MAAFKAN AKU, CINTA

MAAFKAN AKU, CINTA
BAB 16. GAGAL LAGI MALAM PERTAMA


__ADS_3

Sepulang mengantar mertua ke bandara Rey menyempatkan singgah ke rumah sakit, dia masih cuti tapi ada surat menyurat yang harus dia tandatangani.


Alira menggandeng terus tangan Rey, dia sepertinya ingin menunjukkan jika dirinyalah Nyonya Rey.


Rey tidak masalah sih diperlakukan seperti itu tapi dia merasa aneh saja, Alira sepertinya sekarang lebih posesif.


Teman-teman Rey sampai menggelengkan kepala saat melihat Alira selalu nempel terus kemanapun Rey bergerak.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya Rey pun mengajak Alira pulang, tapi Alira menolak.


"Kak, kita 'kan kemaren MP nya gagal, malam ini kita menginap di hotel Papa saja yuk, sambil menunggu perjalanan bulan madu. Mungkin suasana rumah membuat kita kurang bersemangat."


"Tapi Al, kita baru satu malam di rumah, masa sudah harus menginap di luar."


"Ayolah Kak, please...nanti keburu aku menstruasi, gagal deh."


"Baiklah, tapi kita beli pakaian ganti dulu ya, lalu kita telepon mama, beritahu jika malam ini kita menginap di luar."


Alira pun setuju dan langsung mencium Rey, dia senang akhirnya Rey mau menuruti kemauannya.


Masa iya mereka harus gagal terus, biasanya pengantin baru nggak cukup sekali dua kali melakukannya dalam sehari. Lah mereka sama sekali belum belah duren.


Rey membelokkan mobilnya ke sebuah toko pakaian, mereka berencana ingin membeli beberapa helai untuk ganti.


Alira pun memilih sebuah lingeri seksi, tanpa sepengetahuan Rey. Dia ingin memberi kejutan.


Dengan tersenyum manis Alira membawanya ke kasir sementara Rey masih melihat-lihat keperluan lain yang ingin dibelinya.


"Lho...mana belanjaan kamu Lir?" tanya Rey saat tiba di kasir tapi tidak melihat Alira membawa apapun.


"Sudah aku bayar kok Kak, cuma beli dua helai saja. Di sana banyak pakaian gantiku. Itu kan rumah keduaku Kak."


"Oh ya aku lupa. Sebentar ya, aku bayar ini dulu."


Rey membayar bill belanjaannya lalu merekapun bergegas menuju hotel milik keluarga Alira.


Alira memilih kamar paling lengkap fasilitasnya dan dia meminta sekretaris untuk mempersiapkan makan malam romantis dengan menu spesial yang bisa meningkatkan libido pria.


Tidak lupa Alira juga meminta Linda untuk membelikan vitamin penambah stamina. Malam ini akan menjadi malam spesial baginya dan Rey, jadi Alira mempersiapkan semuanya sebaik mungkin.


Merekapun tiba di hotel dan Alira tidak mau melepas gandengan tangannya. Dia langsung mengajak Rey menuju kamar yang sudah dipersiapkan untuknya setelah mengambil kunci di resepsionis.


Karyawan yang berpapasan semuanya menunduk hormat, mereka menghormati Alira sebagai pimpinan dan sekaligus anak dari pemilik hotel tersebut.


Alira merebahkan dirinya di kasur, dia ingin memanjakan tubuhnya sejenak sebelum pergi mandi.


Rey meletakkan belanjaan, lalu menelepon sang mama untuk memberitahu jika malam ini mereka menginap di hotel milik Alira.

__ADS_1


Mama Rey pun paham dan beliau hanya berpesan agar keduanya akur serta menikmati masa-masa kebersamaan mereka sebelum keduanya kembali fokus bekerja.


Rey pun mengakhiri panggilannya, lalu dia menyambar handuk ingin membersihkan diri sebelum berbaring.


"Kak, aku ikut ya. Kita mandi sama-sama!" pinta Alira.


"Ya sudah ayo, nanti ke buru Maghrib."


Dengan mengulas senyum, Alira pun menyambar handuknya dan berlari mengikuti Rey masuk ke kamar mandi.


Alira mengisi bathtub dengan air hangat, lalu dia memberi sabun dan tetesan minyak aromaterapi. Alira ingin mengajak Rey berendam sejenak untuk merilekskan tubuh mereka, sebagai persiapan nanti malam.


Tanpa malu, Alira pun membuka semua pakaiannya dan hal itu membuat Rey menelan saliva.


Kini pemandangan indah terpampang jelas di hadapan Rey dan Alira pun berinisiatif mendekat, ingin menggoda suaminya.


Alira membantu Rey melepaskan satu persatu pakaiannya dan kini keduanya pun merasakan aliran darah mereka semakin memanas.


Keduanya pun saling pagut, menikmati momen indah di sore menjelang maghrib itu.


Alira menarik Rey ke arah bathtub dan mereka berendam sembari memberi dan saling menikmati cumbuan-cumbuan mesra.


Senyum terus mengembang di wajah Alira karena dia tahu Rey menikmati permainan yang diciptakannya.


Di sini Alira merasa bebas, tanpa perlu cemburu atau merasa terganggu oleh kehadiran siapapun.


Lira berhasil menggantung hasrat Rey, hingga membuat suaminya itu penasaran.


Sebelum Rey menariknya kembali, Alira menyambar handuk lalu berlari keluar sembari berkata, "Nanti malam kita lanjutkan Kak, sabar ya, pasti akan lebih seru dan membuat Kakak ketagihan."


Rey mendesah, dia mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk menurunkan hasratnya yang hampir memuncak.


Setibanya Alira di kamar, dia terkikik, inilah momen kebersamaan indah yang selama ini dia inginkan.


Saat melihat Rey keluar dari kamar mandi Alira pun mencandainya, "Bagaimana Sayang, masih mau menolak?"


"Kamu ya, jahil banget sama suami. Awas, nanti malam aku terkam kamu tanpa ampun!" ancam Rey.


"Siapa takut, di cabik-cabik juga boleh!" tantang Alira yang sontak membuat Rey gemas.


Rey mendekat dan mengungkung tubuh Alira, lalu satu kecupan mesra mendarat di bibir merah muda yang semakin menantang.


Mereka kembali hanyut, saling pagut hingga terdengar suara ******* lolos dari mulut Alira.


Tapi kegiatan mereka terhenti saat mendengar derit ponsel berulang-ulang.


Rey pun mengambil ponsel yang terletak di atas nakas dan dia melihat sang Papa yang sedang menelepon.

__ADS_1


Rey menerima panggilan tersebut dan dia kaget saat sang papa memberitahu tentang kabar Sabrina.


"Rey, Sabrina sepulang kerja pingsan, wajahnya pucat sekali. Bisa tolong hubungi dokter agar kesini Rey! atau harus kami bawa saja ke rumah sakit?"


"Apa Pa, Rina pingsan? Sebentar Pa, biar Rey hubungi dokter Arin dulu ya!"


Rey pun menghubungi dokter Arin yang tinggalnya tidak jauh dari rumah mereka. Tapi sayang, dokter Arin sedang keluar kota.


Kemudian Rey menghubungi dokter Indra dan dokter Indra juga nggak bisa, saat ini sedang menangani pasien darurat.


Alira yang melihat wajah suaminya cemas, lalu bertanya, "Kenapa Kak? Ada apa dengan Sabrina?"


"Rina pingsan dan dua dokter terdekat sedang tidak ada di tempat."


"Kenapa nggak dibawa ke rumah sakit saja Kak? Kan lebih enak, alat-alat lengkap, jadi biar bisa cepat diperiksa secara akurat. Soalnya sudah lebih dari 3 kali, Ina pingsan dalam bulan ini."


"Kalau di bawa ke rumah sakit, siapa juga yang akan menungguinya Lir, nggak mungkin kan Mama atau Ibunya. Mereka juga saat ini sedang tidak enak badan."


"Jika kita di rumah, bisa kita yang menjaganya."


"Sebentar deh, aku telepon papa dulu, biar papa bisa minta tolong mang Ujang untuk memanggilkan dokter terdekat di sana."


Rey pun menelepon dan terdengar di sana suara sang papa serta mamanya sedang cemas, karena Rina belum juga sadar.


"Bagaimana jika Papa telepon Mario saja ya Rey? Jika memang harus di bawa ke rumah sakit, kita bisa minta tolong Mario sekalian untuk menjaganya."


"Nggak usah Pa, Sekarang juga kami pulang!"


"Tapi Nak, rencana kalian jadi terganggu."


"Nggak apa-apa Pa, kan masih ada hari esok. Ini darurat, harus di utamakan. Aku nggak mau Rina kenapa-kenapa Pa."


"Oh ya Pa, bilang ke Mama atau Bibi untuk baluri tubuh Rina dengan minyak kayu putih, biar hangat. Aku dan Alira sekarang juga berangkat."


"Oke Rey, kalian hati-hati ya!"


Alira yang mendengar Rey memutuskan kepulangan mereka secara sepihak menjadi sangat kecewa.


Malam ini rencana kencan dan malam pertama mereka gagal lagi. Itu semua gara-gara Sabrina.


Saat Rey meminta Lira bersiap, dia mendengus kesal dan memasang wajah cemberut.


Rey tahu istrinya saat ini sedang kecewa dan bahkan marah, tapi kesehatan Sabrina lebih penting di dahulukan dari urusan mereka.


Alira pun terpaksa menurut dan mereka sampai di rumah setelah menempuh perjalanan selama 40 menit.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2