
Setelah mendapatkan izin dari ibu, Sabrina segera menemui Bunda dan Papa yang kebetulan saat ini belum berangkat ke kantor.
"Kesini Nak, duduklah dekat Bunda, kamu sudah baikan? Kebetulan kamu ke sini, ada yang ingin Bunda tanyakan," pinta Bunda saat melihat Sabrina datang.
"Iya Bun, Apa nak cakap Bun?"
"Tentang Mario. Mario dan mamanya menanyakan kamu, mereka ingin jawaban darimu Na. Jika kamu bersedia, mereka akan datang untuk melamar sebelum Mario kembali bertugas keluar kota."
Sabrina diam, seandainya saja dia masih Ina yang dulu mungkin saat ini dia akan menerima lamaran tersebut.
Sekarang nggak ada lagi yang bisa Ina banggakan, jadi tidak mungkin Sabrina mempermalukan diri.
Melihat Ina diam, Bunda pun kembali bertanya, "Bagaimana Na? kok diam?"
"Maaf Bun, Ina belum siap. Lagipula sore ini Ina akan ke luar kota. Ina dipindah tugaskan Bun."
"Keluar kota? Kenapa mendadak Na? kamu kan lagi sakit? Apa tidak bisa tetap bekerja di sini?"
"Nggak Bun, di sana sedang butuh seorang manajer untuk menggantikan manajer lama yang berhenti karena ingin ikut suaminya pindah tugas."
"Aduh Nak, Bunda bakal kangen dan kesepian dong, apalagi Rey dan Alira sebentar lagi akan pergi bulan madu."
"Nanti Ina bakal sering telepon kok Bun, lagipula Ibu juga masih tinggal di sini. Ina titip Ibu ya Bun, Inshaallah jika betah, tahun depan Ina berencana ingin kredit rumah dan Ina baru akan bawa ibu. Saat ini ngekos dulu."
"Ibu biar di sini saja ya Na, temani Bunda. Kamu saja yang pulang jika rindu. Nanti, kalau kalian pindah semua, pasti bakal jarang kesini."
"Kita lihat situasi ke depan ya Bun, apa Ina betah atau tidak."
"Kalau begitu Papa telepone Rey dulu ya Na, agar mereka pulang dan mengantarmu ke bandara," ucap Papa.
"Nggak usah Pa, nggak enak ganggu mereka terus. Tadi malam rencana mereka batal gara-gara Ina, masa iya hari ini harus batal lagi. Mereka butuh waktu untuk berduaan, Pa. Ina titip salam saja buat mereka dan Ina akan doakan semoga pernikahan mereka bahagia dan langgeng."
"Amiin. Ya sudah Nak, kami doakan semoga kamu sukses di sana. Jangan lupa sering kirim kabar."
"Iya Pa. Ina permisi dulu ya Pa, Bunda. Ina mau bersiap."
"Nanti Papa yang antar ke bandara Na, sekalian mau temui klien. Papa hari ini nggak ke kantor."
"Terimakasih Pa, Ina nggak mau merepotkan. Udah pesan taksi langganan Pa."
"Oh, pokoknya hati-hati di sana ya."
__ADS_1
"Sebentar Bunda kabari Mario dulu Na, barangkali dia ingin bertemu kamu sebelum berangkat."
"Nanti aja kalau Ina pulang Bun, biar kami ketemuan."
"Oh ya sudah. Pergilah bersiap, Bunda mau ke pasar dulu, jangan berangkat dulu sebelum Bunda pulang ya."
"Iya Bun."
Sabrina pun kembali ke kamar lalu dia duduk memandangi ruangan itu. Ntah kapan dia akan menginjakkan kaki di rumah itu lagi.
*
*
*
Sabrina selesai bersiap dan Ibu memberikan sebuah liontin, cincin dan gelang untuk Ina.
"Bawa dan simpan ini Nak, mana tahu kamu butuh jual saja. Ibu sengaja menyimpan itu buatmu."
"Nggak usah Bu, ibu simpan saja. Ina masih ada tabungan."
Akhirnya Sabrina pun menyimpan seperangkat perhiasan tersebut, lalu dia memeluk Ibu sembari menangis. Ibu juga ikut menangis, dia terpaksa mereka kepergian putrinya demi kebaikan bersama.
Ina pun keluar kamar diiringi Ibu dan ternyata Bunda juga sudah ada di ruang depan sembari membawa bekal makanan untuk diberikan kepada Sabrina.
Sabrina memeluk Bunda dan tangispun kembali pecah. Setelah berpamitan diapun menuju taksi yang sudah menunggu diluar.
"Selamat tinggal semuanya, maaf jika Ina telah mengecewakan kalian," monolog Sabrina sembari menutup pintu taksi.
Ina melambaikan tangan, dadanya serasa sesak menahan tangis. Sabrina pergi meninggalkan orang-orang yang sangat dia cintai untuk waktu yang mungkin lama.
Taksi melesat menuju bandara dan tidak lama, pesawatnya pun, tinggal landas membawa Sabrina ke tempat di mana dia akan memulai perjalanan hidupnya yang baru.
Sabrina memejamkan mata, airmatanya terus meleleh hingga membuat penumpang yang duduk di sebelahnya pun memberikan tissue untuknya.
"Hapuslah air matamu Nak, kamu baru pertama kali ya meninggalkan keluarga?"
"Nenek, dulu juga seperti mu, tapi sekarang sudah terbiasa terbang kesana kemari tanpa menangis dan di tangisi."
"Sekarang teknologi sudah canggih, kita bisa komunikasi, bisa saling tatap wajah meski jarak jauh memisahkan."
__ADS_1
"Iya Nek, terimakasih ya Nek," ucap Sabrina sembari menerima tissue yang diberikan oleh sang nenek.
Sabrina membersihkan wajahnya, lalu mengelap cairan bening yang menyumbat hidungnya. Lalu diapun melanjutkan obrolan dengan nenek yang sangat ramah dan juga baik.
Ternyata tujuan mereka sama yaitu ke kota Bali. Bahkan nenek Mawar menawarkan agar Sabrina tinggal saja di rumahnya karena dia hanya tinggal sendiri di sana.
Anak dan cucu nenek semuanya tinggal di luar kota. Jadi beberapa bulan sekali dia akan mengunjungi mereka atau mereka yang akan datang mengunjunginya jika cuti atau liburan sekolah.
Sabrina bersyukur ada orang baik yang dia temui di saat dirinya sedang sedih dan tidak punya keluarga di perantauan.
Saat ini Sabrina memang belum memiliki tempat tinggal meski sahabatnya telah menawarkan agar dia tinggal di rumahnya.
"Nek, Ina mau tinggal bersama nenek, tapi Ina temui teman Ina dulu ya Nek. Dia yang menawarkan pekerjaan di hotel itu. Nanti setelah Ina menemuinya, Ina akan langsung ke rumah nenek."
"Alhamdulillah, nenek senang, akhirnya tidak kesepian lagi. Walau cucu nenek yang bekerja di Bali dua minggu sekali pasti datang, tapi tetap saja sepi."
"Dia paling lama berkunjung hitungan jam saja, dia sibuk bekerja di rumah sakit sebagai dokter kandungan."
"Wah, cucu-cucu nenek ternyata hebat, ada yang menjadi dokter dan juga pengusaha."
"Itu berkat didikan almarhum kakek dan juga anak-anak nenek yang selalu mengutamakan pendidikan mereka."
"Oh ya Nek, kenapa nenek tidak tinggal saja bersama mereka?"
"Nenek nyaman tinggal di rumah sendiri, banyak kenangan, suka duka kehidupan telah nenek lalui di sana."
"Lagipula tinggal di Jakarta nggak enak, banyak polusi dan kemacetan di mana-mana. Belum lagi kesibukan anak dan menantu, toh nenek juga tinggal sendirian di rumah hanya dengan pembantu. Nah, lebih baik 'kan jika tinggal di rumah sendiri."
"Iya Nek."
"Nenek juga punya kesibukan, membuat aneka macam kue kering untuk dititip ke warung dan beberapa toko, jadi tidak bosan di rumah."
"Nenek hebat, masih kreatif di hari tua, Ina jadi ingin banyak belajar dari nenek."
"Nanti nenek ajari buat kue ya dan beberapa keterampilan lain. Kita wanita harus mandiri, jangan hanya menengadahkan tangan kepada suami meski mereka mampu."
"Jadi, saat kita kehilangan mereka atau di saat ekonomi sedang terpuruk, kita bisa memenuhi semua kebutuhan hidup tanpa harus merengek bahkan mengemis kepada orang lain."
Sabrina pun salut dengan pemikiran sang nenek, dia jadi tidak sabar ingin cepat belajar, karena suatu saat nanti ilmu-ilmu itu pasti berguna untuknya.
Bersambung.....
__ADS_1