
Rey pamit pergi ke rumah sakit, dia melajukan mobilnya dengan kencang. Radit sudah tidak sabar ingin cepat mencocokkan anting tersebut.
Sesampainya di ruangan, Rey langsung membuka laci yang selama ini selalu dia kunci. Dan Rey mengeluarkan barang bukti yang dia dapatkan di hotel saat itu.
Rey menyatukan kedua anting dan diapun terduduk lemas. Ternyata benar anting yang terdapat di kamar Sabrina adalah pasangan anting yang Rey dapatkan dari kamar hotel.
Wajah Rey memucat, keringat dingin pun mulai membasahi keningnya. Dinginnya AC di ruangan kerja Rey tidak terasa sedikitpun.
Rey memijat kepalanya, dia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Di satu sisi ada sang istri yang baru saja dia nikahi dan di sisi lain, ada sahabat yang mengandung anaknya.
"Rin dimanakah kamu, aku butuh penjelasan darimu, apa benar kamu wanita yang tidur denganku malam itu."
"Biadab kau Rey, kau telah merusak kehidupan sahabatmu sendiri. Kenapa kamu tidak jujur Rin, kenapa musti pergi," monolog Rey.
"Hape, ya...hape ini. Mungkin ada petunjuk di sini."
Kemudian Rey mencharger ponsel tersebut dan setelah terisi daya, diapun dengan ragu membuka video yang terekam di dalamnya. Rey meneteskan air mata, dia melihat kilas balik kejadian malam laknat itu.
Rey menjambak rambutnya sendiri dan sore ini seorang Rey menangis tergugu. Dia merasa sangat bersalah dan merasa dirinya begitu bejat.
Penyesalan selalu datangnya terlambat, kenapa malam itu dia sampai mabuk dan tidak sadarkan diri.
"Ya Tuhan, dosa apa yang telah aku perbuat? Rin...maafkan aku. Pantaslah sebulan belakangan sikapmu begitu aneh. Ternyata, akulah biang masalahnya."
__ADS_1
Rey menghapus air matanya, lalu dia menyimpan kembali semua bukti. Sekarang juga, Rey akan pergi ke hotel, dimana perbuatan laknatnya itu terjadi.
Dia ingin mencari tahu, kenapa Rina bisa sampai di sana malam itu. Sembari menyetir, Rey pun teringat, mungkinkah hotel itu tempat Rina bekerja.
Dengan menambah kecepatan, Rey berharap pertanyaan-pertanyaan di hatinya akan segera terjawab.
Sesampainya di sana, Rey menuju ke bagian resepsionis dan dia menunjukkan foto Sabrina yang ada di dalam ponselnya.
"Selamat sore Mbak! Saya ingin bertanya, apakah Mbak mengenal gadis ini?"
Sang resepsionis nggak langsung menjawab, malah balik bertanya, "Memangnya ada apa Mas?"
"Gadis ini teman Saya, apakah Mbak kenal atau pernah melihatnya menginap di sini?"
Rey meraup wajahnya dengan kasar, sekarang semua sudah jelas, anak dalam kandungan Sabrina adalah darah dagingnya.
Sang resepsionis pun heran melihat Rey yang tampak galau, lalu diapun bertanya, "Kenapa Pak?"
"Oh ya Mbak, apakah benar Sabrina dipindah tugaskan ke cabang yang ada di Bali?"
"Kami juga tidak tahu Mas, tapi dengar-dengar Bu Sabrina Resign, bukan dipindah tugaskan. Bahkan Bos kami sempat melarang agar jangan pindah, tapi Bu Sabrina mengatakan jika Beliau harus menyusul suaminya yang bekerja di sana."
"Suami???"
__ADS_1
"Iya Mas, itu yang beliau katakan."
Rey terdiam, pasti itu cuma alasan Sabrina agar diizinkan untuk resign dari pekerjaannya.
"Terimakasih atas informasinya ya Mbak," ucap Rey dengan lesu.
"Sama-sama Mas."
Rey pun pergi dengan langkah gontai, dia harus mencari Sabrina, tapi juga tidak mungkin meninggalkan Alira.
Sepeninggal Rey, Alira pun masuk dan menemui resepsionis. Dia ingin tahu apa yang telah Rey tanyakan kepada mereka.
Dugaan Alira benar, jika Rey masih menyelidiki keberadaan Sabrina, tapi dia bersyukur pihak hotel tidak tahu kemana Sabrina pindah.
Rey tidak langsung pulang ke rumah, pikirannya masih kacau, dia tidak mau keluarga sampai curiga dengan perubahan sikapnya.
Tujuan Rey adalah pantai, dimana dulu, dia dan Sabrina sering menghabiskan waktu jika sedang ada masalah.
Matahari sudah masuk ke peraduan, saat Rey tiba di sana. Dia berteriak kencang untuk menenangkan perasaan hatinya.
Rey duduk dibatang nyiur yang hampir tumbang, dia menatap ombak yang silih berganti datang dan pergi.
Setelah hatinya mulai tenang Rey pun memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum pulang, dia akan singgah dulu ke kost sahabat Sabrina yang dulu pernah merekomendasikan pekerjaan.
__ADS_1
Bersambung....