Maid Pribadi Tuan Muda Anderson

Maid Pribadi Tuan Muda Anderson
BAB 66


__ADS_3

💝.....


💝.....


💝.....


Sore hari pun tiba, tak terasa mereka berbincang sampai sore dengan asik dan menegangkan bagi Yono, Yono tak menyangka dengan perkataan Papa dari wanita pujaannya.


Iya merasa terpacu dengan apa yang di katakan oleh Papa Azkia tapi di sudut rasa ego nya yang tinggi menolak untuk mengesampingkan perkataan Papa Azkia, iya hanya akan memperjuangkan cintanya yang belum terbalas.


Yono yang sudah bosan dengan perbincangan ini memutuskan untuk pamit pulang, karena wanita yang di tunggunya tak kunjung kembali.


"Maaf Om, saya pamit pulang dulu, masih ada sesuatu yang harus saya kerjakan." Yono berkata.


"Loh kok? Gak nunggu Kia nak Yono?" sahut Papa Darren.


"Salamin saja Om sama Kia dan Tante, maaf kalo ada perkataan saya yang tidak berkenan, senang bertemu sama Om, Tante, dan kak..!"


"Adrian itu nama Kakak Kia,"


"Ah.. Kak Adrian, kalau begitu saya pamit dulu Om, Kak."


"Ya hati-hati nak Yono."


Yono pun berlalu meninggalkan meja yang sedari tadi di tempatinya bersama Azkia.


Setelah Yono tak terlihat lagi baru lah Azkia dan Mama Andini datang.


"Loh Pa, Yono kemana?" tanya Azkia langsung mengeluarkan pertanyaan.


"Aduh Ki, kamu bikin kaget Papa saja, iya Ki Yono pamit karena ada urusan lain, salam aja katanya buat kamu sama Mama mu."


"Wa'alaikumsalam, maaf ya Pa lama menunggu, Papa udah makan?"


"Tak apa nak, gimana tadi? Kamu belanja apa saja sama Mama mu hmm?"


"Biasa lah Pa, keperluan cewek, Papa belum jawab pertanyaan Kia loh? Sudah makan belum?"


"Iya Pa, udah makan belum?"


"Belum, tadi mau makan sendiri gak enak lah Ma, Kia, mana anak Papa malah asik sama handphone nya dari tadi, jadi Papa ngobrol sama Yono saja, tapi Papa suka sama dia, apa kamu ada rasa sama terhadap Yono Ki?"


"Eh.. Emm.. Kia gak tau Pa, Kia gak mau belajar Kia malah terbengkalai hanya karena cinta."


"Nah ini baru anak Mama, kamu fokus saja dengan sekolah mu, kalau bisa kamu selesaikan dengan cepat."

__ADS_1


"Iya nak, Papa benar-benar salut dan bangga sama kamu, tak sia-sia kita menyayangi kamu Ki, iya kan Ma?"


"Iya Pa, benar. Kita cari tempat lain saja yuk Pa, cari tempat makan malam."


"Ah.. Ide bagus Ma, ayo kalo begitu kita pergi."


Adrian yang sedari tadi acuh saat mendengar Mama, Papa nya akan mencari tempat makan, iya mempunyai ide bagus untuk menggagalkan rencana Siska si pengkhianat.


"Pa, Ma, Iyan punya recommend tempat makan, gimana kalo Mama, Papa, dan Kia makan bersama aku dan Siska nanti, tapi kalian seolah tak janjian dengan kami, bagaimana Ma, Pa mau kan sekalian bantu Iyan?" kata Adrian sambil dengan harap-harap cemas mendengar jawaban mereka.


Mama Andini dan Papa Darren saling melirik dan memberikan isyarat satu sama lain.


"Apa da yang mencurigakan Yan?" tanya sang Papa.


"Iya Pa, Bian menemukan sesuatu yang janggal denga acara makan malam hari ini, karena Siska yang merencanakan makan malam malam ini."


"Baik lah, apa dia tak memesan ruang pribadi?"


"Entah Pa aku tak tau!"


"Ya sudah nanti kabari saja Yan, kalau begitu kita pulang saja dulu untuk bersiap makan malam, karena tak mungkin ke resto hotel dengan penampilan seperti ini." kata Papa Darren.


"Iya Pa, Iyan pun gerah nih sedari tadi jadi kacang pajangan." kata Adrian yang membuat Azkia menolehkan ke arah Adrian.


Tanpa wajah berdosa Adrian hanya acuh saat Azkia meliriknya.


Mereka pun langsung membelah jalanan membaur dengan kendaraan lain yang sedang berdesak-desakan yang ingin saling mendahului.


Berapa menit kemudian mereka pun sampai di Mansion Anderson.


Saat sampai pun mereka gegas masing-masing masuk kamar, lalu membersihkan diri dari keringat dan polisi.


"Kia, tolong sediakan air untuk ku."


"Baik tuan."


"Heh, kamu masih manggil tuan? Nanti kalau terdengar oleh Papa dan Mama pasti mereka mengira aku menindas mu."


"Ah.. Iya Mas maaf."


"Nah begitu dong, ayo cepat siapkan air panas untuk ku? Apa kamu mau sekalian mandi bersama dengan ku?"


Azkia yang mendengar bisikan di telinga kanannya seketika wajahnya memerah dan merinding berkepanjangan.


Azkia pun gegas dengan cepat menyediakan air panas di bathtub, setelah beres iya pun langsung keluar dari kamar mandi, tapi iya terhalang dengan Adrian yang baru akan masuk.

__ADS_1


"Bagaimana? Mau tidak?" lagi Adrian menggoda Azkia.


Muka merah tadi pun belum hilang sekarang malah di tambah Adrian menggoda lagi dan lagi, semakin matang lah muka Azkia dengan jantung yang seakan jatuh dari tempatnya.


"Mas, jangan begini, awas aku juga mau mandi sendiri, itu air panas nya nanti keburu dingin." kata Kia sambil mendorong Adrian dari pintu kamar mandi yang menghalangi ia yang akan keluar.


Adrian pun terdorong, puas dengan mengerjai Azkia, iya pun bergegas masuk dan menutup pintu saat Azkia telah melarikan diri dengan tergesa.


Azkia berlari keluar dari kamar sang tuan alias kakak angkatnya, langsung masuk ke kamarnya yang berada di pojok kanan tak jauh dengan kamar Adrian, hanya terhalang oleh ruang kerja Adrian.


"Hah.. Mas Adrian bikin jantung ku selalu tak sehat, berasa jantung ku jatuh dari tempatnya."


"Kok aku aneh ya, kok mas Adrian jadi mesum begitu ya, dulu kan dia orang nya kaya kulkas dua pintu huft, sudah lah lebih baik aku mandi."


Azkia pun gegas masuk kamar mandi dan memulai ritual mandinya.


Adzan Maghrib pun berkumandang, Azkia pun sebelum keluar kamar ia menunaikan shalat Maghrib lebih dulu, setelah beres baru iya keluar dengan setelan gaun lengan panjang 3/4 dan panjang dress di bawah lutut dengan kerah V tak terlalu rendah, dengan memoles wajahnya dengan makeup sederhana ia sudah cukup mempesona.


Adrian yang sudah pergi lebih dulu karena harus menjemput sang kekasih pengkhianat nya itu.


"Wah sayang kamu cantik banget, pantas saja teman mu sampai udah yakin banget sama kamu,"


"Ah Mama bisa saja, jangan terlalu memuji nanti aku terbang loh Ma." kata Kia dengan senyum malu nya.


"Sudah puji memujinya lanjut nanti, ayo kita berangkat sekarang, Adrian sudah perjalanan ke resto hotel kita harus datang bersamaan biar kesannya bertemu tak sengaja."


"Iya Pa, ayo sayang."


Akhirnya mereka pun pergi bertiga menuju resto hotel bintang lima dan hotel paling megah di kotanya.


Tak butuh waktu lama mereka pun sampai bertepatan dengan Adrian dan Siska yang sama-sama baru datang dan turun dari mobil.


Adrian yang pura-pura tak melihat Mama dan Papa nya datang, dia pun masuk dengan Siska melangkah ke arah resto.


Papa Adrian yang tau harus bagaimana,ia pun langsung menyapa sang anak dan calon menantu tapi tak akan pernah terjadi itu.


"Adrian, Siska, loh kalian ada disini juga?" kata Papa Darren yang sudah menyamai langkah mereka saat sampai di pintu masuk resto."


"Loh Papa, Mama, Kia ada di sini juga? kenapa kalian tak bilang kalo kalian mau makan malam di luar dan di tempat yang sama?"


Siska yang tadinya memperlihatkan wajah berseri-seri, sekarang redup sudah saat melihat sang calon mertua nya datang ke tempat yang sama.


Siska gelisah saat tau ada sang mertua, ia tidak mungkin tak mengajak mereka makan bersama di ruangan private yang ia sudah pesan dari seminggu yang lalu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2