
π.....
π.....
π.....
Setelah menerima telepon dari orang kepercayaannya, tuan Darren bergegas masuk kembali ke ruang pribadi yang mereka tempati, dan berpamitan pada istri dan anaknya serta calon mantu yang tak akan pernah jadi itu, Papa Darren sengaja pergi sendiri, karena Andini dan Azkia masih ada Adrian yang akan mengantarkan mereka pulang.
Siska makin murka setelah melihat calon Papa mertuanya hanya pergi sendiri, tanpa membawa istri dan anak angkatnya.
Tepat jam 9 malam mereka pun sepakat untuk pulang, dengan Adrian yang mengantarkan Siska lebih dulu, lalu setelah mengantar Siska baru Adrian mengendarai mobil nya menuju kediaman Anderson.
Tepat pukul 10 malam mereka pun sampai, dan langsung masuk kamar masing-masing, karena sudah kelelahan.
"Akhirnya sampai juga, untung saja malam ini tak jadi kena jebakan Siska huft...! Pasti wanita itu uring-uringan saat rencananya gagal total. Hahaha...." monolog Adrian saat ia masuk kamar dan berganti pakaiannya.
Di sisi lain Siska benar-benar mengamuk, sampai di apartemen iya langsung membanting semua benda yang ada di depannya.
"Aaakh... Sial sial sungguh sial... Kenapa harus sesial ini sih, percuma aku sudah menyusun rencana dari jauh hari tapi gagal juga aaakh..." racauan Siska saat sampai di apartemen nya.
Keesokan harinya, keluarga Anderson seperti biasa mereka sarapan bersama.
Di meja makan sudah ada Azkia, Adrian, Mama Andini dan Papa Darren, mereka pun sarapan dengan tenang tanpa ada kata atau membahas sesuatu.
Setelah mereka selesai sarapan, satu persatu mereka meninggalkan meja makan.
"Ma.. Papa berangkat dulu ya."
"Iya Pa, hati-hati jangan sampai kena jebakan Siska lagi." ingat Andini.
"Siap Ma, tenang saja, ada Rama yang selalu setia dan cepat tanggap terhadap masalah ini."
"Iya Pa," sahut Andini lalu ia melihat pada anak-anaknya.
"Yan, kamu antar Kia sekalian kan?" tanya Andini.
"Gak Ma, Kia masuk jam 10 nanti." sahut Kia.
"Oh, kirain kuliah pagi sayang! Ya sudah kamu berangkat sana Yan, kasihan Bian udah nunggu kamu."
"Iya Ma Iyan pergi dulu, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam hati-hati ya sayang, Bian jangan ngebut-ngebut."
"Iya Tante siap, kalau begitu pamit dulu, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam warohmatulohi wabarokatuh." jawab Mama Andini dan Azkia.
Adrian dan Darren pun sudah pergi sekarang tinggal Andini dan Kia yang masih di rumah.
"Sayang, temani mama nonton dulu yuk sebelum kamu kuliah, nanti kita berangkat bersama, Mama juga ada urusan."
"Iya Ma."
__ADS_1
Mereka pun menuju ruang santai, lalu menonton Box office film yang selalu mereka tonton bersama.
β
Tepat jam 9, Azkia dan Andini berangkat bersama, Azkia menuju kampus, sedangkan Andini bertemu dengan teman sosialitanya.
Tak butuh waktu lama Azkia lebih dulu sampai di kampusnya
"Ma, Kia duluan ya?"
"Iya sayang, belajar yang tekun biar nilai-nilai kamu bagus dan bisa membuat bangga Mama dan Papa."
"Iya Ma, Kia tak akan kecewain Mama dan Papa. Ya sudah Ma, Kia duluan, assalamualaikum." pamit Kia pada Andini dia tak pernah lupa selalu mencium tangan wanita yang hampir menginjak setengah abad.
"Wa'alaikumsalam warohmatulohi wabarokatuh." jawab Andini, setelah melihat sang anak angkat masuk ke gedung kampus, Andini pun langsung meminta mang Asep meninggalkan halaman kampus Kia.
Mang Asep pun melajukan kendaraan roda 4 itu ke jalanan yang cukup ramai lancar.
Di sisi lain Darren yang sedang menyusun rencana pernikahan sang putra semata wayangnya dengan Rama, mereka membahas sangat serius karena memang waktu hari H itu tinggal 10 hari lagi.
"Rama, apa rencana yang kita susun sudah sesuai dengan rencana?" tanya Darren pada Rama.
"Sudah tuan, tuan tenang saja kali ini kita tak akan gagal, karena anak buah saya sudah menyusun dengan sempurna, tak akan ada yang berani menggagalkannya, sekalipun itu Siska atau Rico." jelas Rama panjang lebar.
"Bagus, kamu pantau terus jangan sampai lengah, mereka selalu ada rencana licik, jadi jangan sampai kecolongan." tegas Darren.
"Baik tuan, saya akan selalu menyuruh anak buah saya memantaunya setiap saat." sahut Rama.
"Bagus, kamu boleh melanjutkan pekerjaan kamu lagi."
"Ya."
Setelah Rama keluar dari ruangannya, Darren pun langsung berkutat dengan dokumen yang menumpuk di atas meja.
Di sisi lain Siska dan Rico sedang berdebat karena kejadian semalam, yang rencana Siska gagal total.
"Ini semua gara-gara kamu yang gak mau denger kata-kata ku.."
"Terus aja nyalahin aku, bukannya cari solusi kamu malah terus nyalahin aku.."
"Aaaakh.... Terus sekarang harus bagai mana Sis, aku benar-benar buntu sekarang!"
"Kamu itu laki-laki harusnya punya segala ide bagus, kamu hanya memikirkan diri sendiri saja huuuh.."
"Apa kamu bilang?"
Pertengkaran itu makin sengit, karena saling menyalahkan, karena ego masing-masing, mereka tak mau kalah satu sama lainnya, bukannya solusi yang di dapat, malah pertengkaran hebat yang mengeluarkan ego masing-masing.
Kita tinggalkan mereka yang bertengkar hihi..
Adrian sedari tadi fokus dengan dokumen yang iya kerjakan.
Tak lama kemudian, pintu ruangan di ketuk.
__ADS_1
Tok..
Tok..
Tok..
Adrian yang sedang fokus pun mendongak dan menyuruh masuk pada sang pengetuk pintu ruangannya.
Setelah di persilahkan masuk, Bian pun masuk bersama dengan anak buahnya.
Ya, yang tadi mengetuk pintu ruangan Adrian adalah Bian sang asisten sekaligus sahabatnya.
"Maaf tuan saya mengganggu? Saya membawa anak buah saya yang menyelidiki tentang kekasih anda!" Kata Bian saat dia masuk.
Adrian pun mendongak Melihat Bian dan anak buahnya berdiri di depan meja kerjanya.
"Duduklah dulu, saya akan selesaikan dokumen sedikit lagi." kata Adrian.
"Baik tuan terimakasih." sahut Bian dan anak buahnya.
Tak memakan waktu lama Adrian pun menyelesaikan pekerjaan yang iya kerjakan sedari tadi.
Adrian pun berdiri dari kursi kebesarannya dan menghampiri Bian dan anak buahnya yang lain, lalu iya duduk di sofa single di samping sofa doubel yang di duduki sang asisten dan anak buahnya.
"Bagaimana?" tanya Adrian saat dia duduk.
"Ini tuan semua berkas bukti yang saya dapatkan semua rencana nona Siska dan tuan Rico rencanakan."
Adrian langsung mengambil berkas bukti itu dan iya langsung melihat dengan seksama.
Iya tersenyum smirk iya akan perkarakan semua perbuatan sang kekasih eh ralat sang pengkhianat itu lah julukan pantas untuk Siska saat ini menurut Adrian.
"Kerja bagus, kamu terus pantau sampai hari H jangan sampai mereka mengetahui rencana kita."
"Baik tuan, saya akan usahakan semaksimal mungkin untuk berhati-hati selama pengintaian."
"Oke, saya tunggu kerja kalian selanjutnya, Bian jangan lupa kasih mereka bonus atas kerja keras mereka."
"Baik tuan, saya akan siapkan bonus untuk mereka,"
"Kamu sudah boleh pergi,"
"Terimakasih tuan, kalau begitu saya pamit, permisi."
"Hmm.."
"Apa tuan masih ada yang saya bisa bantu?"
"Tidak, kamu juga boleh pergi,"
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi."
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
__ADS_1
Bersambung.....
Maaf up terlalu lama karena RL yang tak bisa di tinggal ππ