MAAFKAN AKU, CINTA

MAAFKAN AKU, CINTA
BAB 29. LAMARAN MARIO


__ADS_3

Nek Mawar menemani Sabrina hingga tertidur. Beliau memandang wajah sendu itu dengan perasaan iba. Kenapa gadis baik seperti Sabrina harus mengalami nasib buruk seperti itu.


Kemudian beliau pun kembali ke dapur untuk memasak menu makan malam.


Beliau memasak sup daging untuk Sabrina dan Nek Mawar menelepon Mario agar nanti membelikan susu ibu hamil.


Walaupun Sabrina bukan siapa-siapa Nek Mawar, tapi beliau menganggap Sabrina sudah seperti cucu sendiri.


Lepas Maghrib Mario pun tiba, dia membawa susu ibu hamil 2 kotak dengan rasa berbeda, yaitu rasa coklat dan juga vanilla. Dia belum tahu, rasa mana yang paling disukai oleh Sabrina.


Sebelum menemui Sabrina, Nek Mawar menarik lengan Mario, kemudian membawanya ke dapur.


Mario heran, lalu berkata, "Nek...ada apa nih? kenapa tarik-tarik tangan Mario?"


"Ssst, jangan kuat-kuat, nanti kedengaran Sabrina."


"Hemm, memangnya ada apa Nek?"


"Nenek mau tanya, kira-kira berapa usia kandungan Ina?"


"Kalau menurut pemeriksaan ku, jalan 3 bulan Nek. Memangnya kenapa Nek?"


"Kasihan ya, bayi itu akan lahir tanpa seorang ayah."


"Iya."


"Bagaimana jika kamu menjadi ayahnya Yo!"


Mario menatap sang Nenek dan dia tidak menyangka jika Nek Mawar memiliki ide yang sama dengan yang Mario pikirkan.


Melihat Mario terdiam, beliau pun berkata lagi, "Kamu nggak setuju ya Yo, maaf. Nenek tidak memaksa, tapi jujur Nenek kasihan dan nenek juga menyayangi Ina Yo. Dia gadis baik, tapi nasibnya malang."


"Sebenarnya Mario juga memikirkan hal itu Nek. Seperti yang Mario pernah cerita, Mario mengagumi Sabrina dan mungkin memang cinta. Mario bersedia Nek, tapi apakah Sabrina mau dan bagaimana cara menyampaikannya kepada Mama dan Papa."


"Kalau masalah mama dan papamu gampang, Nenek akan bicara ke mereka. Masalah Sabrina, kamu coba dekati dia dan bicara pelan-pelan."


"Toh nggak mungkin dia menikah dengan temanmu itu, yang kata kalian baru saja menikah dengan sahabat Sabrina."


"Iya Nek. Seperti kata Sabrina, dia tidak ingin jika Rey ataupun keluarganya tahu."


"Kalau begitu, temuilah Sabrina dan coba kamu bicarakan hal itu. Jika nanti dia setuju, baru nenek akan bicarakan dengan mama papa mu."


"Baiklah, Mario temui Ina dulu ya Nek."


Mario pun menemui Sabrina di kamarnya. Sabrina yang memang hendak keluar terkejut saat Mario sudah berdiri di depan pintu.


"Eh...Mas Mario. Kapan tiba Mas?"

__ADS_1


"Barusan Na, oh ya...ini buat mu," ucap Mario sembari menyerahkan plastik berisi susu ke Sabrina.


"Susu hamil, kamu harus meminumnya agar baby mu sehat."


"Terimakasih Mas, aku jadi merepotkan kalian."


"Nggak ah Na, hanya susu. Oh ya Na, ada yang ingin aku tanyakan, bisa kita duduk di sana?" tanya Mario sembari menunjuk ke arah ruang keluarga."


Ina pun mengangguk lalu mengikuti langkah Mario.


Mereka duduk berhadapan dan tanpa basa-basi Mario pun memulai percakapan.


"Begini Na, aku tidak pandai untuk berbasa-basi, lebih baik aku bicara ke intinya saja, mau kah kamu menikah denganku Na?"


Sabrina terpaku, dia tidak menyangka jika Mario akan nekad melamar setelah tahu dirinya sedang berbadan dua.


"Kenapa Na? Aku serius lho. Sejak pertama melihatmu aku tertarik dan aku harap kamu tidak akan menolak. Izinkan aku untuk menjadi ayah bayimu."


"Mas Mario jangan aneh-aneh, masih banyak gadis yang baik dan cantik Mas. Aku tidak pantas untuk Mas dan aku tidak mau dikasihani. Aku akan mengurus anakku sendiri Mas."


"Tolong Na, jangan menolakku. Aku sungguh mencintaimu, aku ingin menjadi ayah bayi yang kau kandung itu. Kamu pikirkan nasibnya Na, kasihan kan jika nanti dia lahir dan besar diolok-olok orang, lahir tanpa ayah."


"Kamu nggak perlu menjawabnya sekarang, pikirkanlah dulu Na!"


"Tapi Mas..."


"Baiklah Mas, tapi beri aku waktu dulu untuk berpikir."


"Ya, tapi jangan lama-lama, karena perutmu akan semakin membesar."


"Iya Mas."


"Terimakasih Na. Yuk kita temui Nenek, beliau tadi sedang menyiapkan makan malam."


"Ih, Ina jadi malu tidak membantu Nenek."


"Namanya sedang tidak sehat, lagipula biasanya orang hamil sensitif dengan aroma bumbu masakan."


"Iya sih Mas."


"Kamu tidak ada ngidam makanan atau buah Na? Kalau ada katakan saja, Inshaallah akan aku belikan."


"Saat ini belum ada sih Mas. Tapi terimakasih atas tawarannya, nanti jika ada yang aku pingin, akan minta tolong ke Mas Mario untuk membelikannya."


"Mau beli apa nih?" tanya Nenek yang sekilas mendengar percakapan keduanya.


"Itu Nek, jika Ina kepingin sesuatu, Mario bilang katakan saja, biar nanti Mario yang akan membelikan."

__ADS_1


"Nah iya, Nenek setuju."


"Iya Nek."


"Ayo kita makan dulu, Nenek sudah masakkan sup untuk kamu Na, biar bayimu sehat."


"Aduh Nek, Ina jadi malu telah merepotkan Nenek."


"Nggak ada yang merepotkan Na. Ayo duduklah, kita makan."


"Iya Nek. Mas Mario mau makan apa, Ina ambilin ya."


"Apa saja Na, semua yang nenek masak aku suka."


"Mario cucu Nenek paling rakus Na, dia bisa menghabiskan semua makanan ini. Makanya buruan makan, nanti nggak kebagian."


"Nek, jangan buka kartu dong, Mario jadi malu."


"Nggak apa-apalah Nek, tandanya Mas Mario menyukai masakan Nenek dan takut mubazir, iya kan Mas."


"Yups kamu benar Na. Kan sayang jika tidak dihabiskan."


Kemudian Sabrina pun mengambilkan makanan untuk Mario dan juga Nenek, lalu merekapun makan dengan lahap.


Sup buatan Nenek sangat enak, hingga Sabrina makan berulang.


Namun di kamar yang ada di rumah sakit, Rey tidak berselera makan, perutnya mual terus dan dia ingin makan makanan yang mengandung rasa asam.


Rey akhirnya meminta tolong kepada security rumah sakit untuk membelikannya rujak dengan pilihan buah yang mengandung rasa asam.


Security itupun merasa aneh melihat permintaan Rey yang seperti permintaan wanita sedang hamil.


Sebelum memakan rujaknya, Rey meminta tolong kepada dokter rekannya, untuk memeriksa apa penyebab rasa mualnya.


Dokter tersebut mengatakan jika keadaan Rey normal. Hanya saja Sang dokter menanyakan, apakah istri Rey sedang hamil, karena biasanya hal tersebut wajar di alami oleh wanita yang sedang ngidam atau suami wanita itu yang mengalaminya.


Rey terdiam, apa mungkin dia ngidam karena kehamilan Sabrina.


Dokter yang melihat Rey bengong pun bertanya, "Bagaimana Rey, apa benar tebakanku?"


"Eh...iya Dok. Memang istriku sedang hamil."


"Ya sudah, ini obat mual, jika nggak berkurang juga, minumlah obat ini. Dan nikmatilah momen itu Rey, soalnya jarang-jarang yang mengalami seperti kamu."


"Itu tandanya, Tuhan sedang menunjukkan bagaimana susahnya seorang wanita yang sedang mengandung, agar para suami lebih menghargai serta lebih menyayangi para istri."


Rey pun mengangguk-angguk, dia berharap ini salah satu penebus dosanya dengan berbagi kesulitan dalam masa kehamilan Sabrina.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2