
"Sebenarnya kenapa dengan Sabrina Rey?"
"Panjang ceritanya Yo, saat ini aku belum siap untuk mengatakannya, tapi aku harus menemukan Sabrina. Aku nggak mau masalah kami semakin berlarut-larut."
"Oh, sekarang istirahatlah dulu. Ayo aku tunjukkan kamarmu."
"Terimakasih ya Yo, sudah mau memberikan tumpangan untuk ku menginap malam ini."
Mario pun menunjukkan kamar tamu untuk Rey, lalu diapun kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Sebelum tidur, Mario mengirim pesan kepada Sabrina dan memberitahu jika saat ini Rey sedang menginap di rumahnya.
Sabrina terkejut, ternyata Rey tidak juga menyerah. Lalu diapun kembali mengingatkan Mario agar tidak memberitahu keberadaannya.
Sementara di kamar hotel, Alira terbangun dan dia kaget saat menyadari jika Rey tidak ada di sampingnya.
Apalagi saat dia mendapati selembar surat yang isinya agar Alira pulang duluan. Rey beralasan jika ada keperluan mendadak yang masih harus dia urus. Rey berjanji dua hari ke depan pasti sudah tiba di Jakarta.
Alira marah, dia melempar bantal guling ke sembarang arah, lalu segera mengambil ponselnya, menghubungi anak buahnya untuk segera melakukan tindakan.
Dia meminta anak buahnya untuk menyebar agar secepatnya bisa menemukan Sabrina sebelum Rey menemukannya.
Alira pun bersiap, malam ini juga, dia harus menemukan Rey dan besok harus tetap pulang bersamanya ke Jakarta.
Taksi pun sudah datang, lalu Alira meminta Pak Sopir untuk menjalankan taksinya. Sambil di jalan dia berpikir kemana harus mencari Rey.
Alira pun teringat dengan alamat yang diberikan oleh Mario, lalu diapun meminta Pak Sopir untuk mengantarnya ke sana.
Dia tidak peduli meski jam sudah menunjukkan pukul 2 dinihari. Alira pun menggedor rumah Mario hingga membuat seorang pelayan bergegas bangun dan membukakan pintu.
"Permisi Mbak, apakah benar ini rumah Dr. Mario?"
"Ya benar, siapa Anda Nona, kenapa dini hari mencari Pak Dokter?"
"Oh ya Mbak, apakah malam ini ada teman Pak dokter yang menginap di sini?" tanya Alira tanpa basa basi lagi.
"Tadi ada tamu sih Non, tapi saya tidak tahu apakah sudah pulang atau belum karena saya langsung masuk kamar, berhubung hari sudah larut."
__ADS_1
"Tolong panggilkan dokter Mario Mbak, aku sedang mencari suamiku. Tolong ya Mbak!"
"Maaf Non, saya tidak berani membangunkan Pak Dokter. Saat ini bukan jam yang layak untuk menerima tamu. Dan maaf juga ya Non, jika saya tidak berani mempersilakan Anda masuk."
"Tolonglah Mbak, aku harus menemukan suamiku. Aku teman Dokter Mario."
Saat pelayan itu masih berpikir, tiba-tiba terdengar suara Mario muncul dibelakangnya.
"Ada siapa di luar Mbak, kenapa aku mendengar suara seorang wanita yang sedang berbicara dengan Mbak?"
"Oh, Pak Dokter. Itu Pak, ada seorang wanita yang sedang mencari suaminya. Katanya teman Pak Dokter."
Mario langsung menebak jika wanita itu, pasti istri Rey. Kemudian Mario pun mendekat ke pintu dan benar saja, dia melihat Alira berdiri di balik pintu besinya.
Mario pun membuka pintu lalu mempersilakan Alira masuk dan dia mengatakan jika Rey memang sedang menginap di rumahnya.
"Mbak, tolong panggilkan tamu saya yang menginap di kamar tamu. Bilang ada istrinya yang datang mencari."
"Baik Pak Dokter."
Rey yang baru terlelap pun akhirnya terbangun, lalu dia membuka pintu dan bertanya ada apa Mbak pelayan membangunkannya padahal hari belum pagi.
"Maaf ya Den, Pak Dokter meminta saya untuk membangunkan Aden karena istri Aden datang kesini."
Rey mendesah, kenapa Alira selalu saja menghalanginya untuk mencari Sabrina. Lalu diapun berkata "Baiklah Mbak, saya akan ke sana. Terimakasih ya Mbak."
Rey pun masuk kembali ke dalam kamar, memakai sweater lalu bergegas untuk menemui Alira.
Melihat Rey datang Alira pun menghambur dan dia menangis, sambil berkata, "Sebenarnya ada apa dengan Kakak? Kenapa Kakak tega meninggalkan aku sendirian di hotel?"
Rey tidak mengatakan apapun, bahkan dia tidak membalas pelukan Alira.
Mario tidak ingin ikut campur, lalu dia menghampiri Rey, menepuk bahunya sembari berkata, "Aku masuk dulu ya Rey! Selesaikanlah masalah kalian."
Setelah mengatakan hal itu, Mario pun masuk kembali ke kamarnya begitu juga dengan Mbak pelayan yang pergi untuk melanjutkan tidurnya.
"Kenapa kamu kesini? Aku kan sudah bilang, kamu pulang duluan dan aku akan menyusul!" ucap Rey dengan nada tinggi.
__ADS_1
Mendengar nada suara Rey, Alirapun menitikkan air mata, dia merasa Rey saat ini sudah sangat berubah.
"Kak Rey sebenarnya kenapa sih, jika ada masalah cerita dong, jadi aku bisa membantu! Bukan harus menghindari ku seperti ini."
"Kak Rey jahat! Kakak tidak mencintaiku lagi. Kakak berani membentak ku seperti ini, karena siapa? Apakah ada perempuan lain Kak, yang membuat kakak berubah!" ucap Alira sembari menangis dan memukul dada Rey.
Saat ini Rey belum bisa mengatakan kehamilan Sabrina kepada Alira, dia harus memastikan dulu apakah calon bayinya masih ada atau tidak.
Lagipula Rey akan mengatakan semuanya, sekalian dihadapan mama papanya.
"Sudahlah Ra, jangan menangis, nggak enak jika di dengar Mario. Aku hanya butuh dua hari untuk menyelesaikan masalahku. Jadi tolong berilah aku waktu. Aku pasti akan kembali."
"Tidak! pokoknya kita harus pulang sama-sama. Aku akan menunggu Kakak sampai masalah kak Rey selesai."
"Baiklah, kamu tunggu di hotel saja, aku akan kembali ke hotel setelah dua hari."
"Oke, aku akan tunggu Kakak. Walau sebenarnya aku kecewa karena kakak tidak mau jujur tentang masalah apa yang sedang dihadapi."
"Sekarang ayo kita beristirahat, besok pagi aku akan mengantarmu ke hotel, baru pergi untuk mengurus masalah ku."
Alira pun setuju, setidaknya jika dia masih ada di Bali, Alira bisa memantau dan yakin jika Rey tidak akan pernah bertemu Sabrina.
Keduanya pun beristirahat, lalu pagi hari pamit kepada Mario untuk kembali ke hotel.
Pagi ini Mario bergegas ke rumah Nek Mawar, dia ingin membawa Sabrina pergi ke suatu tempat. Agar bisa menghindar dari Rey untuk sementara waktu.
Mario menceritakan semuanya kepada Nek Mawar dan Nenek pun setuju. Kemudian mereka pun berangkat menuju rumah ibu angkat Mario saat dulu dia pernah bertugas di desa tujuannya sekarang.
Sepanjang jalan Sabrina melamun, dia teringat saat Rey begitu terpukul ketika mendengar dirinya telah menggugurkan bayinya.
Sabrina mengelus perutnya, sembari berkata di dalam hati, "Maafkan ibu Nak, ibu terpaksa membohongi ayahmu. Semua ini demi kebaikan kita bersama. Suatu saat ibu pasti akan mempertemukan dirimu kepada ayah, tapi tidak untuk saat ini."
Mario melirik Sabrina, dia tahu pasti bagaimana perasaan Sabrina saat ini.
Andai saja Sabrina setuju, dia pasti akan menikahinya saat ini juga dan memberikan perlindungan untuk Ina serta bayinya.
Bersambung....
__ADS_1