
Kedua ibu sudah tiba di Bali dan mereka langsung dijemput oleh kedua orang suruhan Papa yang memang sudah menunggu sejak pagi.
Mereka hendak di antar ke hotel tempat menginap tapi kedua ibu menolak. Keduanya sudah tidak sabar ingin menemui Sabrina secepatnya.
Sesampainya di rumah Nek Mawar, Bu Murni dan Bunda langsung mengetuk pintu, mereka sangat berharap Sabrina ada di rumah saat ini.
Tok...tok...tok
"Assalamualaikum," ucap Bunda.
Bunda mengulangnya hingga berulang-ulang tapi tetap tidak ada jawaban.
Tetangga yang melihat pun langsung menghampiri dan berkata, "Orangnya pergi Bu!"
"Kemana perginya Dek?" tanya bunda.
"Nek Mawar pergi mengantar pesanan, sedangkan Neng Ina pergi bekerja."
Mendengar nama Ina disebut Bu Murni dan Bunda pun merasa tenang, tapi untuk memastikannya Bunda pun mengambil ponsel, lalu menunjukkan foto Ina kepada si tetangga.
"Oh ya Dek, apa benar Ina ini yang tinggal di sini?"
"Kami hanya ingin memastikan saja. Saya Bundanya Ina dan ini ibunya."
Tetangga itupun memperhatikan foto Ina dan juga Bu Murni, karena terdapat kemiripan, diapun yakin jika Bunda tidak berbohong.
Sebelumnya Nek Mawar memang sudah berpesan agar jangan memberitahu tentang Sabrina kepada sembarang orang.
Tapi karena yang datang adalah Ibu Sabrina makanya si tetangga pun tanpa ragu mengangguk.
"Alhamdulillah, akhirnya kami bisa bertemu Ina. Oh ya Dek, kalau boleh tahu, dimana ya tempat Ina bekerja?"
"Kata Mbak Ina, beliau bekerja di sebuah hotel mewah dekat pantai Bu. Tidak terlalu jauh dari sini, paling nanti jam makan siang beliau pulang karena ada kue yang mau Neng Ina jemput untuk acara di hotelnya."
"Oh gitu ya, berarti sebentar lagi Ina pulang."
"Iya Bu. Paling sekitar 1 jam lagi. Kalau Ibu mau, ayo silakan menunggu di rumah saya, daripada balik lagi."
"Iya sih, takutnya kalau nanti balik lagi, Ina keburu kembali ke hotel."
"Ayo Bu, ikut saya."
Ibu dan bunda pun mengikuti tetangga Nek Mawar yang rumahnya berjarak tiga rumah dari rumah Nek Mawar.
Setelah menyuguhkan minuman, tetangga itupun bercerita jika sejak kedatangan Ina di sana, para tetangga jadi mendapatkan tambahan penghasilan.
Mereka bekerja membantu Nek Mawar, mengadon, mencetak serta memanggang kue.
Ibu dan Bunda sangat senang mendengarnya, karena ternyata Ina bisa cepat membaur dengan para tetangga.
__ADS_1
Setelah menunggu satu jam, mereka pun kembali ke rumah Nek Mawar dan ternyata memang benar, Sabrina serta Nek Mawar sudah kembali.
Sabrina sangat terkejut, saat keluar dari dalam mobil melihat Sang Ibu serta Bunda berdiri menunggunya di teras rumah.
Dia tidak bisa mengelak lagi dan tidak mungkin menyembunyikan perutnya yang sudah mulai membesar.
"Ibu, Bunda...!" ucap Sabrina dengan suara gemetar.
Bu Murni pun menghambur, memeluk putrinya sambil menangis dan berkata, "Nak...bagaimana kabarmu? Kenapa kamu sembunyikan semua ini dari kami?"
"I-Ina baik Bu. Maafkan Ina Bu," jawab Sabrina yang juga tak kuasa menahan tangis.
Sabrina malu dan sedih karena telah mengecewakan harapan sang Ibu.
"Kamu tidak seharusnya menyembunyikan hal sebesar ini dari Ibu Nak, tapi kenapa kamu malah pergi?"
"Sekali lagi maafkan Ina Ibu, Ina gagal menjaga amanah."
Tangis keduanya pun pecah hingga membuat Bunda merasa bersalah. Hal itu terjadi karena kesalahan putranya.
Bunda memeluk Sabrina dan berkata, "Maafkan Rey Nak, maafkan kami. Rey sangat menyesal atas kejadian ini. Dia menyesal kenapa malam itu membiarkan pesta berlangsung hingga dia mabuk."
"Semua sudah terjadi Bun, nggak ada artinya disesali lagi."
Nek Mawar yang melihat ketiganya menangis ikut terharu, lalu beliau menghampiri dan berkata, "Bu, sebaiknya kita masuk. Ayo Na, ajak ibu-ibu kamu."
"Eh, iya Nek. Nek, kenali ini ibu dan ini Bunda."
"Terimakasih Nek."
Saat ketiganya baru masuk, terdengar ucapan salam. Ternyata, Mario yang datang. Memang kemaren Mario telah berjanji akan datang membantu Sabrina dan Nenek mengantarkan kue ke toko-toko langganan yang ada di sekitar tempatnya bekerja.
Saat Mario masuk, Bunda pun terkejut, "Mario!"
"Eh...Tante, kapan tiba Tan?" tanya Mario yang juga terkejut.
Kemudian Mario pun menyalim keduanya, lalu ikutan duduk untuk ngobrol dengan teman mamanya itu.
Nek Mawar pun menyuguhkan minuman serta makanan hasil produksinya bersama Sabrina.
"Silakan Bu, diicip kuenya. Itu buatan Sabrina lho dan saat ini sedang menjadi best seller."
"Buatan Nenek kok Bun, Ina hanya membantu."
"Ini seperti oleh-oleh yang waktu itu dibawa oleh Rey dan Alira? Labelnya sama. Ini memang enak banget, iya kan Bi?" tanya Bunda ke Bu Murni.
"Kami memang bekerja dengan beberapa toko oleh-oleh Bun, mungkin mereka membeli di salah satu toko tersebut."
"Oh ya Na, Rey sempat menemuimu ya?"
__ADS_1
Sabrina diam dan akhirnya mengangguk.
"Kenapa kamu malah menghilang Na, Rey mencarimu lagi dan ingin meminta maaf. Dia akan bertanggungjawab, Rey akan menikahimu."
"Maafkan Ina Bun, Ina tidak bisa. Ina tidak mau menjadi orang ketiga dalam rumahtangga sahabat Ina sendiri. Biarkan Ina membesarkan anak ini sendiri Bun."
"Tapi Nak, bayi itu harus punya ayah. Kamu harus pikirkan nasib bayi mu juga. Apa kamu tidak kasihan, jika dia nanti akan menjadi olok-olokkan teman-temannya."
"Maaf Tan, saya terpaksa ikut campur. Saya akan menikahi Sabrina jika dia setuju."
"Tapi Yo, saya dan om, ingin bayi ini menyandang nama ayahnya. Walau bagaimanapun bayi itu cucu kami."
"Tolong Na, pertimbangkan lagi permintaan Bunda. Bunda ingin kamu menikah dengan Rey, demi bayi kalian," pinta Bunda.
"Maaf Bun, Ina benar-benar tidak bisa. Bayi ini akan tetap menjadi cucu Bunda, dan kapanpun Bunda mau, boleh menjenguknya. Ina tidak akan pernah menghalangi."
"Mengenai lamaran Dokter, aku juga belum siap. Maafkan saya Dok, saat ini yang aku inginkan hanya fokus bekerja serta menunggu kelahirannya."
"Aku akan menunggumu hingga kamu siap dan bersedia Na."
"Tapi Yo, mama kamu ingin secepatnya melihatmu menikah. Apa mungkin beliau akan mengizinkanya?" tanya Bunda.
"Mama dan Papa pasti akan paham Tan. Nanti saya akan jelaskan semuanya kepada mama dan papa."
"Bagaimana pendapat Bibi?" tanya Bunda kepada Bu Murni.
"Kalau saya sih terserah Ina Bu. Cuma, harapan seorang Ibu, pastinya ingin melihat Ina bahagia dan jangan sampai bayi ini lahir tanpa seorang ayah."
"Maaf, jika saya ikut campur para Ibu," ucap Nek Mawar.
"Iya Nek, silakan."
"Sebaiknya Ina menikah, untuk memberi nama keluarga bagi bayinya. Masalah mau lanjut atau tidak, semua terserah Ina. Kasihanilah bayi mu Nak," ucap Nek Mawar.
"Saya setuju, Rey dan Papa juga pasti setuju."
"Bagaimana Na?" tanya ibu.
"Baiklah Bun, Bu, Ina setuju menikah, tapi hanya untuk memberi nama keluarga saja. Setelah menikah, Ina dan Rey akan tetap pada kehidupan kami masing-masing. Dan setelah bayi ini lahir, Rey harus segera menceraikanku."
"Tapi dengan syarat bayi ini akan tetap tinggal bersama ku."
"Baiklah Na, Bunda akan bicarakan hal ini dengan Papa dan Rey, tapi Bunda harap kami bisa menemui cucu kami nantinya."
"Iya Bun. Ina tidak akan menghalangi, karena bagaimanapun bayi ini berhak mengenal siapa ayah serta kakek neneknya."
"Terimakasih Na. Sekali lagi maafkan kesalahan Rey."
Sabrina mengangguk, meski dia masih mencintai Rey tapi Ina tidak mau pernikahannya nanti lanjut. Sabrina tidak mau berurusan dengan Alira yang pastinya akan mengancam keselamatan bayinya.
__ADS_1
Bersambung....