
"Kak, kita beli oleh-oleh dulu yuk sebelum pulang. Mumpung hari masih sore, sekalian jalan-jalan menikmati malam terakhir kita di sini."
"Ya, bersiaplah. Aku pesan taksi dulu."
Alira pun bergegas, berganti pakaian lalu merias wajahnya. Dia ingin tampil lebih cantik.
"Ayo Ra cepat, taksinya sudah menunggu."
"Iya Kak, sebentar. Ini masih pakai sepatu."
Rey pun mengenakan jaket, karena kondisi tubuhnya masih seperti meriang.
"Bagaimana penampilanku Kak?"
"Hemm, tolong deh Ra jangan terlalu menor. Lagipula kita hanya membeli oleh-oleh ngapain juga mesti berdandan seperti mau ke pesta."
"Ih, kakak nggak asyik! Aku kan berdandan seperti ini untuk Kakak, supaya Kak Rey nggak melirik wanita lain! Kalau nggak suka, ya sudah deh aku hapus!" ucap Alira sembari ngambek dan mengusap nya dengan tissue."
"Belakangan aku lihat sikapmu makin aneh Ra, kamu tidak seperti dulu. Kamu seperti anak-anak, gampang ngambek, suka marah dan terlalu posesif."
"Kakak yang buat aku berubah!"
"Aku? Memangnya apa yang aku lakukan Ra?"
"Pokoknya semuanya karena Kakak! Kak Rey cuma milikku, dan aku tidak akan membiarkan siapapun merusak rumah tangga kita, meskipun dia orang terdekat kita!"
"Nggak ada Ra yang mau merusak rumah tangga kita. Kamu itu jangan aneh-aneh. Aku lebih suka Aliran ku yang dulu ketimbang Alira yang sekarang," ucap Rey, sembari bergegas keluar kamar.
Rey lama-lama sebal juga melihat perubahan sikap Alira dan dia tidak mau menyimpan apa yang menjadi uneg-uneg hatinya. Lebih baik Alira tahu jika dirinya tidak menyukai perubahan pada diri Alira.
Melihat Rey sudah keluar, Alira pun buru-buru menyambar tas dan berkata, "Tunggu dong Kak! Aku kunci pintu dulu!"
Rey pun berhenti, dia tidak mau menambah masalah yang akan membuat Alira ngambek.
Alira pun bergelayut manja di lengan Rey, lalu berkata, "Maaf Kak, jika Kakak tidak suka dengan sikapku. Tapi, itu karena aku mencintai Kakak dan takut jika Kak Rey meninggalkan ku demi perempuan lain."
"Ra, Ra...siapa juga yang akan meninggalkan mu. Aku mencintaimu Ra, jadi aku mohon jangan berpikir yang aneh-aneh."
Alira tidak menjawab, tapi dalam batinnya dia berkata, "*Saat ini Kakak bisa ngomong seperti itu, coba jika sudah bertemu Sabrina, aku pasti Kakak abaikan. Apalagi Sabrina saat ini sedang mengandung anak Kakak."
__ADS_1
"Aku harus berbuat sesuatu dan bayi itu harus segera aku singkirkan. Daripada rumah tanggaku terancam, lebih baik aku singkirkan kalian*!"
"Hei Ra, ayo buruan! hari makin sore, nanti toko oleh-oleh keburu tutup!"
"Iya Non, biasanya dua jam lagi toko oleh-oleh tutup, mereka tidak sampai malam," ucap Pak Sopir.
"Oh, gitu ya Pak. Ya sudah tancap saja Pak!"
"Nggak gitu juga Ra, bahaya. Lihat, jalanan sangat ramai."
"Saya usahakan cepat ya Non!"
"Terimakasih Pak."
Pak Sopir pun mengangguk, lalu melajukan mobilnya menuju toko oleh-oleh.
Sementara Sabrina, sepulang dari bertemu Risya, dia mampir dulu ke toko-toko untuk menawarkan dagangan Nek Mawar.
Dan sambutan beberapa toko sangat antusias, karena menurut mereka, kue kering itu rasanya sangat enak.
Mereka ingin bekerjasama dan memesan beberapa toples dulu untuk tes pasar. Hal itu membuat Sabrina tambah bersemangat dan dia yakin untuk mengembangkan usaha Nek Mawar.
Toko terakhir yang Sabrina kunjungi adalah toko oleh-oleh, dia ngobrol dengan sang pemilik sambil menunggu Mario yang katanya akan datang kesana. Kebetulan Mario sedang berada di sekitar tempat itu.
Sabrina pun buru-buru bersembunyi di antara rak kue yang kebetulan setinggi dirinya. Lalu diapun pamit ke toilet kepada salah satu pelayan.
Dengan memegangi dadanya, Sabrina pun bersembunyi di dalam toilet. Dia berharap Rey dan Alira akan segera pergi dari sana.
Rey yang masih merasa mual memilih untuk duduk di teras toko dan dia menyerahkan pilihan kepada Alira.
Pemilik toko menyarankan Alira untuk mencicipi produk baru yang merupakan buatan Nek Mawar dan ternyata setelah mencicipinya Alira pun sangat suka.
Dia memesan 10 toples, tapi pemilik toko masih mencari keberadaan Sabrina. Pelayan memberitahu jika Nona yang membawa contoh kue tersebut sedang ke toilet.
Alira bersedia menunggu. Sementara pemilik toko sudah gelisah karena Sabrina tidak juga kunjung tiba.
Akhirnya pemilik toko pun menelepon nomor yang tertera di toples dan kebetulan itu belum nomor Sabrina tapi masih nomor kontak Nek Mawar.
Nek Mawar bersedia mengantar pesanan tersebut besok pagi ke hotel tempat Alira menginap.
__ADS_1
Alira pun setuju dan dia percaya jika Nek Mawar akan amanah. Alira langsung membayar kes semua pesanan kepada pemilik toko.
Setelah itu Alira mengajak Rey untuk berkeliling mencari oleh-oleh di tempat lain. Namun, karena Rey merasa begitu mual, diapun pamit ke toilet dulu.
Alira menunggu Rey sembari berbincang dengan pelayan toko.
Rey langsung menuju toilet yang di tunjukkan arahnya oleh salah satu pelayan. Dan saat dia tiba di sana, mata Rey **membulat. Dia melihat Sabrina baru keluar dari toilet wanita.
Sabrina syock, kakinya seperti sedang** diikat dengan benda berat, hingga sulit untuk dilangkahkan.
Rey langsung menghampiri Sabrina, "Rin, apa kabar? ternyata kamu di sini? Aku sudah beberapa hari mencarimu tapi sulit sekali menemukan mu."
"Ka-kamu ngapain di Bali Rey, Bukankah kalian harusnya pergi bulan madu?" tanya Sabrina yang berpura-pura tidak tahu jika Rey memang sedang di Bali.
"Rin, boleh kita ngobrol sebentar di sana? Tidak enak dilihat orang jika ngobrol di sini," ajak Rey.
"Tapi Rey, aku harus segera pulang. Lagipula kamu kesini pasti dengan Alira kan? Nanti dia bakal mencarimu jika kelamaan di sini."
"Please Rin, sebentar saja, ada hal serius yang ingin aku omongin."
Sabrina pun akhirnya tidak bisa menolak. Dia mengikuti Rey yang keluar dari pintu samping toko.
Karena Rey tidak mau sampai Alira melihat mereka, diapun mengajak Sabrina ke tempat makan yang ada di seberang tempat parkir kenderaan.
"Kamu mau bicara apa Rey, kenapa kita harus kesini? nanti Alira bingung mencarimu."
"Tolong jangan bicara tentang Alira Rin, waktu kita hanya singkat, aku ingin bicara tentang kita."
"Maksudmu apa Rey?"
"Bagaimana kabar anak kita Rin?"
Sabrina syock, dia tidak menyangka jika Rey menanyakan hal yang menurutnya tidak mungkin akan diketahui oleh siapapun, kecuali Nek Mawar, Mario dan juga Risya.
Tapi untuk menutupi keterkejutannya, Sabrina tertawa, "Anak siapa Rey, kamu kalau bercanda jangan ketelewatan!"
"Aku tidak bercanda Rin, aku serius! Bagaimana kabar anakku!" ucap Rey sembari memegang tangan Sabrina.
Sabrina menarik tangannya, tubuhnya tiba-tiba gemetar dan air mata pun mulai mengambang di pelupuk matanya.
__ADS_1
Dia berusaha untuk tidak menangis, tapi matanya sangat tidak bersahabat.
Bersambung....