Maid Pribadi Tuan Muda Anderson

Maid Pribadi Tuan Muda Anderson
BAB 42


__ADS_3

💝.....


💝.....


💝.....


Hari minggu pun tiba, setelah hari sebelumnya tuan besar dan nyonya berbicara dengan Azkia, dan Adrian pun sudah berbicara mengenai meresmikan tunangan antara dia dan sang kekasih, tuan besar dan nyonya pun setuju akan mengunjungi kediaman Siska guna untuk melamar secara resmi dan menetapkan hari pernikahan mereka.


Rencana Andini hari minggu ini akan membawa Azkia untuk merubah penampilannya gagal, tapi ia sudah berbicara soal sudah memboking salon pada dari minggu dan Kia harus pergi dengan di temani Mira karena ia tak bisa mengantarnya, karena hari ini akan mengantar sang anak semata wayangnya melamar sang kekasih penipu itu, sebenarnya ada kesal dan perdebatan kecil di antara Adrian dan nyonya Andini saat membicarakan atas lamaran itu.


FLASHBACK ON


Di ruang santai seperti biasa mereka berkumpul setelah makan malam, sambil nonton sambil minum teh hangat di temani kue buatan Azkia yang selalu dia buat, hari ini Adrian mau membicarakan tentang meresmikan lamarannya pada sang kekasih hati.


"Mah, Pah, Iyan mau bicara?"


"Bicaralah sayang, apa itu hal penting?" sahut sang Mamah.


"Iya Mah, Pah, ini penting, mengenai lamaran Iyan waktu lalu yang ingin meresmikan nya, hari minggu ini bisakan Mah Pah?"


"Maksud kamu mau melamar Siska secara resmi!begitukah?" kini tuan Darren yang menyahut Adrian dengan pura-pura terkejut.


"Minggu ini Mamah udah ada acara sayang, memang mau jam berapa acaranya? hmm?"


"Iya Pah, Mah, rencananya iyan ke rumah Siska saat acara makan siang, dan Siska pun sudah menyetujui nya, bagai mana Pah, Mah?"


"Terus acara mamah bagaimana, kenapa kamu bilangnya mendadak begini sih!" sahut Andini sambil cemberut.


"Iya Yan, kenapa kamu ngomong nya mendadak begini kita cuma punya waktu 2 hari persiapan, apa kamu sudah mempersiapkan semuanya?"


"Udah aku suruh Bian dan Nadia yang urus, dan besok Bian akan mengantarkan segala persiapannya."


"Terus gimana nasib Mamah? mamah kan udah punya acara Yan?" tanya Mamah Andini dengan nada merajuk.


"Mamah kan bisa tuh, majuin hari esok sabtu?" kata sang suami pada sang istri.


"Nah iya benar kata Papah, please Mah ini hari penting Iyan, Mamah mau kan?" sahut Adrian sambil memohon pada sang Mamah.


"Hmm.. ya sudah deh, apa sih yang gak buat anak mamah tersayang, ya sudah mamah mau ke kamar menelpon teman-teman mamah dulu." sahut Andini padahal alih-alih menelpon teman-temannya ia malah menemui Azkia.


FLASHBACK OFF

__ADS_1


Hari minggu pagi ini semua orang di Mansion Anderson di sibukan dengan persiapan untuk nanti siang.


Sedangkan di kediaman Siska mempersiapkan ala kadarnya, sesuai yang ia pernah ceritakan keadaannya, guna untuk memenuhi perannya sebagai anak dari kalangan menegah ke bawah.


Tepat pukul 10.00 WIB mereka telah siap berangkat dengan 1 mobil dan di antar oleh sang supir, karena perjalanan lumayan jauh jadi harus lebih awal berangkat ke kediaman Siska.


"Mah, Pah, sudah siap?"


"Sudah dong, apa kamu gak lihat Mamah sudah cantik begini!" sahut Mamah Andini masjid memutar bola matanya malas.


"Iya Mah Iyan lihat kok Mamah udah cantik," sahut Adrian sambil memeluk dan mencium sang Mamah.


"Heh, ngapain cium-cium isti saya?" geram Darren pada sang anak sambil menjewer telinganya.


"Aduh-aduh sakit Pah, ya elah cuma cium pipi doang pelitnya minta ampun." sahut Adrian sambil memutar bola matanya malas.


"Sudah-sudah, ayo kita berangkat saja, nanti telat lagi, ini perjalanan jauh belum kejebak macet, hari minggu itu hari macet."


"Iya ayo." sahut Adrian dan Darren bersamaan.


"Nah gitu dong kompak, jangan berdebat mulu." sahut Andini sambil melenggang pergi meninggalkan anak dan suaminya.


"Dih Papah lebay banget." cibir Adrian.


Darren tak mendengar perkataan cibiran anaknya, iya hanya ingin bergandengan dengan sang istri.


Mereka pun sampai di depan dan mobil pun sudah siap dengan sang supir yang sedari tadi sudah menunggu sang majikan.


Sang supir pun membukakan pintu untuk sang nyonya lebih dulu, lalu membuka pintu untuk sang tuan besar di sebelah sang nyonya, ya mereka duduk di belakang, sedangkan Adrian duduk bersebelahan dengan sang supir.


Setelah siap semuanya, sang supir pun melajukan kendaraan besi itu dengan kecepatan standar.


Di sisi lain di kediaman Siska sendang berdebat tentang persiapan dan penampilan orang tuanya.


"Siska kamu gak salah Ibu dan Ayah mu harus berpakaian seperti ini?" tanya sang Ibu.


"Iya Siska, kenapa kita memakai baju biasa, kan calon besan kita orang kaya?" kata sang Ayah.


"Haduh kalian gak mengerti juga, udah berapa kali Siska bilang Siska itu udah ngaku sama mereka orang yang serba kekurangan, jadi kita harus ambil simpati mereka Ayah, Ibu, kalian mengerti kan?"


"Tapi.. " belum sempat melanjutkan perkataannya sudah di potong lebih dulu.

__ADS_1


"Tak ada tapi-tapi Bu, udah kalian nurut saja, awas ya jangan norak, dan ingat bersikap lah biasa jangan berlebihan, oke."


"Iya iya bawel," kata sang Ibu sambil meninggalkan sang anak dan suaminya.


Di sisi lain setelah kepergian sang majikan, Azkia sudah bersiap untuk pergi juga, dengan penampilan sederhana dan tanpa Make-up berlebihan pun Azkia sudah terlihat cantik alami.


Sedangkan Mira sudah menunggu Azkia keluar kamarnya di ruang makan, saat Azkia terlihat sudah keluar dari kamarnya, Mira pun berdiri dan menghampiri Azkia.


"Sudah siap Kia?" tanya Mira.


"Sudah Mbak, Mbak sudah siap?" tanya balik Azkia.


"Sudah kok, ayo keburu siang, kita pamit dulu sama Bi Inah dulu yuk."


Azkia hany mengangguk, dan mereka pun menuju kamar Bi Inah.


Saat sampai di depan pintu kamar Bi Inah Kia pun mengetuk pintu.


"Bi.. ini Kia, Kia mau pamit sama Mbak Mira!"


Ceklek, pintu kamar pun terbuka.


"Iya Kia, Hati-hati ya di jalannya, kalian berangkat sama mang udin kan?"


"Iya Bi kemarin Nyonya udah bilang sama mang udin untuk anter Kia sama Mbak Mira ke salon langganan nyonya."


"Ya sudah kalo gitu, nanti kabarin Bibi kalo kenapa-kenapa."


"Baik Bi kalo begitu kami pergi dulu."


Bi Inah hanya mengangguk saja, Kia dan Mira pun keluar menuju pintu utama, saat ke luar Mang udin sudah menunggu mereka sambil mengelap body mobil yang sudah dia cuci sebelum pergi.


"Mang Udin apa mobilnya sudah siap, saya sama Mbak Mira sudah siap berangkat." kata Kia saat sudah di depan Mang Udin yang sedang mengelap mobil sambil bersiul.


"Eh neng Kia, udah neng ayo berangkat kalo neng sudah siap."


"Iya Mang."


Mereka pun berangkat ketempat yang sudah di tentukan, Mang udin pun sudah tau karena sudah di beri tahu nyonya nya untuk mengantarkan Kia dan Mira.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2