
Di dalam kamar, Rey tidak bisa tidur, pikirannya tertuju kepada hasil pemeriksaannya tadi.
Rey bolak balik ke kamar mandi, membasuh muka agar pikirannya jernih kembali.
Sambil membasuh wajah, Rey bermonolog, "Mana mungkin Sabrina hamil, aku pasti salah mendiagnosa. Kalaupun hamil, dengan siapa? punya pacar saja tidak, dijodohin ogah-ogahan. Aduh Rey, kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Kamu pasti salah periksa Rey!"
Rey mengelap wajah dengan handuk, langkahnya terhenti saat terbersit di pikiran, "Lantas, bagaimana nasib wanita itu? Apakah dia juga hamil? Apa dia menggugurkan kandungannya atau malah merawat, melahirkan serta membesarkannya tanpa suami?"
"Argh... kepalaku pusing!"
Pikiran Rey bukannya semakin jernih malah makin kusut.
Sementara Alira sudah tertidur pulas, saat ini hatinya sedang berbunga-bunga karena sebentar lagi mereka akan pergi berbulan madu. Alira yakin jika Rey bersungguh-sungguh dengan janjinya.
Dan Alira sudah memilih tempat yang indah, suatu pulau terpencil serta susah signal di sana.
Dia ingin mengajak Rey melupakan urusan pekerjaan serta yang lainnya untuk sementara, dengan fokus menciptakan momen-momen indah mereka berdua tanpa ada yang mengganggu.
Pikiran Rey menerawang, teringat kejadian saat dia merenggut kesucian seorang gadis yang sampai saat ini tidak juga Rey ketahui siapa dan dimana gadis itu tinggal.
Rey juga masih penasaran dengan hasil diagnosanya tadi. Besok pagi, dia berencana akan memeriksa Rina lagi, apakah hasilnya masih sama atau dia yang salah mendiagnosa.
Jika perlu, Rey akan menghadirkan dokter spesialis kandungan, tentunya tanpa memberitahu identitas dokter itu kepada siapapun. Dia akan menyelidiki masalah itu sendiri.
Karena lelah berpikir, akhirnya Rey pun tertidur hingga subuh pun tiba.
Pagi ini Alira bangun lebih awal, dia ingin membuatkan kopi untuk Rey dan membantu memasak sarapan, meski ada pelayan yang menggantikan tugas Sabrina.
Sabrina memang meminta kepada Bunda, tugasnya setiap pagi adalah memasak sarapan untuk mereka semua.
Karena untuk mengurus kebutuhan siang serta malam, tentu saja Sabrina tidak memiliki waktu, kecuali saat libur bekerja.
Bunda tidak pernah mempermasalahkan hal itu, karena mereka pun tidak kekurangan pembantu.
Pagi ini, seperti biasa Rey selalu ke dapur untuk menikmati kopi dan dia sangat senang, saat melihat Alira mulai mengerti akan tugasnya.
Rey pun memeluk Alira, lalu memberikan sebuah kecupan selamat pagi.
__ADS_1
"Pagi Sayang, emmuach. Inikah kopi untuk ku?
"Iya dong, masa buat mang Ujang," jawab Alira sembari memanyunkan bibirnya.
Rey pun menyeringai, lalu diapun mulai menyeruput kopi buatan istrinya. Rey terbatuk dan kopi pun muncrat dari mulutnya hingga membuat Alira terkejut dan tentu saja khawatir.
"Kenapa Kak? Pelan-pelan dong. Masa minum kopi bisa tersedak. Nih minum air putih dulu," ucap Alira sembari menyerahkan segelas air mineral.
Rey tersedak karena kopi itu sangat kental dan pahit, Alira belum terbiasa dan belum mengerti berapa banyak takaran pembuatan yang pas untuk lidah Rey.
"Ayo di minum lagi kopinya Kak, nanti keburu dingin nggak enak."
"Iya Sayang, sebentar lagi ya. Tenggorokan ku masih berasa tidak enak," alasan Rey.
Biasanya jika kopi itu buatan Sabrina, hanya beberapa kali teguk saja, sudah langsung habis.
Melihat kopi dalam gelas masih banyak, Alira pun langsung mengacungkannya lagi.
"Ayo dong Kak, ini dihabiskan. Mubazir, dosa lho!"
"Iya deh, ini aku minum."
Masalahnya saat ini, Rey sendiripun tidak tahu bagaimana dan berapa sendok takarannya. Rey akan menanyakannya nanti, saat dia memeriksa kondisi Rina.
Rey hampir muntah dan kini tenggorokannya terasa sangat pahit. Lalu diapun berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya.
Mendengar Rey muntah, Alira pun mengikutinya.
"Kak kenapa? Nggak enak ya kopi buatan ku?" tanya Alira yang merasa bersalah.
"Enak kok, tapi belum pas aja di lidah, nanti kita tanya Rina ya, berapa takaran yang biasa dia buat."
"Oh, memangnya cuma dia yang bisa membuatnya di sini? Apakah para pembantu nggak ada yang tahu Kak?"
"Nggak, soalnya sejak awal aku minum kopi hingga sekarang, Rina yang selalu membuatnya. Dan aku tidak pernah mau jika orang lain yang menyajikan, bagiku rasanya selalu berbeda meski dengan resep dan takaran yang sama."
Alira terdiam, jadi percuma saja jika diapun tahu takaran pembuatannya tapi Rey akan tetap memuji kopi buatan Sabrina.
__ADS_1
Rey tidak menyadari akan diamnya sang istri, lalu dia iseng mencicip nasi goreng yang ada di tangan Alira.
Rey berhenti mengunyah, lalu dia menjulurkan lidah dan mengipas-ngipas mulutnya.
Alira kembali merasa bersalah, mungkin tadi dia kebanyakan menaburkan bubuk merica.
"Maaf ya Kak, aku tidak pandai memasak," ucap Alira sembari tertunduk.
"Sudahlah nggak apa-apa, masih bisa belajar. Besok minta ajari Ina atau Bibi ya, soalnya papa dan mama juga terbiasa dengan masakan mereka," ucap Rey sembari menangkup dan menengadah wajah sang istri.
Satu kecupan dari Rey, berhasil mengurangi rasa malu, rasa bersalah dan juga rasa kecewa Alira.
"Nasi gorengnya, tidak usah di makan lagi, nanti sakit perut. Kita pesan makanan saja, jika harus memasak lagi, rasanya terlalu repot dan pasti akan kesiangan. Papa mama sebentar lagi pasti akan turun untuk sarapan."
"Iya Kak, sebentar ya aku ambil ponsel dulu. Oh ya mau pesan makanan apa Kak dan mama papa sukanya makan apa?"
"Bubur ayam saja Lir, biar nggak repot. Lagipula sekalian untuk Rina yang sedang sakit. Oh ya, kamu 'kan mau ke kamar, tolong sekalian ambilkan peralatan ku ya, aku mau mengecek kondisi Rina."
Alira tidak menjawab, dia hanya mengangguk, lalu meninggalkan Rey, berjalan menuju kamar.
Sebenarnya hati Alira sedikit kesal, lagi-lagi yang dipikirkan oleh Rey, Ina dan hanya Ina bukannya ditanya Alira ingin sarapan apa.
Alira mendesah, dengan dongkol diapun memesan 6 porsi bubur ayam melalui aplikasi online, lalu dia keluar kamar sembari membawa tas alat-alat kedokteran Rey.
Rey tidak tampak ada di manapun, lalu Alira menuju ke paviliun di mana Sabrina dan ibunya tinggal.
Benar saja, Rey sedang duduk di kamar Sabrina dan sekarang mereka sedang tertawa bersama.
Rasa cemburu kembali hadir di hati Alira, kenapa Rey bisa tertawa begitu lepas saat bersama Ina dan ketika bersama Alira, Rey hanya tertawa sewajarnya saja.
"Maaf ya Kak, apakah kedatangan ku mengganggu?"
"Eh, sini Sayang. Siapa yang bilang kedatanganmu mengganggu? kami hanya teringat kenangan masa kecil."
"Dulu jika Rina sakit, aku akan menggendongnya kemanapun dia mau dan aku akan menuruti apa yang Rina minta, meski terkadang harus mencuri buah di kebun tetangga."
Rey kembali tertawa dan dia merindukan masa-masa itu. Masa disaat dirinya bermain, belajar dan terkadang menjahili orang-orang bersama Sabrina.
__ADS_1
Bersambung......