
"Sakit Ma," ucap Rey sambil memegangi telinganya.
"Kamu sih, sudah jadi seorang suami tapi kelakuannya masih seperti anak lajang saja!"
"Memang masih lajang Ma, belum belah duren," ucap Rey spontan hingga membuat sang mama membulatkan mata.
Rey memang terbiasa bersikap jujur terhadap orangtuanya, tapi kejujurannya kali ini nyaris membuat Mamanya marah.
Mama hendak kembali menarik telinga Rey, tapi dia langsung kabur, menghindar dan berlari meninggalkan dapur.
Ibu hanya tersenyum menyaksikan sikap kekanakan anak asuhnya itu. Sementara Sabrina pura-pura tidak mendengar dan asyik menyelesaikan tugas, menyiapkan sarapan.
Setelah bunda pergi, ibu mendekati Sabrina, "Na, mulai sekarang sebaiknya kamu harus jaga jarak dengan Den Rey. Ibu tahu kalian sudah seperti saudara dan Alira juga sahabatmu, tapi sekarang status kalian sudah berbeda. Lebih baik menghindar daripada hubungan persahabatan kalian jadi rusak."
"Iya Bu, Sabrina tahu. Makanya kemaren Ina bilang ke Ibu, untuk mengizinkan kerja keluar kota. Sebulan lagi ada posisi manajer kosong Bu dan teman Ina sudah merekomendasikan."
"Ya sudahlah Nak, jika jalan itu yang terbaik, ibu izinkan kamu. Ibu nggak enak tadi saat melihat Den Alira sepertinya cemburu dengan hubungan kalian."
"Jadi ibu setuju Ina kerja di luar kota?" tanya Sabrina yang masih belum percaya jika ibunya secepat itu berubah pikiran.
Ibu Murni pun mengangguk, meski sebenarnya beliau berat untuk berpisah dengan Sabrina.
"Tapi dengan syarat, kamu harus jaga diri baik-baik dan jika sudah ada tempat tinggal yang memungkinkan, ibu mau ikut tinggal bersama mu."
"Terimakasih Bu, Inshaallah Ina akan jaga diri baik-baik. Ina janji akan bekerja lebih giat hingga bisa menabung dan membeli rumah untuk kita tinggal meskipun hanya rumah KPR."
"Ya sudah Nak, ibu mau lanjut kerja. Kamu siapin deh sarapannya, barangkali sebentar lagi mereka semua akan turun untuk sarapan."
"Iya Bu."
Sabrina senang, akhirnya dia mendapatkan izin, sekarang Ina tinggal menunggu sambil bersiap untuk kepindahan.
Sarapan sudah Sabrina tata di meja berikut susu dan jus, kini saatnya dia memanggil Bunda, papa, Rey dan juga Alira.
Saat Sabrina hendak naik, ternyata mereka sudah pada turun, begitu juga dengan Alira yang masih menunjukkan sikap dingin.
__ADS_1
Rey sudah duluan tiba di ruang makan bersama Bunda dan Papa, sementara Alira menarik lengan Sabrina, dia ingin membicarakan sesuatu.
"Sebentar Na, ada yang ingin aku bicarakan."
"Eh, iya...ada apa ya Ra?"
"Aku tahu Na, kamu dan Rey sudah seperti saudara. Tapi aku mohon, mulai sekarang biar aku saja yang menyiapkan semua kebutuhan Rey, termasuk membuat kopi untuknya. Aku mau belajar menjadi istri yang baik bagi Rey."
Sabrina terdiam, dia jadi teringat kejadian tadi dan mengenai permintaan ibu, lalu diapun berkata, "Iya Ra. Maafkan aku ya, tadi aku lupa. Soalnya aku sudah terbiasa membuatkan kopi untuk Rey. Mulai besok aku akan ubah kebiasaan itu," ucap Sabrina yang menutupi kesalahan Rey yang telah memaksanya tadi.
"Oh, syukurlah jika kamu paham. Kamu tahu kan, mempertahankan pasti lebih sulit dari mendapatkan. Dan aku tidak mau kehilangan apa yang sudah aku dapatkan," ucap Alira sebelum pergi.
Sabrina mendesah, dia tidak menyangka jika Alira setakut itu akan kedekatannya dengan Rey. Padahal sebelum menikah Alira tidak pernah secemburu itu.
"Semoga aku bisa cepat keluar dari rumah ini. Maaf Ra, aku tahu posisiku jadi jangan takut, aku tidak mengincar suamimu meski jujur aku mencintainya," monolog Sabrina.
Kemudian Sabrina pun bergegas ke kamar, dia akan membersihkan diri sekaligus bersiap untuk ke kantor.
Bunda dan Papa yang tidak melihat Sabrina ikut sarapan, segera meminta pelayan untuk memanggil Sabrina.
"Nya, biar saya saja. Sebentar ya Nya."
Kemudian ibupun bergegas ke kamar dan beliau melihat Sabrina sedang duduk di depan meja rias, merapikan makeupnya.
"Na, ayo cepat. Bunda sudah menanyakan kamu. Mereka semua sudah mulai sarapan."
"Bu, Ina sarapan di kantor saja ya, soalnya barusan pihak kantor telepon, Ina diminta cepat datang karena ada tamu dari luar yang ingin bertemu Ina."
"Oh ya sudah, ayo temui mereka dulu sekalian pamit," ajak ibu.
"Iya Bu. Sebentar ya, Ina ambil tas dulu."
Sabrina pun menyambar tasnya lalu mengikuti ibu ke ruang makan.
Melihat Sabrina datang, Rey menggeser kursinya dan menarik kursi untuk Sabrina. Alira yang melihat hal itupun mimik wajahnya berubah. Sementara Sabrina langsung meminta maaf.
__ADS_1
"Rey, maaf ya. Aku tidak ikut sarapan. Aku harus segera berangkat, ada tamu penting yang harus ku temui. Nanti aku sarapan di kantor saja."
"Oh...kalau begitu, ini minumlah dulu, sekedar pengganjal lapar," ucap Rey sembari menyerahkan segelas susu untuk Sabrina.
"Nggak ah Rey, lagi nggak enak perutnya, jadi aku hindari susu dulu untuk sementara."
"Kamu sakit? sebentar aku ambil peralatan dulu. Aku periksa ya, sebentar kok," ucap Rey lagi yang sudah berdiri dan hendak mengambil alat-alat kedokterannya.
Alira langsung menarik lengan Rey, hingga Rey pun menatapnya sembari berkata, "Aku cuma sebentar Ra, nanti aku lanjutkan sarapan setelah memeriksa kondisi Sabrina. Dia belum terlalu pulih, aku takut dia nanti pingsan lagi."
Rey bersikeras hendak pergi ke kamarnya tapi Sabrina langsung menolaknya, "Maaf Rey sudah nggak sempat, aku pamit dulu ya."
Sabrina pun buru-buru menyalim tangan ibu, bunda dan papa, lalu diapun mengatupkan kedua tangan pertanda pamit kepada Rey dan Alira.
Rey tidak terbiasa dengan sikap Sabrina yang seperti itu dan dia menatap Rina dengan aneh.
Selama ini Sabrina tidak pernah membedakan, dia juga selalu menyalam Rey seperti yang lainnya sebelum berangkat.
Masih belum hilang rasa herannya, Alira menyenggol lengan Rey dan berkata, "Ayo Kak, lanjutkan makannya, Kakak janji kan mau membeli oleh-oleh untuk Oma dan Opa."
"Oh iya. Jam berapa mama papa akan berangkat?"
"Penerbangan sore. Makanya kita harus cepat, biar bisa dikemas sekalian."
"Iya, iya. Aku habiskan dulu sarapan ku."
Bunda cuma diam, beliau juga merasakan kecemburuan Alira, tapi beliau juga tidak berani ikut campur dan tidak mungkin meminta Sabrina untuk menjauh.
Sementara terhadap putranya, bunda tahu Rey sudah menganggap Sabrina sebagai adiknya sendiri.
Paling salah satu jalan keluar yang ada dipikiran bunda saat ini adalah menghubungi Mario agar lebih berani mendekati Sabrina. Dengan begitu hubungan keduanya pasti akan bisa menjauhkan Rey dengan Sabrina.
Ibu yang juga merasa tidak enak, hanya tertunduk, beliau yakin akan keputusannya membiarkan Sabrina menerima tawaran kerja ke luar kota.
Namun saat ini ibu dan Ina belum membicarakan hal itu kepada keluarga Rey, mereka masih menunggu waktu yang tepat.
__ADS_1
Bersambung....