalam memberikan informasi.
Untuk memastikan Rey ingin berangkat tapi sang papa melarang. Kali ini yang akan pergi adalah Bu Murni dan sang Mama.
Papa Rey takut, Sabrina malah akan pergi jauh, apabila Rey yang kembali mencarinya. Lagipula Alira juga tidak mungkin ditinggal maupun diajak.
Akhirnya Rey pun mengurungkan niatnya, dia percayakan semuanya kepada sang Mama dan ibunya Sabrina.
Pagi ini Rey mengantar Mama dan Bu murni ke bandara setelah mengantar Alira ke kantornya.
Alira juga tidak tinggal diam, dia membayar orang lagi untuk menggagalkan pertemuan Mama dengan Sabrina.
Bersambung.....
__ADS_1