
π.....
π.....
π.....
Ke esokan harinya seperti biasa Azkia bangun subuh, dengan aktivitas yang sama menyiapkan sarapan pagi dan keperluan tuan mudanya.
Tepat jam 6 pagi Azkia selalu membangunkan tuan mudanya, sudah rutinitas dia yang selalu membangunkan, menyiapkan air, baju dan segala keperluan tuannya.
Tok.. tok.. tok..
CEKLEK
"Tuan.. bangun sudah pagi," Azkia membangunkan tuan mudanya.
"Hmm... " gumam Adrian sambil mata masih terpejam.
Azkia tak menunggu tuannya membuka matanya, dia pun langsung menyiapkan air hangat yang biasa dia siapkan lalu menyiapkan baju, setelah itu dia membangunkan tuannya kembali.
"Tuan.. tuan.. bangun,"
"Hmm.. jam berapa sekarang?" tanya Adrian.
"Sekarang jam 6.15 pagi tuan, saya sudah menyiapkan air dan baju seperti biasa,"
"Oh iya," sahut Adrian langsung bangun dari tidurnya, dan langsung masuk ke kamar mandi.
Azkia kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan yang sempat tertunda karena membangunkan tuannya.
Tepat jam 7 pagi tuan dan nyonya Anderson datang lebih dulu ke ruang makan, yang masih di sesiapkan Azkia dan Bi Inah.
"Selamat pagi tuan, nyonya,"
"Pagi Bi Kia, Adrian belum turun?"
"Belum tuan, nyonya, mungkin sebentar lagi,"
Tak lama Adrian pun datang.
"Pagi Mah Pah," sapa Adrian sambil mencium pipi Mamah dan Papahnya bergantian lalu duduk.
"Pagi sayang, gimana semalam kamu anterin Siska kemana?" tanya Mamah Adrian.
__ADS_1
"Ke apartement Mah,"
"Oh kirain ke rumah orang tuanya!"
"Ga Mah, Siska hari ini pemotretan lagi, jadi dia belum bisa pulang ke rumah orang tuanya,"
"Ya sudah kita makan saja dulu,"
Mereka pun sarapan bersama dengan keheningan, menyantap sarapan dengan khusu.
Setelah selesai sarapan, Adrian pun berpamitan berangkat ke kantor sendiri, biasanya Bian selalu menjemput dan pergi bersama ke kantor, karena kemarin dia pergi makan malam, jadi bian tak membawa mobil Adrian seperti biasa.
"Mah.. Pah Iyan berangkat dulu ya, " pamit Adrian sambil mencium tangan orang tuanya bergantian.
"Iya sayang hati-hati ya, jangan ngebut-ngebut loh!" sahun Mamah Andini.
"Iya hati-hati Yan di jalannya!" sahut Papah Darren.
"Siap Mah..Pah.. " sahut Adrian sambil tangan di letakan di kening memberi hormat, dan lalu Adrian pun berlalu meninggalkan tempat makan keluar rumah, tak lupa Azkia mengikuti tuannya sambil membawakan tas kerja tuannya.
β
Di tempat lain Siska masih nyaman dalam balutan selimut yang menggulung seluruh tubuhnya.
"KEBAKARAN... KEBAKARAN..." Mia berteriak membangunkan Siska agar sahabatnya itu cepat bangun, karena jam 7 ada pemotretan sedangkan sekarang sudah jam 7.30 Siska belum siap apapun bangun pun belum.
Siska yang tertidur lelap, langsung membuka matanya dan terbangun dan meloncat ke lantai dingin dengan panik.
"Mana... kebakaran mana... !" Siska seperti orang linglung.
Mia yang melihat itu, tertawa terbahak karena lihat tingkah Siska yang panik.
"Ha.. ha.. ha.. Siska Siska makannya kalo tidur itu jangan kaya kebo, susah bener di bangunin, jam berapa ini cepat mandi, dan bersiap jangan lama ku kasih 10 menit." Sahut Mia sambil tertawa.
"Miaaaa... kamu keterlaluan... " Siska yang baru sadar melihat sang sahabat sekaligus manager nya yang bisa bisanya mengerjai nya.
"Apa.. kamu sih yang ngebo tidurnya, cepat madi sana, marah nya nanti saja, cepat nanti kita terlambat." sahut Mia memberi tahu Siska untuk cepat mandi.
"Huuh..." dengus Siska sambil melangkah menuju kamar mandi.
"Ah sial kenapa aku kesiangan sih, ini gara-gara makan malam sama orang tua Adrian bikin pusing, mama Adrian menyebalkan huuh.." gerutu Siska setelah masuk kamar mandi sambil melepaskan kain yang membungkus tubuhnya, setelah polos Siska langsung melangkah ke bawah sawer lalu menuntaskan ritual mandinya.
Mia yang melihat Siska masuk kamar mandi sambil menghentak-hentakan kaki dan membanting pintu saat masuk kamar mandi, hanya menggelengkan kepala, lalu Mia menyiapkan baju untuk Siska kenakan sekarang, dan perlengkapan untuk Siska pemotretan, untungnya tempat pemotretan tak jauh dari apartemen Siska.
__ADS_1
Tepat 10 menit Siska pun keluar kamar mandi dan bergegas memakai pakaian yang sudah di sediakan oleh Mia, dan setelah itu Siska pun merias wajah dan menata rambutnya asal rapih.
"Sudah siap Sis! ayo cepat dandan di lokasi saja, nanti kita terlambat." tanya Mia,
"Iya bawel" sahut Siska sambil memutar bola matanya malas.
Mereka pun meninggalkan apartemen lalu menuju parkiran di basement apartemen di mana mobil Siska terparkir.
β
Di Mansion Anderson tuan Darren dan nyonya Andini sedang berbincang di ruang santai sambil nonton TV dan di temani teh hijau dan di temani cemilan seperti biasa.
"Pah..! kok mamah merasa yang kemarin Siska jawab tentang pekerjaan orang tuanya bukan yang sebenarnya ya? papah cari tau dong tentang dia, mamah bener-bener kawatir tentang keputusan Adrian, hati mamah gak tenang gitu pah!"
"Iya mah, papah juga merasa ada yang ganjel di hati papah, nanti papah suruh Rama cari tau tentang Siska, semoga aja perasaan kita bukan pertada buruk ya mah,"
"Iya pah, sekarang aja papah telpon Rama, biar lebih cepat lebih baik."
"Oke, papah telpon Rama sekarang mah."
Tuan Darren pun langsung mengeluarkan ponselnya keluaran terbaru yang berlogo apel habis digigit di saku celana, tuan Darren pun langsung mendial nama Rama di ponselnya.
"Hallo tuan, ada yang bisa saya bantu?" jawab Rama saat panggilan tersambung dan di angkat oleh Rama.
"Iya Rama, ada tugas untuk mu, tolong selidiki tendang Siska pacar anak saya semua tentang dia sedetail-detailnya."
"Baik tuan, saya akan berusaha mengumpulkan informasi selengkap mungkin."
"Oke, saya tunggu kabarnya secepatnya ya Rama."
"Baik tuan, ada lagi perintah atau tugas yang lain?"
"Sudah itu saja untuk sementara, kerjakan sekarang ya!"
Setelah itu tuan Darren pun mematikan ponselnya.
"Gimana pah? apa kata Rama?"
"Tenang aja Rama akan mengumpulkan informasi lengkap tentang Siska."
"Syukurlah semoga Rama secepatnya, menemukan faktanya sebelum rencana pernikahannya nanti."
"Iya mah tenang saja ya."
__ADS_1
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...