MAAFKAN AKU, CINTA

MAAFKAN AKU, CINTA
BAB 48. KEJUTAN TERINDAH


__ADS_3

Rey mendapatkan informasi dimana lokasi nomor kontak tersebut terakhir digunakan tapi dia kembali kecewa saat cek lokasi ternyata hanya sebuah rumah makan kecil tempat persinggahan orang yang melintas di sana.


Akhirnya Rey pun kembali ke hotel tempat mamanya menginap tanpa mendapatkan petunjuk lain.


Alira marah besar kepada orang-orang suruhannya, dia menampar keduanya dan tidak memberikan sisa pembayaran yang dia janjikan.


"Dasar kerja kalian tidak becus! ngurus perempuan lemah satu saja tidak bisa! Pergi kalian sebelum aku berubah pikiran!"


Keduanya pun pergi sambil mengelus pipi mereka yang sakit akibat tamparan Alira.


Alira kembali ke tempatnya menginap, lalu dia menelepon sang mertua untuk mencari info apakah Sabrina sudah ditemukan atau belum.


Saat mama mengatakan jika tidak ada kabar apapun mengenai Sabrina, Alira pun terlihat gembira.


Malam ini Alira bisa tidur dengan nyenyak dan besok dia berencana kembali ke Jakarta karena orangtuanya sudah pulang dari Turki.


Mama juga memberitahu Papa jika pencarian mereka gagal dan mama melarang papa untuk menyusul mereka.


Dalam tiga hari kedepan jika tidak menemukan Sabrina, mereka akan pulang.


Rey juga kecewa tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah ikut keputusan mama.


Tapi Rey tetap meminta tolong sahabatnya untuk sesekali mengecek rumah Nek Mawar berharap Rina akan kembali setelah mereka pulang.


Waktupun terus berlalu, Sabrina sudah tenang tinggal ditempatnya yang baru. Dia memilih hidup sendiri dan merawat bayi laki-lakinya yang telah lahir dengan sehat.


Mario sering mengunjunginya dan dia menganggap bayi itu seperti putranya sendiri.


Kehidupan Rey dengan Alira juga berjalan baik tapi mereka belum juga diberi momongan.


Alira sudah berobat ke banyak dokter spesialis dan ternyata para dokter mengatakan jika rahimnya lah yang tidak subur.


Berbagai pengobatan alternatif juga sudah Alira jalani tapi hasilnya masih sama.


Alira putus asa dan dia hidup dalam ketakutan karena Rey tidak juga menghentikan pencariannya terhadap Sabrina serta sang baby. Rey merasa yakin jika bayinya telah lahir dan tumbuh sehat di suatu tempat bersama Sabrina.


Sejak Sabrina menghilang Ibu juga tidak menerima kabar apapun dari Sabrina hingga beliau mendapatkan pesan jika Sabrina akan segera kembali untuk menjemput beliau.


Sabrina juga mengatakan jika dia akan mencari Rohit, anak yang dulu telah menolong dirinya. Dan yang telah dia janjikan untuk membawanya serta saat Ina sudah memiliki sebuah rumah.

__ADS_1


Mario juga senang karena akhirnya Sabrina menerima lamarannya dan mereka akan menikah saat ibu sudah tinggal bersama Sabrina.


Nek Mawar yang mendengar kabar tersebut ikut bahagia, karena beliau selama ini sudah kehabisan akal membujuk Mario agar menyerah dan mencari wanita lain sebagai pendampingnya.


Kekerasan hati serta kesabaran Mario ternyata tidak sia-sia, dia berhasil membuat Sabrina menyerah dan mau menerima lamarannya.


Sebelum Sabrina pulang ke Jakarta, mereka terlebih dahulu bertunangan di rumah Nek Mawar dengan disaksikan oleh kedua orangtua Mario.


Sementara Restu dari Ibu hanya lewat telepon saja karena beliau tidak mungkin meninggalkan rumah bunda sebelum Ina datang menjemput.


Sabrina sudah menjelaskan semuanya kepada Ibu bahwasanya selama ini dia menghilang semata demi kebaikan rumahtangga Rey dan Alira.


Sekarang Ina berani kembali karena dia sudah memiliki Mario dan merasa siap untuk mempertemukan bayinya kepada ayah serta nenek kakeknya.


Ina tidak akan menghalangi Rey untuk memberikan kasih sayang kepada bayi mereka, karena dia juga tahu bagaimana rasanya sejak kecil tidak mendapatkan kasih sayang dari sosok seorang ayah.


Dengan ditemani Mario, Sabrina kembali ke Jakarta dan kehadirannya di depan pintu rumah Rey jelas saja membuat Bunda sangat terkejut.


Beliau menitikkan air mata saat melihat anak dalam gendongan Sabrina yang wajahnya sangat mirip dengan Rey.


Dan tanpa menunggu persetujuan dari Sabrina Bunda langsung memeluk keduanya.


Sabrina mengangguk dan ikut menitikkan airmata, sebenarnya dia merasa bersalah karena selama ini telah menjauhkan putranya dari keluarga yang memang berhak atas diri Royan Aditama.


"Terimakasih Na, kamu telah membawanya kesini. Siapa nama cucu eyang yang ganteng ini?" tanya Bunda sembari menggendong Riyan yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


Riyan tidak takut sama sekali, bahkan dia terlihat senang sembari menyandarkan kepalanya di bahu Bunda.


Sabrina memberitahu Riyan jika harus memanggil Bunda dengan sebutan eyang.


Riyan yang sudah bisa berbicara tapi masih cadel dengan lucunya memberitahu jika dirinya bernama Riyan dan dia memanggil eyang hingga membuat Bunda kembali menangis.


Rey yang saat itu baru sampai rumah dengan membawa kopernya terpaku saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya.


Dia seperti bermimpi saat melihat sang Bunda menggendong seorang anak dan di sebelahnya berdiri Sabrina sembari tersenyum melihat kelucuan Riyan yang tertawa di goda oleh sang eyang.


Tidak terasa air mata Rey pun menetes, kerinduannya akan kehadiran seorang anak serasa terobati.


Rey menjatuhkan kopernya lalu diapun mendekati sang Bunda dan langsung memeluk Riyan hingga mengejutkan mereka semua yang ada di sana.

__ADS_1


Riyan menolak tapi setelah Sabrina mengatakan jika Rey adalah papanya, Riyan pun membalas pelukan Rey.


Keduanya saling berpelukan seakan mereka tidak mau dipisahkan lagi.


Rey melambung-lambungkan Riyan ke udara dan tawa Riyan pun pecah. Suasana haru seketika berubah menjadi tawa bahagia. Riyan adalah kejutan terindah bagi Rey dan keluarganya.


Setelah memberikan Riyan kembali kepada sang Bunda, Rey mendekati Sabrina dan dia mengatupkan kedua tangannya sembari berkata, "Terimakasih Na, telah mau mempertemukan kami. Maafkan aku, maaf atas semua kesalahanku."


Ibu yang baru mengetahui dari pelayan jika Ina sudah sampai langsung memeluk putrinya.


Kerinduan bertahun yang beliau pendam akhirnya tumpah bersamaan dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi.


Sabrina menangis, dia meminta maaf karena dipaksa oleh keadaan hingga mengabaikan ibunya yang kini terlihat semakin renta.


Kemudian ibu memeluk Riyan, beliau begitu bahagia melihat sang cucu tumbuh sehat, tampan serta menggemaskan.


Rey, menarik kerah baju Mario dan berkata, "Aku ingin bicara, kamu harus membayar waktuku yang hilang untuk menyayangi putraku!"


Mario tidak menjawab apapun selain mengikuti Rey yang berjalan menuju gubuk kecil yang ada ditengah taman.


Sabrina memperhatikan mereka tapi dia tidak ingin ikut campur kecuali jika Rey menyakiti Mario.


Bunda pun mengajak Ina masuk dan beliau langsung menelepon Papa Rey, memberitahu jika Sabrina dan cucu mereka datang.


Papa bergegas, beliau tidak peduli jika harus meninggalkan ruang rapat. Beliau ingin segera menimang sang cucu yang selama ini juga Papa harapkan.


Sabrina yang tidak melihat Alira ada di sana menjadi penasaran, lalu diapun bertanya kepada Bunda tentang keberadaan sahabatnya itu.


Bunda terdiam, lalu dengan menghela nafas beliaupun berkata, "Alira sudah 3 bulan pergi meninggalkan Rey dan dia telah memutuskan untuk menetap di Turki bersama orangtuanya."


"Alira telah mengirimkan gugatan cerainya Na, tapi Rey belum menandatangani surat tersebut. Rey masih berharap rumah tangganya akan kembali baik, tapi Bunda tidak yakin akan hal itu."


"Kenapa Bun? kenapa Alira melakukan hal itu?"


"Entahlah Na, Alira bilang dia sudah tidak mencintai Rey lagi dan dia ingin mengembangkan karirnya di sana. Dia juga bilang, Rey cuma penghambat untuk kemajuan karirnya."


Sabrina mendesah, dia tidak menyangka jika pernikahan Rey bakal berakhir, padahal selama ini Ina menyangka jika pernikahan sahabatnya itu akan baik-baik saja, jika dia dan Riyan tidak muncul di kehidupan Rey.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2