
Mendengar Sabrina sakit, Mario merasa khawatir. Kemudian diapun buru-buru mengambil alat kedokterannya dan mengeluarkan motor dari garasi.
Mario melajukan motornya dengan kencang, dia berharap Sabrina tidak kenapa-kenapa hingga dirinya tidak perlu menghubungi keluarga Sabrina.
Setibanya di rumah Nek Mawar, Mario langsung menemui sang Nenek yang terlihat cemas.
"Syukurlah kamu cepat datang Nak! Ayo cepatlah periksa Ina, sebenarnya dia sakit apa. Sejak tadi Ina muntah Yo, hingga tubuhnya lemas dan wajahnya sangat pucat."
"Padahal tadi pagi dia tidak kenapa-kenapa, Ina malah membantu Nenek menyiapkan dagangan."
"Nanti dia kecapean Nek!"
"Mungkin juga! sudah sana diperiksa, Nenek mau ke dapur dulu membuatkan teh jahe, untuk mengurangi rasa mualnya. Kamu mau minum apa Yo, kopi atau teh?"
"Kopi saja Nek, seperti biasa, gulanya dikit aja ya Nek!"
Nek Mawar pun bergegas ke dapur dan Mario pun mengetuk pintu kamar yang sedikit terbuka sembari mengucap salam.
Sabrina menjawab salam dari Mario dan diapun berusaha untuk duduk, tapi Mario melarang.
"Tiduran saja Na, biar aku periksa dulu."
Mendengar kata periksa, wajah Sabrina semakin pucat, dia takut rahasianya akan terbongkar saat ini. Apalagi Mario seorang dokter kandungan sudah pasti dia akan curiga.
"Dok nggak usah di periksa ya, aku tidak apa-apa kok, mungkin cuma lelah saja. Besok pasti kembali pulih."
"Sebentar saja lho Na, cuma ngecek tekanan darah, denyut nadi biar aku bisa pastikan bahwa kamu baik-baik saja."
Mario sudah memasang alat stetoskop ke telinganya, lalu dia mengambil alat untuk mengukur tekanan darah. Mario pun mulai melakukan tugasnya memeriksa Sabrina.
Melihat hasil diagnosanya, Mario mengernyitkan dahi, dia merasa tidak yakin dengan hasil pemeriksaan yang dilakukannya.
Mario menatap Sabrina, seakan dia ingin memastikan jika dirinya memang salah melakukan diagnosa.
Sabrina tidak berani menatap Mario hingga membuat Mario makin curiga.
__ADS_1
"Maaf Na, aku harus mengatakan yang sebenarnya, apakah kamu saat ini memang sedang hamil?"
Sabrina tidak menjawab, tapi air matanya meleleh. Hal itu membuat Mario jadi yakin jika hasil pemeriksaannya tidak salah.
Mario menarik kursi agar bisa duduk di sisi kepala Sabrina. Kemudian diapun berkata, "Jadi ini yang membuatmu menolakku dan menghindar dari keluarga?"
"Maaf jika aku ikut campur Na, sebenarnya siapa ayah dari calon bayimu itu?"
Tangis Sabrina pun pecah hingga membuat Mario merasa bersalah, lalu diapun meminta maaf.
"Maaf Rin, jika kamu memang belum siap untuk mengatakan, aku tidak akan memaksa. Setidaknya aku tahu jika keadaan bayimu saat ini baik-baik saja."
"Mengenai muntah, itu hal yang wajar dialami oleh hampir semua ibu hamil. Jadi aku akan memberimu obat untuk meringankan rasa mual."
Nenek yang baru masuk sangat terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Mario.
"Kamu hamil Nak?"
Sabrina kembali menangis hingga membuat Nek Mawar merasa bersalah. Nek Mawar mendekat, lalu memeluk Sabrina yang masih sesenggukan.
Akhirnya, Sabrina pun tenang dalam pelukan Nek Mawar, lalu diapun mulai menceritakan bagaimana awal mula dirinya bisa hamil.
Mario sangat terkejut, diapun bingung harus memberi saran apa untuk posisi Sabrina saat ini.
Setelah mengatakan semuanya, Sabrina pun memohon agar Mario dan Nek Mawar menjaga rahasia tersebut.
"Saya mohon Nek, Mas, jangan katakan kepada siapapun, terutama kepada Rey dan keluarganya. Aku tidak ingin nantinya menjadi penyebab hancurnya rumah tangga mereka."
"Biarlah aku sendiri akan membesarkan anak ini. Aku akan menjadi ibu sekaligus ayah baginya."
Mario salut melihat ketegaran Sabrina. Tapi dia juga menyarankan jika suatu saat Sabrina harus mengatakan kebenaran itu meskipun sangat pahit.
Sabrina berjanji suatu saat dia pasti akan mengatakannya tapi tidak untuk sekarang.
Dokter pun akhirnya mendukung Sabrina dan dia berjanji akan memantau Sabrina hingga melahirkan dengan selamat.
__ADS_1
Nek Mawar memberikan teh jahe kepada Ina, lalu dia mengatakan akan merahasiakan hal ini kepada siapapun.
"Na, sekarang kamu istirahat ya. Aku akan pulang dulu, nanti malam aku kesini lagi. Jika mualnya nggak berkurang juga, nanti aku berikan tambahan obat yang tidak membahayakan janin."
"Terimakasih Mas. Maaf, aku telah merepotkan Mas Mario."
"Tidak, itu memang tugasku kan. Mau jam berapa pun orang membutuhkan bantuan, aku siap datang."
Mario pun meninggalkan rumah Nek Mawar, kini tinggal Sabrina dan Nenek yang masih berbincang.
Nenek merasa iba dan beliau tidak akan membiarkan bayi Sabrina lahir tanpa seorang ayah.
Nenek akan membicarakan hal ini kepada Mario nanti malam, beliau berharap Mario akan mau menikahi Sabrina.
Di rumah sakit, Rey menemui temannya dan dia ingin meminjam motor. Rey akan berkeliling, barangkali dia bisa beruntung dan mendapatkan petunjuk, di mana Sabrina berada.
Setelah mendapatkan pinjaman motor, Rey menyusuri jalanan kota sembari menikmati keindahan di sana.
Capek berkeliling, Rey pun duduk di sebuah taman sambil memperhatikan anak-anak yang sedang bermain.
Sekilas Rey melihat Mario melintas, tapi Rey keburu kehilangan jejak.
"Mario! Apa aku nggak salah lihat ya. Tapi Itu memang Mario, apa dia bertugas di sini?" monolog Rey.
Merasa penasaran, Rey pun menghubungi mamanya Mario, lalu dia menanyakan di mana Mario bertugas saat ini.
Mama Mario pun memberikan alamat putranya dan Rey berjanji, akan datang untuk menemui Mario.
Rey melanjutkan perjalanan, dia berhenti sejenak di tempat-tempat yang ramai pengunjung, dia berharap akan melihat Sabrina berada diantara kerumunan-kerumunan tersebut.
Tapi Rey tidak menemukan jejak Rina, lalu diapun kembali pulang ke rumah sakit tempat dirinya menginap.
Besok dia akan melanjutkan pencariannya, sekaligus silaturahmi ke rumah Mario.
Rey mengembalikan motor temannya, lalu bergegas ke kamar bersiap untuk tidur. Rasa lelah membuat Rey langsung terlelap dalam alam mimpinya.
__ADS_1
Bersambung....