
Bunda dan Bu Murni sibuk mempersiapkan makanan untuk menyambut kepulangan Rey. Mereka juga membuat cemilan yang Alira suka.
Saat makanan sudah terhidang, Bi Murni menatap meja dengan perasaan sedih, dia teringat Sabrina.
Dulu setiap mempersiapkan makanan untuk Rey, Bunda juga tidak lupa membuat makanan untuk Ina.
Melihat Bi Murni mematung di hadapan meja makan, Bunda tahu, pasti Bi Murni sedang ingat Sabrina.
"Bi, ayo kita buat jus, Papa Rey juga akan makan siang di rumah," ajak Bunda sembari menyentuh bahu Bu Murni.
Bu Murni tersentak, "I-iya Nya."
"Ini buahnya Bi. Bibi rindu Ina 'kan, saya juga. Belum ada kabar dari Ina Bi?"
"Ina cuma kirim pesan, saya nggak boleh mencemaskan dia. Katanya, saat ini dia baik-baik saja dan sedang repot dengan pekerjaan baru, serta pekerjaan sampingannya."
"Apakah Ina tidak mengatakan kapan akan cuti dan pulang kesini Bi?"
"Katanya, setahun ini Ina tidak akan pulang Nya dan dia akan usahakan tahun depan datang menjemput saya. Ina ingin menabung untuk membeli rumah."
"Apa Ina serius Bi, dia ingin menetap di sana? Kami bakal merindukan kalian. Saya bakal kesepian, apalagi jika Rey dan Alira tidak mau juga tinggal di rumah ini."
"Saya nggak bisa melarang dia, Nya, mungkin di sana perkembangan karirnya jauh lebih bagus. Nyonya tahu sendiri 'kan, jika Ina sudah mempunyai impian, harus dia dapatkan."
"Enak saat anak-anak masih kecil ya Bi, kita terhibur dan sekarang kita kesepian. Tapi itulah kodrat hidup Bi, mereka juga punya kehidupan masing-masing."
"Iya Nya."
"Bibi jangan lupa untuk mengingatkan Ina, jangan cuma pikirkan pekerjaan saja. Pernikahannya juga harus dipikir. Nanti jika Ina telepon atau kirim pesan, beritahu Ina ya Bi, saya ingin bicara dengan dia."
"Baik Nya. Oh ya Nya, jusnya saya masukkan kulkas dulu ya, sambil menunggu Tuan sampai."
"Nggak usah Bi, paling mereka sebentar lagi sampai."
Benar saja kata Bunda, baru selesai berkata, terdengar orang mengucap salam dari luar.
Bunda bergegas membukakan pintu dan Rey mengucap salam dan langsung nyelonong masuk memeluk sang Mama sembari berkata, "Rey kangen Mama..."
__ADS_1
"Makanya, jangan pergi lagi Nak. Kami juga kesepian di sini. Mana Papa kamu sering keluar kota."
Mendengar ucapan sang Mama, wajah Alira berubah, padahal dia berencana akan mengajak Rey menetap di Turki. Bagaimana mungkin bisa mendapatkan izin, kalau pergi beberapa hari saja sang mertua sudah merasa kesepian.
"Nak Lira, Mama juga rindu kamu," ucap Mama Rey yang memeluk Alira.
"Iya Ma, Lira juga."
"Ayo-ayo kita masuk, kalian pasti lapar kan, Mama dan Bibi sudah siapkan makanan kesukaan kalian."
Mereka pun bergegas masuk, Rey meletakkan tasnya di kamar lalu menuju ruang makan. Sementara Alira beralasan ingin ke toilet dulu karena perutnya sedikit bermasalah.
Ternyata kesempatan itu dipergunakan oleh Alira untuk menelepon orang-orang suruhannya, tapi tidak di angkat. Ponsel kedua orang itu ditahan oleh pihak polisi.
Ternyata Sabrina sudah meminta polisi untuk menutup kasus tersebut, dengan alasan itu hanya sebuah kesalah pahaman saja yang akan dia selesaikan secara kekeluargaan.
Sabrina tidak mau membuat keluarga Rey malu, dia tidak mungkin menjadi orang yang tidak tahu diri, mencoreng nama baik keluarga yang telah mengangkat derajat kehidupannya.
Alira kesal, dia membanting ponselnya di atas tempat tidur sembari berkata, "Kerja begitu saja tidak becus! Dasar orang-orang bodoh, percuma aku membayar mahal kalian! Awas jika nanti kalian menghubungiku dan mengatakan jika kerja kalian gagal!"
Alira pun keluar menyusul Rey ke ruang makan. Bu Murni yang melihatnya langsung menyapa, "Non sakit perut? Bibi siapkan obat dulu ya Non!"
"Oh, gitu ya Non. Ini silakan dinikmati makanan kesukaan Non," ucap Bu Murni yang menyuguhkan makanan kesukaan Alira.
"Bibi duduk sini dong, ikut makan bersama kami," pinta Rey.
"Iya Bi, ayo kita makan. Papa ternyata belum bisa pulang karena ada pertemuan mendadak."
"Saya nanti saja Nya, masih belum lapar. Saya mau ke belakang dulu, mengantar minuman untuk Pak Udin. Sekalian mengecek, apakah beliau sudah selesai membersihkan selokan atau belum."
Bunda pun mengangguk, lalu ketiganya meneruskan kegiatan makannya.
Selesai makan dan sebelum Rey meninggalkan ruang makan, diapun berkata, "Ma, nanti kalau Papa sudah pulang, tolong beritahu Rey ya Ma. Ada hal penting yang ingin Rey bicarakan."
Alira menoleh, dia mengernyitkan dahi, berusaha menerka, hal apa yang ingin Rey bicarakan dengan mama papanya.
"Hal penting apa Rey?"
__ADS_1
"Nanti mama juga tahu, sekarang kami mau istirahat dulu sambil menunggu Papa pulang. Ayo Ra, kamu juga harus istirahat."
"Alira ke kamar dulu ya Ma."
"Pergilah, nanti jika Papa pulang, mama akan panggil kalian."
Dengan perasaan penasaran, Bunda membiarkan Rey dan Alira beranjak ke kamarnya. Lalu beliau pun keluar menyusul Bu Murni.
Di dalam kamarnya, Rey merebahkan diri, lalu berkata, "Ra, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan. Ini tentang kesalahanku sebelum kita menikah."
Deg...jantung Alira serasa berhenti berdetak, dia sudah bisa menduga, apa yang akan Rey bicarakan. Namun Alira pura-pura tidak tahu, lalu duduk di hadapan suaminya itu.
"Apa yang ingin Kak Rey bicarakan? Memangnya Kak Rey melakukan kesalahan apa sebelum kita menikah?"
Rey duduk, menggenggam tangan Alira dan berkata, "Sebelumnya aku mau minta maaf Ra, kamu pasti marah, pasti sakit hati, tapi kebenaran tetap harus dikatakan meskipun pahit dan pastinya menyakiti semua pihak."
"Aku tidak mungkin berlama-lama menyembunyikannya lagi. Aku harus mempertanggung jawabkan kesalahanku kepada kalian semua, terutama kepada Sabrina dan juga ibunya."
"Memangnya kesalahan apa yang ada hubungannya dengan Sabrina Kak? Aku sebenarnya muak, selama ini yang Kak Rey pikirkan hanya Ina, Ina dan Ina!"
"Mau sampai kapan, rumah tangga kita seperti ini terus. Ina seperti bayangan yang menghantui kehidupan kita. Aku benci Ina, aku benci dia. Dia selalu menjadi penghalang kebahagiaan ku!" ucap Alira sembari histeris dan menangis.
Rey menjadi bingung, kenapa Alira bersikap seperti itu, padahal dirinya belum mengatakan pokok permasalahan yang berhubungan dengan Sabrina.
"Kamu kenapa Ra? kenapa kamu seperti ini, menyalahkan Sabrina sebelum tahu duduk permasalahannya."
"Dengar aku dulu Ra, Ina tidak salah apapun, semua kesalahanku. Ina bukan penghalang kebahagiaan kita, melainkan aku yang telah merusak kebahagiaannya," ucap Rey sembari mengguncang tubuh Alira agar dia berhenti histeris.
"Kakak yang terlalu membela dia, dia sumber masalah di antara kita. Jika tahu akan seperti ini, lebih baik dulu aku tidak menerima lamaran Kakak!"
"Aku sakit Kak, hatiku sakit setiap kali yang Kak Rey ingat hanya Ina, Ina dan selalu Ina. Sepertinya aku tidak berarti apa-apa bagi Kakak. Mana cinta yang dulu Kakak agung-agungkan, mana janji yang Kak Rey ucapkan untuk membahagiakan aku. Semuanya cuma kebohongan!"
"Maksud kamu apa Ra, dengarkan dulu penjelasanku biar kamu tahu jika Sabrina tidak pernah bersalah!"
"Tidak perlu! Aku tidak mau mendengar apapun tentang dia, tolong Kak, jangan sebut-sebut nama dia lagi. Biarkan hidupku tenang, menikmati kebahagiaan rumah tangga kita," pinta Alira sembari mengatupkan kedua tangannya.
Air mata terus menetes, dia tidak ingin Rey mengungkap masalah Sabrina kepada siapapun termasuk kepada Papa mama mertuanya.
__ADS_1
Bersambung....