MAAFKAN AKU, CINTA

MAAFKAN AKU, CINTA
BAB 40. PENGAKUAN SI PENYERANG


__ADS_3

Dokter Ira meminta Sabrina untuk beristirahat, kemudian beliaupun menelepon Dokter Mario, memberitahu apa yang terjadi pada Sabrina.


Mario merasa khawatir, lalu dia pergi memberitahu serta menjemput Nek Mawar. Mereka akan bersama-sama menjenguk Sabrina.


Sementara Alira merasa gelisah, dia belum mendapatkan kabar dari kedua orang suruhannya. Alira mondar-mandir hingga membuat Rey merasa heran.


"Kamu kenapa Ra? ayo cepat, nanti kita ketinggalan pesawat."


"Eh iya, aku sudah tidak sabar ingin cepat pulang, kangen rumah Kak."


"Hemm, cepatlah!"


Alira pun bergegas, memakai sepatu lalu menyambar tasnya, "Ayo Kak, aku sudah siap," ucap Alira sembari menautkan tangannya ke lengan Rey.


Nanti sesampainya di rumah, Alira akan menghubungi kedua orang suruhannya, untuk mengetahui hasil kerja mereka.


Mario dan Nek Mawar juga sudah berangkat, mereka masih penasaran dan ingin segera sampai untuk melihat siapa orang yang tega menyakiti Sabrina.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, Mario pun tiba di rumah sakit. Dia dan nenek langsung menuju ke ruangan Dokter Ira.


"Masuk!" ucap Dokter Ira saat mendengar pintu ruangannya diketuk.


"Oh kamu Yo. Nenek juga ikut?"


"Iya Nak Dokter, bagaimana keadaan Ina Nak?"


"Alhamdulillah, syukurnya dia baik-baik saja Nek. Tadi sempat keluar flek tapi sekarang sudah aman."


"Syukurlah, dimana Ina sekarang Nak Dokter?"


"Lagi sholat Nek. Ayo silakan duduk Nek."


"Oh ya Ra, kamu kenal siapa orang yang menyerang Sabrina?" tanya Mario.


"Nggak ada yang kenal Yo, bahkan warga kampung juga tidak mengenali mereka. Kalau menurutku, mereka memang sudah mengikuti kalian sejak datang kemaren. Mana mungkin kan warga sekitar sini, sedangkan Ina baru saja tiba."


"Sabrina juga tidak mengenali mereka?"


"Katanya sih tidak kenal, cuma mereka mengincar bayinya. Sampai sekarang mereka belum mengaku meski sudah di desak oleh polisi."


"Aku akan ke kantor polisi untuk melihat mereka, Ra. Dan bila perlu aku yang akan mengorek keterangan, siapa sebenarnya dalang dibalik kejadian ini."


"Aku ikut ya Mas," ucap Sabrina yang baru saja masuk."

__ADS_1


"Eh, Nenek juga ikut? maaf ya Nek, Ina jadi menyusahkan Nenek."


"Kandungan kamu baik-baik saja kan Na?"


"Iya Nek, alhamdulillah. Syukurnya warga datang tepat waktu," ucap Sabrina sembari memeluk Nek Mawar.


"Ra, kami pergi dulu ya. Aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah kedua orang itu," pamit Mario.


"Iya Yo, tapi kalian balik ke sini lagi kan dan menginap di rumah ku?"


"Bagaimana Nek?"


"Please Nek, menginap ya Nek. Entah kapan lagi nenek bisa kesini," pinta dokter Ira.


"Baiklah, kami menginap. Tapi nggak bisa lama-lama, pesanan pelanggan belum Nenek siapkan."


"Iya Nek, yang penting malam ini Nenek menginap."


"Ya sudah, sebaiknya kita pergi sekarang," ajak Mario.


Mario, Nek Mawar dan Sabrina pun bergegas ke kantor polisi setelah pamit dengan Dokter Ira. Sementara Dokter Ira menelepon seseorang untuk membantunya menyiapkan makanan. Nanti sepulang dari rumah sakit, dia akan menjemputnya untuk di bawa ke rumah.


Di perjalanan, Mario memastikan kembali keadaan Sabrina, "Kamu beneran nggak apa-apa Na? Nggak ada yang sakit lagi?"


"Apa mereka ada menyebutkan nama seseorang Na? siapa yang menyuruh mereka?" tanya Nenek.


"Nggak ada Nek, mereka cuma bilang jika bos mereka ingin kami lenyap dari hidupnya, karena aku mengancam kebahagiaan dia."


"Apa semua ini perbuatan Rey, Na? Bukankah dia yang saat ini sedang mencarimu terus. Barangkali dia tidak ingin rumah tangganya hancur!"


Sabrina terdiam, rasanya dia tidak percaya jika Rey pelakunya. Apalagi Rey sempat mengatakan ingin bertanggungjawab.


"Maaf Na jika aku salah ngomong. Tapi bisa juga istrinya. Karena kemaren mereka menginap di rumahku. Awalnya Rey duluan yang datang, tapi saat lewat tengah malam istrinya datang mencari. Sepertinya mereka bertengkar, kalau dilihat dari mimik istri Rey."


"Tidak mungkin Mas, mereka berdua tidak mungkin tega melakukan hal ini. Aku mengenal baik Rey dan Alira, jadi mustahil jika mereka tega."


"Siapa lagi yang terancam kebahagiaannya dengan kehadiran kamu dan bayimu Ra, kalau bukan mereka?"


"Entahlah Mas, akupun bingung. Perasaan aku tidak pernah punya musuh."


"Kalau Nenek boleh ikut campur sebaiknya kalian resmikan hubungan saja, biar Sabrina aman dan ada yang menjaga. Lagipula dengan bersatunya kalian, Rey tidak mungkin lagi akan mengejar dan mencarimu Na."


"Tapi Nek, dia memang sudah tahu jika ini bayinya dan Rey ingin bertanggungjawab. Apa aku harus jujur saja ya Nek, biar dia tenang dan tidak mencariku lagi."

__ADS_1


"Kamu mau menerima tawarannya Na? Menikah dengan Rey?"


"Memberitahu bukan berarti harus menikah dengannya Mas, karena aku tidak ingin menjadi orang ketiga di dalam pernikahan mereka."


"Aku tidak ingin menjadi pengganggu di kehidupan rumahtangga sahabatku sendiri, Mas."


"Syukur deh, berarti aku masih memiliki harapan kan Na?" ucap Rey sembari tersenyum, menatap Sabrina dari kaca spionnya.


"Kita lihat saja nanti, mudah-mudahan saja, Rey nggak akan kembali lagi kesini. Bukankah hari ini kamu bilang mereka akan kembali ke Jakarta Yo?"


"Iya Nek. Itu yang Rey katakan kemaren."


"Syukurlah kalau begitu Mas. Aku bisa tenang dan ikut kalian pulang. Kasihan Nenek, mengerjakan pesanan sendiri."


"Iya Ina benar. Nenek sempat mencari orang untuk membantu, tapi tidak sepintar kamu Na."


"Ya sudah, kita lihat besok. Jika keadaan kamu baik-baik saja, kita akan pulang. Tapi jika tidak, sebaiknya kamu di sini dulu sampai pulih."


"Iya Mas."


Saking asyiknya mereka mengobrol, tidak terasa sudah sampai di kantor polisi. Mario pun buru-buru turun dan membukakan pintu untuk Sabrina juga Nenek.


Mereka masuk ke dalam dan menemui bagian piket untuk meminta izin melihat kedua penyerang tersebut.


Setelah mendapatkan izin, salah satu polisi pun mengantar mereka ke sel tahanan tempat si penyerang mendekam di sana.


Begitu melihat kedua orang tersebut, Mario pun geram dan dengan nada keras dia menanyakan siapa dalang yang telah mengutus keduanya untuk menyakiti Ina.


Polisi mendekatkan keduanya kepada Mario dan Mario sempat melayangkan beberapa kali bogemnya ke tubuh mereka.


Dan setelah ancaman demi ancaman Mario lakukan bersama kedua polisi, akhirnya mereka pun mengaku, jika yang menyuruh adalah Alira.


Mario menggebrak meja, dia berjanji tidak akan membiarkan Alira atau siapapun akan menyakiti Sabrina lagi.


Setelah mendapatkan keterangan tersebut, Mario keluar dan mengatakan kepada Sabrina tentang pengakuan para penyerang itu.


Sabrina terduduk lemas, dia tidak percaya jika Alira, sahabat karibnya bisa setega dan sekejam itu, ingin menyingkirkan dia dan bayinya.


Mario menggenggam tangan Sabrina dan berkata, "Setelah bayi itu lahir, aku akan membawamu menemui Ibu dan orang tua Rey. Aku ingin melamar mu, bayi itu akan menjadi anakku."


Mata Sabrina berkaca-kaca, dia tidak menyangka jika Mario benar bersungguh-sungguh ingin menikah dan menjadi ayah dari bayinya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2