Maid Pribadi Tuan Muda Anderson

Maid Pribadi Tuan Muda Anderson
BAB 70


__ADS_3

💝.....


💝.....


💝.....


Beberapa saat, akhirnya Siska datang dengan Ayah dan Ibunya.


Dengan di sambut oleh Adrian yang sudah menunggunya di lobby hotel.


"Maaf ya sayang aku datangnya telat!"


"Iya gak apa-apa kok, ayo kita ke atas biarkan koper sama karyawan hotel saja!"


"Nak Adrian, apa Ibu sama Bapak juga ikut?"


"Tentu saja Bu! Ayo keluarga besar saya sudah berkumpul, dan menunggu."


"Ya sudah ayo Bu, Yah, ayo sayang."


Mereka pun gegas menaiki lift untuk makan malam keluarga, setelah masuk lift tak lupa Adrian menekan tombol lantai paling atas untuk menuju tempat makan malam bersama keluarga besar Anderson.


Tak butuh waktu lama lift pun berhenti, dan terbuka, saat pintu lift terbuka, mereka pun keluar bersamaan.


Adrian pun membawa Siska bersama Ibu dan Ayahnya bergabung bersama keluarga besar Anderson.


Mereka pun bergabung dengan keluarga besar Anderson.


Dengan percaya diri Siska melangkah kaki ke dalam ruangan itu bersama Adrian, dengan wajah angkuhnya.


Siska merasa aneh karena semua orang yang ada di sana tak ada yang menyambut mereka dengan hangat, senyum pun tak ada.


Tapi, itu semua tak masalah bagi Siska, yang paling penting bagi Siska adalah besok hari pernikahan dia dan Adrian akan berlangsung.


Satu jam berlalu mereka semua selesai makan malam dan semua anggota keluarga kembali ke kamar masing-masing.



Keesokan harinya semua keluarga tengah di sibukkan di masing-masing kamar yang akan menghadiri pernikahan Adrian.


Tok...


Tok...


Tok...


"Sayang, buka pintunya?"


"Iya sebentar ma!"


Ceklek.. "Mama, masuk Ma,"


Andini pun masuk setelah di persilahkan masuk oleh Azkia, ya Andini memang mengetuk pintu sang anak angkat.


"Kamu sudah mandi?"

__ADS_1


"Sudah Ma, ini baru mau pakai baju yang Mama kasih."


"Ya sudah kamu pakai bajunya, Mama tunggu di sini, jangan dandan dulu ya sayang!"


"Iya Ma."


Andini duduk menunggu Azkia, sedangkan Azkia masuk ke kamarnya lagi untuk memakai pakaiannya.


Sedangkan Papa Adrian yaitu tuan Darren sedang sibuk mengatur ballroom bersama Rama sang asisten.


Saat semua sedang sibuk Adrian yang sedang didandanni di kamarnya, ponsel Adrian berdering menandakan ada panggilan masuk.


Tring...


Tring...


Tring...


Adrian melirik ponselnya yang berada di atas meja rias yang ia sedang duduk di sana, melihat nama sang asisten sekaligus sang sahabat Adrian pun langsung mengangkatnya.


"Ya.. Ada apa?"


"......."


"Hah benarkah?"


"......."


"Apa?"


"......."


"......."


"Ya aku tunggu kabar baik dari kamu, aku akan telpon Papa."


Adrian langsung mematikan panggilannya setelah ia selesai berbicara, lalu Adrian pun bergegas untuk menelpon pada sang Papa.


Tut...


Tut...


Tut..


Dering pertama lewat, ke-dua pun lewat sampai dering ke lima baru telpon diangkat oleh sang Papa.


"Halo Pa!"


"Ya ada apa Yan?"


"Gawat Pa, Siska..."


"Iya Siska kenapa? Ngomong yang benar Yan, tarik nafas lah lebih dulu!"


Adrian pun menarik nafas beberapa kali, setelah dirasa lebih tenang baru Adrian menjelaskan apa yang terjadi pada Siska.

__ADS_1


"Apa? Kenapa semuanya bisa terjadi?"


"Tidak tau Pa, apa mungkin dia tau rencana kita?"


"Tidak mungkin Yan, Papa yakin dia ada yang membantu selain kekasih gelapnya itu."


"Bisa jadi Pa, tapi tadi Bian sedang menyelidikinya, tolong Papa bantu Bian ya Pa!"


"Tenang saja Papa akan bantu, dan Papa sudah menyiapkan segala kemungkinan ini pasti terjadi, jadi kamu tetap bersiap, karena pernikahan kamu akan tetap terlaksana."


"Iya Pa, terimakasih, ehh.. Kata Papa bagaimana?"


"Kata Papa kamu akan tetap melakukan pernikahan dengan pengantin pengganti?"


"Hah, Papa... yang benar saja dong, siapa orangnya?"


"Kamu tenang saja Yan kamu pasti gak akan menyesal, sekarang kamu fokus saja jangan banyak pikiran."


"Tapi.. Pa.."


Tut.. Tut.. Tut..


"Ah.. Papa kenapa sih malah di tutup! Siapa pengantin penggantinya? Ah bikin penasaran saja." teriak Adrian dengan prustasi.


"Tuan... ada apa?" tanya sang perias.


"Tidak, ayo teruskan riasan ku."


"Baik tuan."


Sang perias pung melanjutkan pekerjaannya dengan baik.


Di sisi lain Andini sudah berhasil membawa Azkia ke ruangan rias khusus pengantin.


Azkia menurut saja iya tak banyak bertanya, karena iya tahu bertanya pun akan sia-sia karena Mama Andini tak akan menjawabnya.


Darren yang sudah mendapatkan info dari sang anak, dia sengaja saat menerima telepon dengan expresi terkejut, padahal di tempatnya ia tersenyum senang.


"Tenang saja Nak, Papa dan Mama tau yang terbaik untuk kamu, Papa yakin kamu akan tersenyum lebar, saat tau pengantin pengganti nya adalah wanita yang kamu sukai." gumam Darren dengan senyum lebarnya.


Tak lama setelah Darren menerima telepon dari sang anak, lalu ia menghubungi sang istri.


"Halo Ma! Bagaimana? Sudah beres?" tanyanya.


"Iya Pa, sudah siap, Mama sudah ada di tempat rias, Azkia sedang dirias oleh MUA yang kita sewa." jawabnya


"Bagus, Mama paling the best, Papa makin cinta deh sama Mama muach.."


"Iya dong, Mama gitu loh." bangga dirinya sendiri."


"Ya sudah dulu ya Ma, Papa selesaikan yang lain dulu."


"Iya Pa."


Mereka pun memutuskan sambungan telepon, dan fokus ke hal utama yang mereka sedang lakukan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.....


__ADS_2