
"Nah, ini baru Sabrina ku. Kamu cantik bila tersenyum seperti itu," puji Rey.
Sabrina tidak menanggapi perkataan Rey, dia asyik mengotak-atik ponselnya.
Rey menatap lekat Sabrina, dia ingin membuat gadis itu tersenyum seperti biasanya.
Dan Rey mempunyai ide untuk mengajak Sabrina jalan nanti malam dengan alasan membeli buku.
"Rin, temani aku ntar malam ya! Aku mau ke toko buku, ada buku yang ingin aku beli. Aku traktir kamu deh, terserah mau apa, yang penting temani aku," pinta Rey.
"Ma-aaf Rey, aku tidak ikut. Aku tidak bisa!" jawab Sabrina gugup.
"Kenapa? biasanya kamu paling suka jika aku ajak ke sana?" tanya Rey heran.
Sabrina menggeleng, dia benar tidak bersemangat, apalagi untuk jalan berduaan saja dengan Rey.
Hal itu sangat tidak mungkin lagi Sabrina lakukan, setelah perbuatan buruk yang Rey perbuat malam itu.
"Kenapa Rin? kamu benar aneh deh, hari ini? Bukan seperti Rina ku yang selalu ceria dan bersemangat."
"Aku lelah Rey, lagipula ada pekerjaan yang harus ku selesaikan. Kamu ajak Lira saja ya! Maaf, ayo kita menghadap dulu, itu... dengarlah! kita sudah dipanggil," ucap Sabrina.
Suara Adzan maghrib telah menyelamatkan Sabrina dari desakan Rey.
Rey pun terpaksa kembali ke kamar, dia bingung menghadapi perubahan sikap Sabrina. Rey mengacak-acak rambut dan menggaruk kepalanya, padahal tidak ada yang gatal.
Sembari menyiapkan peralatan ibadah, Rey pun bermonolog, "Sebenarnya ada apa dengan Sabrina? kenapa sepertinya dia ingin menghindari ku!"
"Sebaiknya aku tunaikan ibadah dulu, setelah itu baru temui ibu. Barangkali beliau tahu kenapa Sabrina bersikap aneh hari ini," monolog Rey lagi lalu bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu.
Di kamar, Sabrina juga tengah menjalankan ibadah. Dan dalam sujudnya, dia menangis, meminta ampun atas kejadian yang tidak pernah dia duga dan juga tidak pernah dia minta.
Setelah selesai, Sabrina pun duduk sambil memandangi tasnya. Dia harus segera meminum obatnya, sebelum benih itu terlanjur tumbuh di dalam rahimnya.
Sabrina membuka tas, lalu mengeluarkan isinya, tanpa pikir panjang lagi diapun meminum obat serta memakan nenas muda beserta tape secara bergantian.
Belum selesai Sabrina memakannya, terdengar suara ketukan di pintu kamar.
Sabrina buru-buru mengelap tangan serta mulutnya, lalu menyimpan sisa makanan tersebut ke dalam kantongan plastik dan memasukkannya ke dalam tas seperti semula.
Terdengar suara Ibu memanggil untuk mengajaknya makan malam bersama keluarga Rey.
Sabrina membuka pintu, lalu dia berkata, "Maaf ya Bu, Ina nanti saja makannya. Saat ini, masih kenyang dan jika lapar, nanti Ina akan ambil sendiri di dapur."
__ADS_1
Ibu Murni pun tidak bisa memaksa, lalu beliau kembali ke ruang makan untuk bergabung dengan yang lain.
Rey yang melihat ibu datang tanpa Sabrina pun bertanya, "Lho, Sabrina mana Bi? Kenapa tidak ikut makan?" tanya Rey.
"Katanya nanti saja Den, dia belum lapar."
"Bi, hari ini Sabrina kenapa ya? Sikapnya sangat aneh," tanya Rey.
"Entahlah Den, sejak pulang tadi pagi, sikapnya memang aneh. Dia bilang lelah dan sedang tidak enak badan," jawab Bu Murni.
"Oh, begitu ya Bi."
"Ma, Pa dan Bibi, kalian makanlah dulu, biar aku bawa makanan ke kamar Rina. Aku akan temani dia makan, setelah itu biar aku periksa dan beri obat."
"Mudah-mudahan saja, Rina memang hanya kelelahan dan tidak sedang ada masalah," ucap Rey sambil menyendok makanan ke dalam piring yang ada di tangannya.
Kemudian Rey membawa makanan tersebut menuju kamar Sabrina. Dia mengetuk pintu berharap Sabrina akan segera membukanya.
Sabrina berpikir ibunya datang lagi, lalu diapun buru-buru membukakan pintu. Sabrina pun terkejut saat yang dia lihat bukan ibu, tapi Rey yang membawa dua piring makanan.
Rey tersenyum, lalu berkata, "Yuk kita makan Rin! Aku temani kamu."
"Ngga Rey, aku ngga mau makan. Pergilah, aku mau istirahat!" ucap Sabrina sembari hendak menutup kembali pintu kamarnya, tapi langsung ditahan oleh kaki Rey.
nanti sakit. Jika memang ada masalah, selesai makan aku siap mendengarnya. Tak baik lho, memendam masalah."
"Ngga ada kok Rey, Aku tidak memendam masalah, jadi tolong, keluarlah! Dan bawa makanan itu pergi!"
"Serius Rey, aku masih kenyang, tadi sempat makan gorengan. Jika nanti lapar, aku pasti akan mengambilnya sendiri!" ucap Sabrina lagi.
"Ngga Rin! Jika kamu tidak makan, aku juga tidak akan makan. Dan aku akan tetap di sini, meski sampai besok pagi!" ucap Rey sambil meletakkan makanan di atas meja, lalu Rey pun berbaring di atas kasur Sabrina.
Sabrina panik, tasnya saat ini ada di dekat tangan Rey dan masih dalam keadaan terbuka. Bisa saja Rey melihat isinya yang belum sempat Rina sembunyikan.
Karena panik, emosinya pun naik dan dengan nada tinggi Sabrina pun berkata, "Aku bilang tidak, ya tidak Rey! Kenapa sih, kamu sukanya maksa? Aku benci kamu Rey!" bentak Sabrina sambil menangis dan menarik tangan Rey agar turun dari kasurnya.
Tubuh Sabrina gemetar dan tangisnya makin histeris.
Rey terkejut dan dia berusaha menenangkan Sabrina. Rey tidak pernah melihat Sabrina bersikap seperti itu, apalagi terhadap dirinya.
Diapun akhirnya yakin, jika Sabrina saat ini pasti sedang memiliki masalah yang berat.
Rey merengkuh tubuh Sabrina yang pucat dan gemetar ke dalam pelukannya. Dia berharap, bisa membuat gadis itu tenang.
__ADS_1
Tapi, ternyata Rey salah, Sabrina malah meronta dan mendorongnya, hingga dia hampir saja terjungkal.
Rey mengatur keseimbangan tubuhnya, lalu kembali memeluk erat Sabrina yang masih saja menangis.
Sabrina pun terkulai lemas dan tubuhnya luruh tidak sadarkan diri.
Rey terkejut, lalu dia mengangkat serta membaringkan tubuh Sabrina di atas kasur.
Setelah itu, Rey pun berlari ke kamar untuk mengambil alat-alat kedokterannya.
Bunda, Papa dan Ibu yang mendengar suara teriakan Sabrina, bergegas datang.
Mereka terkejut saat melihat Sabrina terbaring dengan wajah pucat dan tidak sadarkan diri.
Ibu yang merasa khawatir dan panik pun menangis sambil mengguncang-guncang tubuh Ina.
"Kamu kenapa Nduk? Apa yang terjadi?"
Rey yang sudah tiba sambil membawa alat kedokterannya, meminta ibu untuk mundur, agar dia bisa segera memeriksa kondisi Sabrina.
"Sebenarnya ada apa Rey? Kenapa tadi Sabrina berteriak dan sekarang malah pingsan?" tanya Bunda.
"Entahlah Ma, Rey pun bingung, Sabrina menolak untuk makan dan bahkan mengusirku," ucap Rey sambil membuka kancing baju atas Sabrina, agar dia bisa menempelkan stetoskop di sana.
Rey memeriksa denyut nadi di tangan serta tekanan darah Sabrina, tapi semua hasilnya terlihat normal.
Kemudian Rey berpikir sejenak, mentela'ah apa sebenarnya yang Sabrina alami. Kenapa Sabrina sepertinya tertekan saat tadi bersamanya.
Ibu pun mendekati Rey, lalu bertanya, "Bagaimana keadaan Sabrina Den?"
"Kondisinya lemah Bi, sepertinya saat ini Sabrina sedang tertekan. Mungkin ada masalah di tempat kerjanya."
"Kamu yakin Nak, nggak ada penyakit lain yang serius?" tanya Papa.
"Sejauh ini tidak ada Pa, tapi kita lihat perkembangan setelah Sabrina sadar," jawab Rey.
Rey mengoleskan minyak kayu putih ke bagian hidung, dia dan yang lain berharap Sabrina akan segera sadar.
Beberapa saat kemudian, Sabrina pun sadar, lalu ibu memberinya minum air hangat dan menawarkan makanan.
Sabrina hanya menggeleng. Dan ketika Rey juga menawarkan diri untuk menyuapinya, Sabrina memalingkan wajah, dia ingin menghindar dari tatapan mata Rey.
Bersambung.....
__ADS_1