MAAFKAN AKU, CINTA

MAAFKAN AKU, CINTA
BAB 12. TERPAKSA BERBOHONG


__ADS_3

Sabrina pamit kepada Mario, dia harus kembali ke kantor sesuai janjinya.


Mario melambaikan tangan, dia bersyukur hari ini bisa mendapatkan nomor kontak Sabrina.


Dengan senyum mengembang Mario meninggalkan cafe dan kembali ke rumah sakit.


Sabrina bergegas masuk kedalam ruangannya, lalu dia mempersiapkan berkas-berkas pengunduran diri. Agar saat waktunya tiba, dia tinggal menyerahkannya saja kepada pemilik hotel.


Keputusan Sabrina sudah mantap, apalagi saat sahabatnya kembali menelepon, jika jadwal kepindahan manajer lama dimajukan. Sabrina sudah harus pindah sebelum sang manajer meletakkan jabatannya.


Kemudian Sabrina menemui pihak HRD dan juga pemilik hotel, dia menyerahkan surat pengunduran diri.


Keduanya pun terkejut, atas pengunduran diri Sabrina, mereka sangat menyayangkan, padahal kinerja Sabrina sangatlah bagus.


Pemilik hotel meminta Sabrina untuk memikirkan ulang sebelum surat pengunduran diri itu dia tandatangani.


Sebenarnya Sabrina merasa sayang meninggalkan pekerjaannya, tapi hanya itu pilihan terbaik untuknya saat ini.


Saat Sabrina duduk merenung, terdengar ponselnya berdering dan dia melihat Bunda yang sedang melakukan panggilan.


Sabrina menerima panggilan tersebut dan ternyata bunda memintanya untuk cepat kembali bila selesai bekerja karena mereka akan makan malam di luar bersama Rey serta Alira.


Mendengar ucapan terakhir bunda, membuat Sabrina terpaksa berbohong, jika hari ini dia kerja lembur dan tidak bisa ikut makan malam bersama.


Bunda merasa kecewa, Sabrina tidak bisa pulang cepat karena sebenarnya beliau mengundang Mario juga sebagai kejutan.


Sepulang kantor Sabrina memilih pergi dengan para bawahannya, dia mentraktir mereka karena bonus yang dia terima.


Tapi Sabrina tidak menduga justru tempat makan yang dipilih teman-temannya sama dengan tempat makan yang Rey pilih.


Saat Sabrina sedang asyik bercanda dan tertawa bersama teman-temannya, Rey muncul dan berdiri di hadapan mereka, hingga membuat Sabrina seketika terdiam.


Dia kaget kenapa Rey bisa tahu di mana dirinya berada. Sabrina pun celingukan dan ternyata semua keluarga sedang berkumpul menunggu pesanan di meja sudut dekat pintu masuk.


"Kebetulan kamu juga di sini, ayo bergabung kesana, ajak semua teman-teman kamu Rin. Aku tadi sempat kecewa saat Bunda mengatakan jika kamu tidak bisa ikut makan malam, ternyata Tuhan baik, mempertemukan kita di sini."


Sabrina belum mengiyakan, dia masih mematung, alasannya untuk menghindar ternyata sia-sia.


"Coba kamu lihat, Lira dan Bunda memanggil kamu. Ayo dong Rin, biar seru, kalian semua bergabung di sana."

__ADS_1


Akhirnya Sabrina pun tidak bisa menolak lagi karena sang Bunda juga menghampirinya.


Kawan-kawan Sabrina memilih pulang, mereka tidak ingin mengganggu moment keluarga.


"Kebetulan kamu di sini ya Na, bunda senang, akhirnya kita bisa juga makan malam bersama."


Bunda menambah pesanan dan tak lama Mario pun tiba.


Rey tidak menyangka jika Bundanya juga mengundang Mario. Dia tidak membiarkan Mario untuk duduk di dekat Sabrina.


"Sayang, kamu pindah kesini dong, biar Mario duduk dekat Sabrina!" ucap Alira.


"Iya Rey, masa kamu duduk di situ. Ayo bergeserlah!"


"Mario biar di sebelah sana saja Bun, aku mau dekat sahabatku!"


"Huh, dasar tidak peka!" ucap Bunda.


"Ya sudah, Nak Mario duduk sini saja dekat Bunda."


Mario pun tidak keberatan, yang terpenting dia masih bisa bertemu Sabrina malam ini.


Saat hidangan tiba, Bunda pun mempersilakan semuanya untuk makan. Lira melayani Rey dan Sabrina tertunduk, perasaannya sangat tidak nyaman melihat kemesraan kedua sahabatnya itu.


Rey yang mendengar Mario memanggil Sabrina dengan sebutan kesayangannya, menatap tajam ke arah pemuda itu. Entah mengapa hati Rey merasa tidak rela.


Sabrina masih diam, sampai Mario mengulang kembali perkataannya.


Dengan gugup Sabrina pun menjawab, "E-eh...iya boleh. Sebentar ya," ucap Sabrina sembari mengambil piring dari tangan Mario.


Bunda tersenyum karena Mario pandai melakukan pendekatan.


Setelah mereka selesai makan, Mario pun membuat lelucon agar Sabrina selalu tertawa.


Malam ini Sabrina cukup terhibur dengan ulah Mario, hingga dia bisa mengalihkan perhatiannya dari Rey dan juga Alira.


Sampai tiba waktunya untuk pulang, Mario pun pamit dan berterima kasih atas undangan makan malam tersebut. Mario berjanji akan mengunjungi Sabrina nantinya.


Rey memutar bola matanya, dia merasa jengah saat melihat Mario berlama-lama menjabat tangan Sabrina.

__ADS_1


"Hemm," dehem Rey memberi kode agar Mario melepaskan pegangan tangannya.


Mario pun meninggalkan tempat tersebut, dan sambil tersenyum, dia yakin untuk mengejar serta mendapatkan cinta Sabrina.


Semua keluar meninggalkan cafe dan karena Sabrina membawa mobil sendiri, setidaknya dia merasa nyaman tidak harus semobil dengan Rey beserta Alira.


Mereka tiba di rumah, Sabrina sengaja berlama-lama di dalam mobil, agar Rey dan yang lain masuk duluan.


Tapi ternyata Sabrina salah, justru Alira datang menghampiri sembari mengetuk pintu mobil.


Saat Sabrina membuka pintu mobil, Alira pun masuk dan duduk di samping Sabrina.


Suasana pun jadi canggung, lalu Alira bertanya, "Boleh aku minta waktu sebentar Na? Ada yang ingin aku tanyakan."


"Iya Lir, silakan. Kamu pakai pamit segala seperti orang asing saja, memangnya apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Sebenarnya apa salah kami Na, belakangan ini kamu selalu menghindar. Aku dan Rey merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari kami."


Sabrina pun terkejut, tapi dia berusaha menutupinya sambil berkilah, "Aku tidak menghindari kalian Lir. Aku memang sedang sibuk, mengurusi pembukaan cabang hotel kami yang baru."


"Dan satu hal lagi, aku hanya ingin memberi kalian waktu untuk berduaan, jika aku terus berada di sisi kalian, kamu bisa lihat sendiri 'kan bagaimana Rey? Dia akan nempel terus dimana pun aku duduk."


"Maaf ya Lir, hal ini aku lakukan hanya demi kebaikan kalian. Status Rey kini tak lagi sama, jadi aku harus bisa menjaga jarak."


Lira terdiam mendengar penjelasan dari Sabrina, dia akui jika terkadang dirinya merasa cemburu saat Rey memberi perhatian lebih terhadap sahabatnya itu.


"Meskipun aku menjauh bukan berarti tidak menyayangi kalian. Kalian berdua akan tetap menjadi sahabat terbaikku," ucap Sabrina sembari menepuk lembut, bahu Alira.


"Iya Na, ayo kita masuk!"


Rey memperhatikan Alira dan Sabrina, dia merasa penasaran, sebenarnya apa yang istri serta sahabatnya bicarakan.


Namun Rey, ingin memberikan kesempatan keduanya ngobrol, karena belakangan ini hubungan mereka bertiga, memang tidak seakrab biasanya.


Melihat Alira dan Sabrina turun dari mobil, Rey pun buru-buru masuk, dia tidak ingin istri dan sahabatnya merasa di mata-matain.


"Lira, aku langsung ke kamar ya, hari ini lelah sekali karena pekerjaan di kantor menumpuk. Selamat datang di rumah ini, semoga rumah tangga kalian sakinah mawadah warahmah dan terutama cepat diberi momongan."


"Aamiin, terimakasih Na. Selamat beristirahat ya dan aku doain agar kamu cepat menyusul kami."

__ADS_1


Sabrina hanya mengangguk sembari tersenyum pahit. Dia tidak tahu, kedepannya akan berumahtangga atau hanya bertahan dengan statusnya sekarang, gadis tapi tidak perawan.


Bersambung.....


__ADS_2