MAAFKAN AKU, CINTA

MAAFKAN AKU, CINTA
BAB 7. MEMBELI OBAT PENCEGAH KEHAMILAN


__ADS_3

Tiga hari lagi Rey, akan menikah. Sabrina hanya bisa terima nasib, dia tidak mungkin meminta pertanggungjawaban, di saat pernikahan sudah di ambang mata.


Mungkin ini adalah permainan takdir yang harus Sabrina jalani dengan ikhlas. Sore ini Sabrina harus melakukan sesuatu untuk pencegahan.


Setelah berdandan dengan rapi, Sabrina pun menyambar tas, dia akan pergi ke apotik, membeli obat untuk mencegah kehamilan.


Soalnya, menurut perhitungan Sabrina, kejadian itu terjadi saat dirinya sudah beberapa hari selesai masa menstruasi.


Lebih baik mencegah sejak dini daripada kehidupnya nanti makin hancur, bila sampai hamil tanpa suami.


Sabrina menyambar tas serta ponselnya, menenteng sepatu, lalu mengendap-endap keluar kamar agar tidak ada yang tahu jika dirinya akan pergi.


Ibu yang baru menyelesaikan tugasnya dan kembali ke paviliun ingin menyamperin Sabrina untuk memintanya makan, melihat saat putrinya mengendap keluar.


"Nduk, tunggu! Kamu mau kemana?"


"Eh...Ibu. Anu Bu, Ina mau mengambil sesuatu yang tertinggal di kantor. Cuma sebentar kok Bu, nanti Ina balik lagi," jawab Sabrina gugup.


"Minta tolong orang kantor saja, apa tidak bisa Nduk? lihat, wajahmu masih pucat, Ibu tidak mau jika sampai terjadi apa-apa denganmu di jalan," saran Ibu.


"Nggak bisa Bu, barang yang mau Ina ambil ada di laci meja kerja, sementara kuncinya terbawa pulang oleh Ina."


"Owalah Nduk, sakit pun kamu masih juga mikirin pekerjaan. Kapan kamu bisa istirahat."


Sabrina menyeringai menanggapi omongan ibu, lalu diapun menjawab, "Sebentar kok Bu, nanti malam Ina janji bakal tidur dengan nyenyak."


"Ina berangkat dulu ya Bu, nanti takut kemalaman pulangnya," pamit Sabrina sambil meraih tangan ibu dan menciumnya.


"Oh ya Bu satu lagi, jangan ngomong ke Bunda ya. Nggak enak jika sampai Bunda tahu. Masalahnya, tadi Ina menolak saat diajak ke butik."


"Heemm, pergilah! Cepat pulang ya!"


"Siap Bu, assalamualaikum."


Sabrina pun pergi menggunakan motor dan dia mendorong motor tersebut hingga keluar gerbang. Sabrina tidak ingin Bunda melihat dirinya keluar rumah sore ini.


Motor melaju dengan kecepatan sedang menuju apotik yang lumayan jauh dari rumah.


Sabrina tidak mau ambil resiko bertemu dengan tetangga atau orang lain yang dia kenal, bila membeli obat pencegah kehamilan di apotik terdekat.


Sesampainya di apotik, dengan ragu dan gugup Sabrina pun mendekati salah satu karyawan di sana, lalu dia menanyakan obat apa yang paling bagus untuk mencegah kehamilan.

__ADS_1


Karyawan itupun memberikan pil kontrasepsi dan Sabrina yang memang tidak paham masalah obat-obatan, menerima dan langsung membayarnya.


Sabrina pun celingukan dan buru-buru menyimpan pil tersebut ke dalam tasnya. Dia takut ada pengunjung yang sempat mengenalinya.


Sabrina pergi meninggalkan apotik, tapi tidak langsung pulang ke rumah. Dia pergi ke pasar, membeli tape serta nenas muda.


Dia pernah mendengar jika jenis makanan itu panas hingga bisa untuk menggagalkan kehamilan.


Untuk memudahkan serta menghindari kecurigaan orang di rumah, Sabrina pun meminta pedagang untuk mengupas serta memotongkannya dengan ukuran kecil.


Setelah mendapatkan semuanya, Sabrina pun memutuskan untuk pulang.


Sabrina menyimpan semuanya di dalam tas, dia berharap tidak akan ada yang melihat saat dirinya pulang hingga masuk ke dalam kamar.


Sabrina tiba di rumah menjelang senja, dia mengendap masuk, lalu menyimpan motor di garasi.


Tapi saat dirinya berbalik, Sabrina seperti melihat hantu. Sabrina syock dan mematung.


Rey saat ini tengah berdiri di hadapan Sabrina. Dia memandang heran karena Sabrina masuk seperti seorang pencuri.


Lagipula tadi sang mama mengatakan jika Sabrina sakit, tapi kenapa Sabrina malah pergi dan senja baru kembali.


Rey pun mendekat hingga membuat tubuh gadis itu makin gemetar.


Sabrina takut, dia merasakan tubuhnya meremang saat Rey tiba-tiba membungkuk, memegang rahang serta memandangnya dengan lekat.


Sabrina pun refleks menepis tangan Rey serta mengusirnya.


"Pergi! Jangan sentuh aku Rey!" usir Sabrina.


Air bening pun menggenang di pelupuk matanya, hingga Rey bertambah heran. Tidak biasanya Sabrina menolak dan bersikap seperti itu.


Karena bagi Rey, menyentuh wajah Sabrina adalah hal biasa yang sering dia lakukan sejak mereka masih kecil.


Saat dewasa pun, Rey sering melakukannya untuk mengusili serta menggoda Sabrina.


Sabrina menangis, dengan tubuh gemetaran dia berlari menuju kamar, meninggalkan Rey yang masih mematung di garasi.


Rey kemudian mengejar Sabrina. Dia merasa penasaran, kenapa hari ini Sabrina bersikap sangat aneh.


Dan tadi siang Sabrina juga tidak menerima panggilan teleponnya, padahal ponsel Sabrina dalam mode aktif.

__ADS_1


Beberapa kali Rey mengetuk pintu kamar, tapi Sabrina tidak menjawab.


Rey terus saja mengetuk, sambil berkata, "Rin, buka pintunya! Kamu kenapa? Memangnya aku salah apa Rin? Ayo dong buka, aku ingin bicara."


Rin adalah nama panggilan kesayangan dari Rey sedangkan Ina adalah panggilan yang sering Bunda serta ibu gunakan untuk Sabrina.


Di dalam kamar, Sabrina masih saja menangis. Entah mengapa dia merasa syock, kesulitan bernafas dan susah untuk mengontrol emosi saat tadi kepergok dengan Rey.


Padahal, sebelumnya Sabrina sudah merasa tenang dan kuat untuk menghadapi kenyataan hidupnya.


Melihat pintu kamar tidak juga dibuka, Rey pun berkata lagi, "Rin, jika memang aku ada salah, aku minta maaf. Tapi tolong, jangan seperti ini! Aku bingung lho, sebenarnya apa salahku? Aku hanya ingin melihatmu, soalnya kata Bunda, kalian tidak menyusul ke butik karena kamu sakit."


Sabrina tetap tidak mau menjawab, hingga membuat Rey makin mengulang serta menguatkan ketukannya.


Suara ketukan pintu yang makin keras, membuat Sabrina resah, dia takut ibu serta bunda akan mendengarnya.


Sabrina menarik nafas dalam dan setelah merasa tenang, diapun membersihkan wajah dari sisa-sisa air mata.


Lalu, Sabrina membuka pintu dan seperti biasa Rey langsung nyelonong masuk ke dalam kamar.


Sabrina duduk di tepi tempat tidur, dia tidak berani menatap Rey. Sabrina pura-pura sibuk dengan ponsel yang ada dalam genggamannya.


Rey mendekati Sabrina dan kali ini dia berusaha hati-hati karena takut membuat Sabrina menangis lagi.


Sambil berjongkok di hadapan Sabrina, Rey pun berkata, "Hai, adik kecilku kenapa kamu menangis? jika ada masalah cerita dong sama aku."


"Walaupun sebentar lagi aku akan menikah, semua tidak akan berubah. Aku tetap Rey yang sama, Rey yang selalu siap mendengarkan curhatan Rin adik kesayangan ku," ucap Rey yang tidak berani menyentuh tangan Sabrina.


Sabrina memberanikan diri membuka suara, tapi dia tetap tidak berani memandang wajah Rey.


"Aku tidak apa-apa kok Rey, aku cuma lelah dan sedang tidak enak badan. Maaf, jika aku membuatmu merasa bersalah," ucap Sabrina.


"Sungguh! kamu tidak apa-apa? Coba pandang aku dan berikan aku senyuman seperti biasanya," pinta Rey.


Sabrina menatap Rey, walau perasaannya saat ini tidak karuan, dia berusaha untuk tersenyum, meski tidak semanis biasanya.


Rey merasa lega melihat Sabrina tersenyum, meski dirinya masih penasaran.


Pelan-pelan Rey akan mencari tahu, apa sebenarnya yang menjadi penyebab dari perubahan sikap Sabrina.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2