MAAFKAN AKU, CINTA

MAAFKAN AKU, CINTA
BAB 31. BERADA DI HOTEL YANG SAMA


__ADS_3

Sama seperti sebelumnya, pagi ini Rey muntah lagi, hingga tubuhnya lemas dan wajahnya sangat pucat.


Alira yang melihat hal itupun merasa khawatir.


"Kakak kenapa? Perut Kakak sakit? Ini pasti akibat makan rujak tadi malam! Sudah kubilang kan, kenapa Kakak makan buah yang asam-asam. Nah sekarang siapa juga yang susah!" ucap Alira sembari membantu Rey kembali ke tempat tidur.


Rey tidak menjawab apapun, dia masih merasakan mual dan Rey tidak mungkin mengatakan jika muntahnya itu karena dia ngidam sebagai calon ayah.


"Aku panggil dokter ya Kak atau kita ke rumah sakit saja!"


"Nggak usah Ra, nanti juga sembuh. Lebih baik aku tiduran saja. Tolong pesankan teh jahe sama pihak hotel ya Ra!"


"Iya Kak, sebentar ya."


Alira pun memesankan teh jahe sesuai yang diminta oleh Rey. Kemudian Alira keluar kamar, dia menghubungi orang suruhannya untuk terus mencari Sabrina.


Sementara di rumah Nek Mawar, Sabrina sudah bersiap hendak ngantor. Dia telah difasilitasi sebuah mobil oleh suami Risya.


"Nek, Ina berangkat dulu ya. Sampel kuenya sudah Ina masukkan ke dalam mobil, nanti sepulang kantor Ina akan mendatangi toko-toko untuk menawarkan kerjasama."


"Apa kamu sudah sehat Na? Nenek nggak mau kamu kelelahan dan sakit, ingat jaga kandungan mu. Kalau mengembangkan usaha, bisa kita lakukan nanti setelah kamu melahirkan."


"Nggak apa-apa kok Nek. Sekarang Ina tidak pernah merasakan mual lagi. Mudah-mudahan bayi Ina mengerti dan tidak mau menyusahkan ibunya, apalagi saat bekerja."


"Syukurlah Na, mudah-mudahan sehat hingga lahiran."


"Iya Nek, Ina berangkat dulu ya Nek."


Sabrina pun menyalim tangan Nek Mawar, lalu bergegas ke mobil dan melajukan mobilnya menuju hotel milik suami Risya.

__ADS_1


Sabrina yang sudah terbiasa bekerja di hotel, dengan mudah langsung membaur dan paham akan tugas-tugasnya.


Saat jam makan siang Sabrina tidak menduga jika Mario datang dan membawakannya makan siang.


"Selamat siang Bu manajer, bolehkah saya masuk?"


"Eh, Mas Mario. Aduh bawa apaan tuh?"


"Hehehe...makan siang, habisnya mau ajak kamu keluar takut nggak bisa. Jadi aku saja deh yang kesini."


"Aku malu jadinya Mas, merepotkan Mas Mario."


"Aih, biasa aja dong. Sama calon suami masa malu," canda Mario.


"Iya deh, ayolah jika begitu. Sudah lapar nih, dede bayinya."


"Siap Nyonya Mario," jawab Mario sembari tertawa.


Meskipun Sabrina belum memberi keputusan atas lamarannya tapi Mario bersikap seakan Ina sudah setuju.


Sabrina pun melahap makanannya tanpa sisa, dia benar lapar saat ini. Apalagi tubuhnya membutuhkan nutrisi lebih untuk sang bayi.


"Lagi?" tanya Mario.


Sabrina pun mengangguk, lalu mengambil jatah makan siang yang memang dibeli lebih oleh Mario.


Mario senang, Ina menyukai makanan yang dia bawa dan besok diapun berencana akan datang lagi saat jam makan siang tiba.


Setelah selesai makan dan berbincang, Mario pun pamit, dia harus mengerjakan tugasnya lagi.

__ADS_1


Saat keluar hotel, Mario berpapasan dengan Rey dan juga Alira yang baru pulang dari rumah sakit.


"Mario? Kamu bertugas di sini?"


Mario tergagap, dia ingat pesan Sabrina. Rey tidak boleh tahu keberadaan Sabrina di sini.


"Eh...iya Rey. Aku bertugas di kampung seberang. Kebetulan tadi ada teman yang mengundang ku ke sini."


"Boleh aku minta alamat mu Yo, siapa tahu kami bisa singgah ke sana. Aku masih ada waktu seminggu lagi di sini," pinta Rey.


"Oh boleh Rey, tapi jika ingin ke rumah kost ku, telepon dulu ya. Soalnya aku sering kelapangan, takutnya kamu kecewa."


"Oke Yo."


Mario pun memberikan kartu namanya, lalu dia buru-buru pamit dengan alasan ada janji dengan pasien.


Padahal Mario ingin cepat pergi agar bisa segera memberitahu Sabrina jika Rey dan Alira menginap di hotel tempatnya bekerja.


"Maaf ya Rey, Lira. Aku harus pergi, selamat liburan ya!"


"Iya Yo. Terimakasih ya."


Mario pun buru-buru menuju mobilnya, lalu diapun menghubungi Sabrina.


Sabrina pun mengangkat panggilan tersebut, lalu menanyakan apakah ada barang Mario yang tertinggal.


Mario langsung ke inti pembicaraan hingga membuat wajah Sabrina tiba-tiba memucat.


Sabrina harus segera pergi, dia akan off dulu bekerja sampai Rey dan Alira check-out dari sana.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2