Maid Pribadi Tuan Muda Anderson

Maid Pribadi Tuan Muda Anderson
BAB 39


__ADS_3

💝.....


💝.....


💝.....


Setelah pelayan keluar, Andini langsung melempar pertanyaan panjang lebar pada suaminya. "Pah, ada apa sih? Sampai harus mamah datang ke sini? Sepenting apa sih? Mamah itu tadinya mau bermain lagi sama anak-anaknya Rama! Alhasil, gak jadi karena ada telepon dari papah. Untungnya mereka belum menuju rumah kita, jadi mamah tadi telpon Rina," cecar sang istri.


"Ya ampun mah, satu-satu dong mah nanya nya! Papah kan jadi pusing dengernya," sahut Darren dengan menghela nafasnya.


"Hehe.. maaf pah, mamah cuma penasaran saja, karena tak biasanya papah ngajak mamah ke luar hanya ada hal yang dibicarakan penting!"


Pembicaraan mereka terhenti sesaat, saat sang pelayan masuk membawa pesanan. "Permisi, tuan nyonya. Saya pelayan yang membawa pesanan. Silahkan menikmatinya, saya permisi tuan dan nyonya."


"Terima kasih."


Setelah pelayan itu pergi, mereka pun melanjutkan percakapannya. "Gini mah, tadi papah makan siang di kafe tempat favorit Adrian dan pacarnya. Dan papah sudah dengar rencana mereka akan mempertemukan kita sama orang tua pacar Adrian itu, dan papah punya rencana. Kita harus berakting dan lihat mereka akan bereaksi bagaimana?"


"Wah seru nih, kayanya pah. Mamah akan berakting dengan sepenuh hati. Jadi, gak sabar nih dengan rencana kita pah. Terus sudah itu apa yang akan direncanakan?"


"Tenang saja, mah. Papah sudah serahkan segalanya pada Rama dan anak buahnya. Mamah setuju kan dengan rencana papah waktu itu?"


"Tentu saja, mamah udah tak sabar, apa lagi mamah udah benar-benar jatuh cinta sama Kia, pah. Papah juga sama kan?"


"Tenang, mah! Dalam waktu 6 bulan, papah akan bereskan rencananya atau mamah mau lebih cepat?"


"Kalau mamah sih lebih cepat lebih baik, karena mamah udah gak sabar ingin memong cucu hehe.."


"Oke, nanti papah akan atur strategi sama Rama."


Mereka pun melanjutkan percakapan demi percakapan, sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Mereka pun bergegas pulang. "Mah sudah sore, ayo kita pulang. Papah kangen kue buatan Kia rasanya."


"Ayo pah, mamah juga. Eh, bentar mamah nelpon Kia dulu."


Setelah menelpon, mereka pun keluar ruangan dan langsung ke kasir untuk membayar. Setelah itu, mereka pun meninggalkan kafe.

__ADS_1


Di sisi lain, Adrian baru saja menyelesaikan pertemuan dengan rekan bisnisnya setelah makan siang bersama dengan sang pujaan hati. "Terima kasih, tuan Hendra. Semoga kerja sama kita terjalin dengan baik dan dilancarkan segalanya. Aamiin."


"Aamiin, terima kasih juga. Senang bekerja sama dengan Anda. Kalau begitu, saya pamit duluan dengan sekretaris saya, berhubung sudah mendekati jam pulang kerja juga."


"Silahkan, tuan Hendra. Kita juga akan pulang."


Setelah kesepakatan yang mereka lakukan, mereka pun berjabat tangan sebagai tanda kerja sama yang terjalin dengan baik, dengan senyuman lebar dari keduanya, bukti dari kesepakatan yang sangat memuaskan. Mereka pun keluar dari ruangan pertemuan bersama-sama, sampai di depan pintu ruangan, mereka pun berpisah. "Kalau begitu, permisi, tuan Adrian."


"Silahkan, tuan Hendra. Hati-hati di jalan."


Setelah melihat Hendra dan sang asisten pergi dengan mobilnya, sekarang Adrian langsung pulang dengan kendaraannya. "Bian, Nadia, kalian pulang bersama lagi, atau kalian akan ke kantor dulu atau langsung pulang?"


"Kekantor dulu baru pulang, karena tak mungkin membawa berkas ke rumah, karena rumah tempat istirahat bukan untuk mengerjakan pekerjaan," sahut Bian, sedangkan Nadia hanya diam saja mengikuti bagaimana yang membawanya pergi.


"Ya, ya, ya, terserah kamu. Jangan sampai Nadia ditinggal saja. Lihat dia hanya pasrah saja. Ya sudah, saya pulang duluan."


"Silahkan, tuan."


Adrian pun berlalu dengan kendaraannya yang selalu menemani kemana pun dia pergi, tinggal Bian dan Nadia sekarang. "Nad, ke kantor dulu ya, terus kita pulang. Tak apa kan?"


"Haish, kamu begitu pasrah. Apa kamu mau kalau saya bawa kamu masuk jurang? Hmm?" lagi Bian berkata dengan kesal, karena baru kali ini melihat wanita begitu pasrah.


"Bukan begitu, tuan. Saya hanya mengikuti tuan karena kita masih jam kerja," sahut Nadia dengan menundukkan kepalanya dengan malu.


"Ya sudah, ayo naik mobil. Tukang palet sudah datang membawa mobilnya."


"Baik, tuan."


Mereka pun pergi dari gedung kafe yang tadi mereka singgahi bersama klien bosnya.


Tepat jam 5 sore, Adrian pun sampai di mansion. Tak lupa, sambutan dari Azkia yang tak pernah absen. "Selamat sore, tuan," safa Azkia sambil menundukkan setengah badannya.


"Sore juga, Kia," sahut Adrian sambil memberikan tas kerjanya pada Azkia. Adrian pun masuk ke dalam langsung menuju kamarnya. Mungkin, setelah makan siang, ia akan membahas perihal lamaran yang akan dilakukannya terhadap sang kekasih. Untungnya, di ruang santai tak ada orang tuanya, sehingga dia dengan lancar melangkah menuju kamarnya.


"Kia, mamah dan papah kemana? Tak terlihat di ruang santai?" Ya, Kia ada di belakang Adrian mengikuti sang tuan.

__ADS_1


"Tuan besar dan nyonya ada di kamarnya, tuan muda!" sahut Kia.


"Tumben mereka masih berada di kamar?" lagi Adrian bertanya.


"Tuan besar dan nyonya pun baru pulang dari 10 menit yang lalu, tuan muda!" sahut Kia kembali.


"Hah, emang mamah sama papah dari mana?" lagi Adrian bertanya karena semakin penasaran.


"Maaf, tuan. Saya tidak tahu," sahut Kia.


"Oh, ya sudah. Tak apa, Kia."


Tak terasa mereka pun sampai di kamar Adrian. Kia, yang sedari tadi mengikuti tuannya, langsung masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk mandi sang tuan, sedangkan Adrian membuka jas dan dasinya lalu membuka sepatunya sambil duduk di atas sofa yang ada di kamarnya. Tak lama, Kia pun keluar dari kamar mandi setelah air hangat sudah penuh di atas bathup.


"Tuan, air hangat sudah siap," kata Kia.


Hanya dengan menganggukkan kepala merespons jawaban Kia, Adrian langsung masuk ke kamar mandi sambil membuka kancing kemejanya. Sementara itu, Kia pun merapikan jas kerja dan dasi lama yang disimpan di atas sofa. Ketika Kia hendak keluar, Adrian memanggilnya dari celah pintu kamar mandi sambil menyembulkan kepalanya.


"Kia, apakah kamu masih di sana?"


"Iya, tuan. Ada yang bisa saya bantu?"


"Sangat berterima kasih, tolong buatkan kopi seperti biasa?"


"Tentu, tuan. Apakah ada yang lain?"


"Sekedar itu saja."


"Baiklah, kalau begitu saya minta izin."


Sementara Adrian melanjutkan ritual mandinya, Kia menuju dapur untuk menyeduh kopi pesanan sang tuan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mohon maaf, penulis sempat terkendala sehingga baru bisa mengunggah kembali sekarang. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2