MAAFKAN AKU, CINTA

MAAFKAN AKU, CINTA
BAB 21. TIBA DI BALI


__ADS_3

Sabrina tiba di bandar udara internasional Ngurah Rai Bali dan di sana ternyata Risya, sahabatnya sudah menunggu.


Risya melambaikan tangan dan dengan ciri khas pertemanan mereka, keduanya pun saling adu kepalan tangan sebelum saling berpelukan.


Sabrina dan Risya adalah teman saat SMA, keduanya memiliki kegemaran dan cita-cita yang sama.


Namun Risya beruntung mendapatkan suami, seorang pengusaha perhotelan.


Makanya dia tidak diperbolehkan bekerja, Risya hanya sesekali di minta untuk mengawasi hotel saat sang suami keluar daerah maupun keluar negeri untuk meninjau bisnisnya yang lain.


Saking asyiknya melepas rindu, Sabrina sampai lupa memperkenalkan nenek Mawar yang sedari tadi masih memperhatikan keduanya sambil tersenyum-senyum sendiri.


Nenek Mawar teringat saat dirinya muda dulu, dia juga memiliki seorang sahabat karib yang sekarang kabarnya sudah meninggal.


Risya yang melihat Nenek Mawar, sejak tadi berdiri di belakang Sabrina sembari memperhatikan mereka, merasa penasaran, lalu berkata, "Apakah itu nenekmu Na?"


"Aduh, aku sampai lupa saking senangnya bertemu kamu Saya," ucap Sabrina sembari menepuk keningnya sendiri.


"Maafkan Ina ya Nek. Oh ya Nek, ini Risya teman yang Ina ceritakan tadi."


Risya pun mengulurkan tangan sembari mengucap salam kenal dan Nenek Mawarpun menyambut uluran tangan Risya, lalu beliau mengatakan jika wajah Risya terlihat tidak asing dan rasanya pernah bertemu.


Sejenak Nenek berpikir dan dia melihat senyum Risya mirip dengan senyum sahabatnya. Lalu beliau menanyakan asal usul darimana dan dimana orangtua Risya tinggal.


Risya menyebutkan nama kota kelahirannya dan dia berpindah tempat untuk beberapa kali karena orangtuanya pindah tugas. Risya juga mengatakan nama neneknya yang telah meninggal hingga membuat Nenek mawar terkejut.


Ternyata dugaan nenek benar, jika Risya adalah cucu dari sahabatnya. Hal itu beliau buktikan dengan menunjukkan foto sahabatnya kepada Risya.


Risya langsung memeluk Nenek Mawar, dia senang akhirnya bisa bertemu dan berkenalan dengan sahabat almarhum neneknya.


Karena neneknya pernah meminta tolong kepada Risya untuk membantu menemukan nenek Mawar ketika kedua nenek tersebut kehilangan kontak.


"Alhamdulillah ya Nek, aku bisa bertemu Nenek, kapan-kapan aku akan membawa Nenek Mawar ke makam nenekku."

__ADS_1


"Meski beliau sudah tidak ada, tapi pastinya beliau di sana senang, melihat sahabatnya datang mengunjungi rumah peristirahatan terakhirnya."


"Oh ya, apakah nenek kamu meninggal di Bali ini atau di kota lain? Karena nenek dengar dia sempat pindah jauh di pedalaman Kalimantan."


"Iya Nek, makam nenek ku ada di sini, nanti kita atur kapan akan nyekar ke sana ya Nek."


"Aduh terlalu banyak ngobrol jadi lupa, sebenarnya nenek Mawar siapanya kamu Na?"


"Beliau nenekku, kami bertemu dan akrab selama di pesawat. Tapi sekarang nenek Mawar akan selamanya menjadi nenekku!" jawab Sabrina sambil mengulas senyum bahagia.


"Terimakasih ya Nak, telah mau menganggap Nenek seperti keluarga sendiri. Oh ya, Nenek harus segera pulang, baru aja ada pesan masuk jika cucu Nenek sudah menunggu di rumah. Kalian ikut Nenek yuk, biar Nenek kenalkan, cucu Nenek ganteng lho, dokter lagi! Tapi sayang susah di suruh cepat menikah," ajak Nek Mawar.


"Lain waktu saja ya Nek, hari ini suami saya pulang jadi nggak etis rasanya, masa istri nggak di rumah. Kalau Sabrina nggak apa-apa Nek, barangkali mereka jodoh," tolak Risya.


"Kamu ada saja Ris, mana mungkin Pak Dokter mau."


"Oh ya Nek besok saja Ina kesana ya, hari ini Ina pingin lihat tempat kerja yang baru, sekaligus berkenalan dengan suami Risya yang akan jadi Bos Ina."


"Baiklah jika begitu, tapi kamu jadi kan tinggal di rumah Nenek?"


"Hehehe, aku nggak jadi ya Ris, segan dengan suami kamu," jawab Sabrina.


"Ina biar tinggal di rumah Nenek saja ya Nak Risya, biar ada teman Nenek di rumah."


"Nggak apa-apa Nek, Risya serahkan sama Ina saja, lagipula rumah Nenek tidak terlalu jauh, jadi kami masih bisa saling kunjung."


"Terimakasih Nak Risya, kalau begitu Nenek duluan ya. Itu taksi yang di pesankan cucu Nenek sudah datang."


Keduanya pun mengangguk dan melambaikan tangan, lalu Risya pun mengajak Ina pergi ke hotel tempat Ina akan bekerja.


Malam ini Risya sudah menyiapkan kamar hotel sesuai permintaan Ina. Karena Ina menolak menginap di rumah Risya, dia takut mengganggu.


Ternyata hotel milik suami Risya sangat megah dan terletak strategis dekat akses wisata.

__ADS_1


"Terimakasih ya Ris, kamu sudah mau menolongku. Mudah-mudahan aku tidak akan mengecewakan kalian."


"Aku yakin kamu mampu mengelola dan memajukan hotel ini, aku masih ingat kemampuanmu Na saat kita sekolah dulu. Semoga betah ya, dan jika butuh sesuatu telepon saja nomor yang aku berikan tadi. Aku balik dulu ya, ingat besok sebelum ke rumah Nenek, kamu harus ke rumahku dulu. Suamiku ingin berkenalan denganmu."


"Beres Sya, bagaimana aku bisa lupa, dia bos ku. Masa iya di hari pertama aku meninggalkan kesan buruk, bisa kena pecat sebelum bekerja!"


Keduanya pun tertawa, lalu Risya pun kembali ke rumahnya dan Sabrina langsung menuju kamar yang kuncinya sudah diberikan oleh resepsionis hotel.


Para karyawan yang berpapasan menyapa Ina dengan ramah, mungkin karena Risya sudah memberitahu mereka jika pimpinan baru akan segera tiba.


Sabrina merebahkan diri, dia teringat sang ibu dan berencana ingin memberi kabar bahwa dirinya sudah sampai di Bali.


Bu Murni yang belum mendapatkan kabar dari Sabrina, mondar mandir, beliau cemas karena ponsel Sabrina juga tidak bisa di hubungi.


Memang sejak meninggalkan rumah, Sabrina mengganti nomor kontaknya, dia ingin menghilangkan jejak termasuk dari Rey.


Sabrina akan menghubungi ibunya dengan nomor khusus dan akan menonaktifkannya setelah itu.


Hari ini Sabrina akan memulai kehidupan barunya, menjauh dari masa lalu yang selalu menghantui.


Besok sebelum ke rumah Nek Mawar, Sabrina akan mencari dokter yang mau membantu menggugurkan kandungannya.


Sabrina mengelus perutnya yang masih rata sembari bermonolog, "Maafkan Bunda Nak, kamu hadir di saat yang tidak tepat. Daripada kamu lahir dan nanti malu diejek orang tidak memiliki ayah, lebih baik kamu pulang ke surga mu."


"Bunda sayang kamu, tapi Bunda belum siap dan tidak bisa mempertahankanmu untuk tetap hidup."


Selesai Sabrina bermonolog perutnya dan kepalamys tiba-tiba sangat sakit dan mual kembali datang hingga diapun berlari ke kamar mandi.


Sabrina muntah dan tubuhnya terasa tidak bertenaga. Sabrina terduduk di lantai sambil memegangi kepala dan meremas perutnya.


Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba seperti itu, padahal sejak berangkat dan sampai tiba di bandara semuanya baik-baik saja.


Setelah sakitnya mulai berkurang, Sabrina pun bangkit dan kembali ke kamar untuk mengambil pakaian ganti, dia harus segera membersihkan diri sebelum beristirahat.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2