MAAFKAN AKU, CINTA

MAAFKAN AKU, CINTA
BAB 45. MENCULIK UNTUK YANG KEDUA KALI


__ADS_3

Setelah mendapatkan kata sepakat, Nek Mawar meminta mereka untuk makan siang bersama.


Sementara Mario yang merasa kecewa dengan keputusan bersama tersebut, beralasan jika dia harus segera pergi.


Kini harapan Mario tinggal menanti Sabrina menjadi seorang janda.


Nek Mawar yang memahami perasaan Mario, mengelus punggung cucunya dan beliau pun berkata setengah berbisik, "Sabar Yo, jika Ina memang jodohmu, pasti kalian akan bersatu."


Mario hanya menghela nafas, dia tidak yakin apakah Rey akan mau melepaskan Sabrina, setelah bayi mereka lahir.


Tanpa sepengetahuan mereka, beberapa orang memata-matai tempat tersebut, mereka adalah orang suruhan Alira yang terlambat tiba.


Niat mereka untuk mencelakai serta menghalangi pertemuan tersebut gagal.


Alira mengamuk, dia melempar barang-barang yang ada di ruangan kerjanya hingga membuat sekretarisnya ketakutan.


Ruangan itu susah seperti kapal pecah dengan barang pecah yang berserakan di lantai.


Setelah mereka selesai makan, Mario pun pamit dengan membawa kue-kue yang akan dia antar.


Sementara Sabrina akan mengajak Ibu serta bundanya ke hotel tempat dia bekerja.


Bunda menolak karena mereka sudah dipesankan kamar oleh Papa Rey.


Akhirnya Ina pun mengalah dan dia berjanji malam ini akan menginap bersama ibu di kamar hotel.


Nek Mawar paham, dia tahu jika Sabrina saat ini pasti merindukan ibunya.


Setelah memasukkan kue-kue ke dalam mobil, dan pamit kepada Nek Mawar, ketiganya pun meninggalkan rumah tersebut menuju hotel.


Sabrina mengantar Bunda dan Ibunya dulu ke hotel, barulah kembali ke kantor.


Sedangkan orang kepercayaan Papa Rey langsung pergi setelah Bunda memberi izin.


Sesampainya di kamar hotel, Bunda menelepon Papa, lalu Rey. Untuk sementara Rey setuju, tapi nantinya Rey akan mencari cara agar perceraian tidak terjadi.


Rey tidak mau terpisah dari anaknya meski Sabrina sudah setuju tidak akan menghalangi pertemuannya nanti dengan sang bayi.

__ADS_1


Malam ini, Rey akan membicarakan hasil keputusan tersebut dengan Alira dan secepatnya dia segera berangkat untuk melangsungkan pernikahan.


Sementara orang-orang suruhan Alira, masih mengikuti Sabrina dan di tempat lengang mereka menyalib mobil yang Ina kendarai.


Sabrina terkejut, dia langsung mengerem mendadak. Belum sempat dia turun, dua orang telah mengetuk pintu mobilnya dan mengancam jika Sabrina tidak segera membuka pintu kedua orang itu akan membakar mobilnya.


Rasa takut akhirnya membuat Sabrina terpaksa menuruti kemauan orang-orang itu dan setelah pintu terbuka, keduanya pun langsung menarik Ina keluar.


Setelah itu, keduanya membawa Ina masuk ke dalam mobil dan membawanya pergi dari sana. Mulut Ina di sumpal kain, jadi dia tidak bisa berteriak.


Ina di bawa ke tempat yang jauh dari keramaian, lalu mereka menyekapnya di sebuah rumah kecil yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya.


Nek Mawar cemas saat hari telah malam, tapi Sabrina tidak juga kembali, lalu beliaupun menelepon Bunda ingin menanyakan apakah Sabrina langsung menemui mereka atau masih berada di hotel. Sebab sejak tadi ponsel Sabrina tidak bisa dihubungi.


Mendengar hal itu Bunda kaget, lalu beliau meminta tolong kepada orang-orang suruhan suaminya untuk mengecek Sabrina apakah masih ada di hotel tempatnya bekerja atau tidak.


Nenek juga menghubungi Mario dan Mario pun bergegas mencari Ina ke tempatnya bekerja.


Mereka tidak menemukan Ina di sana, bahkan security bilang sejak siang tidak melihat Sabrina kembali.


Semua cemas, mereka bersama-sama terus mencari, hingga Nek Mawar menelepon, memberitahu jika Risya telah di dihubungi oleh pihak kepolisian.


Di kantornya, Alira tertawa terbahak-bahak, dia senang akhirnya orang-orang suruhannya berhasil menculik Sabrina.


Malam ini Alira sengaja tidak pulang, dia ingin menginap di hotel milik keluarganya.


Rey yang tidak menemukan istrinya di rumah segera menelepon tapi tidak diangkat oleh Alira.


Kemudian diapun memutar balik mobilnya, menuju ke kantor Alira.


Diperjalanan, Rey menerima panggilan dari sang Mama dan dia sangat terkejut saat diberitahu jika Sabrina menghilang.


"Di mana kamu Na, apa mungkin kamu mau menghindari aku lagi. Agar kita tidak jadi menikah," monolog Rey sembari meraup kasar wajahnya.


Rey melajukan mobilnya semakin kencang, dia ingin segera membicarakan masalah Sabrina dengan Alira.


Setuju atau tidaknya Alira, tidak menjadi persoalan lagi bagi Rey karena dia harus tetap berangkat besok untuk mencari serta mempertanggungjawabkan kesalahan yang pernah dia lakukan.

__ADS_1


Namun jika Alira mau mengerti akan posisinya, Rey akan mengajaknya besok.


Setelah sampai, Rey sangat terkejut saat melihat ruangan Alira berantakan dan dia melihat Alira tertidur di sofa dengan tenangnya.


Saat kaki Rey menyenggol barang yang berserakan di lantai, Alira pun terbangun, dia memandang tajam ke arah Rey sambil berkata, "Ngapain Kakak kesini?"


"Ra, ayolah pulang. Kenapa ruanganmu seperti ini. Apa yang terjadi Ra?"


"Masih bertanya kenapa? hahahaha...Kakak keterlaluan! Kalian semua jahat! Nggak anak, nggak orangtua semua sama. Sabrina, awas kau! Kau telah merusak rumah tanggaku! Aku tidak akan pernah memaafkan kalian!" teriak Alira sembari menangis dan sesekali tertawa.


Alira seperti orang gila, rambut acak-acakan dan dia kembali mencampakkan barang. Kali ini bantalan sofa dan langsung mengenai wajah Rey.


Rey mendekati Alira, lalu dia memeluknya sambil meminta maaf.


"Ra, tenanglah. Maafkan aku Ra, semua ini di luar kuasaku. Semua sudah terjadi dan jalan satu-satunya adalah bertanggungjawab. Apa kamu tega melihat anakku lahir tanpa ayah?"


"Itu bukan urusanku! Sabrina bisa menikah dengan orang lain! Tidak harus menikah dengan Kakak. Itu jika dia masih menganggapku teman."


"Tidak bisa seperti itu Ra, bayi itu anakku dan dia harus menyandang namaku. Lagipula dia cucu pertama di keluarga Aditama."


"Jadi anakku bagaimana?"


"Kamu....kamu hamil Ra?"


"Ya, aku hamil. Selama ini kalian memang tidak pernah peduli, yang kalian pedulikan hanya Sabrina, Sabrina dan Sabrina. Aku tidak berarti apapun di keluarga kalian!" ucap Alira.


"Alhamdulillah jika kamu hamil Ra, terimakasih kamu telah memberiku kebahagiaan. Aku menyayangi kalian," ucap Rey sembari menciumi Alira.


"Lepaskan aku! Sekarang juga kakak harus memilih, aku atau Sabrina!"


"Tapi Ra, aku harus tetap bertanggungjawab. Aku akan menikahi Sabrina demi bayi itu. Dan aku akan tetap bersama kalian."


"Aku tidak mau, jika Kakak menikahi Sabrina, ceraikan aku! Aku akan pergi membawa anakku ini."


"Ra, tolonglah, izinkan aku. Aku akan menceraikan Sabrina setelah bayi kami lahir. Dan setelah menikah, aku akan tetap bersama kalian bukan bersama Sabrina."


"Pokoknya aku tidak mau. Aku tidak akan pernah membagi milikku kepada siapapun. Lepaskan aku Kak! pergilah dan jangan temui aku lagi jika Kakak menikahi Sabrina," ucap Alira yang kekeh dengan pendiriannya.

__ADS_1


Rey bingung harus bagaimana, dia tidak bisa mengabaikan Sabrina apalagi saat ini dia kembali menghilang.


Bersambung....


__ADS_2