Maid Pribadi Tuan Muda Anderson

Maid Pribadi Tuan Muda Anderson
BAB 40


__ADS_3

💝.....


💝.....


💝.....


Setelah Azkia bikinkan kopi untuk tuan muda nya, ia pun langsung mengantarkan kopi tersebut.


Tok.. tok.. tok..


Setelah Azkia mengetuk pintu kamar tuan muda nya ia pun langsung masuk, karena ia tau sang tuan pasti masih mandi, tapi dugaan nya salah, saat Azkia masuk kamar sang tuan, bersamaan Adrian pun keluar dari pintu kamar mandi.


"Aaah... ma-maafkan saya tuan, saya kira tuan masih di kamar mandi!" kata Azkia sambil menundukkan kepalanya dalam sambil memegang nampan yang berisi kopi pesanan sang tuan.


"Hmm.. sudah sudah ini bukan salah kamu juga, memang saya berendam cuma sebentar, kamu sudah boleh mengangkat kepala mu." sahut Adrian sambil tersenyum tipis yang hanya sebelah susut bibirnya yang terangkat, yang pertanda artian yang hanya dia saja yang tau.


Azkia pun perlahan mengangkat kepalanya dengan perlahan, untuk melihat apa tuannya suda memakai baju atau tidak.


"Ma-maafkan saya sekali lagi tuan." lagi Azkia meminta maaf dengan terbata pertanda ketakutan akan tuannya marah seperti biasanya.


"Iya, sini kopinya lambat, saya kan sudah bilang tidak apa." sahut Adrian sambil meminta kopi pesanannya.


"Ini tuan, kalau begitu saya pamit kembali tuan!"


Adrian hanya mengangguk kepalanya saja, dan langsung meneguk kopi buatan Azkia.


"Hmm.. harum dan rasanya benar-benar pas di lidah selera ku, kayanya aku akan kangen kopi buatan Kia setelah aku menikah dengan Siska." gumam Adrian dengan senyuman mengembang di bibirnya.


Di sisi lain Azkia yang sudah sampai di dapur, sambil memegangi dadanya yang sedari tadi tadi berdetak saat dia melihat Roti Sobek yang terpampang di tubuh sang tuan, Bi Inah yang melihat Kia datang sambil memegangi dadanya jadi heran sendiri, dan akhirnya Bi Inah pun bertanya karena penasarannya.


"Kia? kamu kenapa? kamu sakit? kenapa dadamu di pegang? apa dada mu sakit?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Bi Inah karena penasaran.


"Hah.. E-eh eng-enggak kok Bi, cuma jantung Kia kembali berdetak kencang setelah kejadian waktu itu, karena tadi Kia tak sengaja meliha tubuh kekar dan kotak-kotak tuan muda Adrian Bi." tanpa malu Kia menjawab pertanyaan Bi Inah dengan jujur.


"Ha.. ha.. ha.. Kia, Kia kamu itu benar-benar polos banget, sudah minum dulu nih," sahut bi inah sambil ketawa lepas dan memberikan air minum pada Azkia.


"Makasih Bi." Kia pun meneguk minum yang di berikan oleh Bi Inah sampai tak bersisa.

__ADS_1


"Gimana ceritanya sih Kia?"


"Itu loh Bi, biasanya tuan muda tuh manti paling sebentar 20 menit, tapi tadi aku antar kopi ke kamarnya tuan Adrian sudah keluar dari kamarnya, padahal aku bikin kopi cuma 10 menit itu udah waktu antar Bi!" sahut Kia menjelaskan kronologi yang di alaminya hari ini.


Bi Inah hanya senyum-senyum sedari tadi sambil tangannya tak diam dengan pisau di tangannya yang sering ia gunakan untuk mengupas dan memotong sayuran dan bumbu masak yang akan di masak untuk makan malam sekarang, Azkia pun langsung membantu Bi Inah mengambil daging dan lauk untuk di cuci dan di potong-potong sebelum di masak.


"Bibi senyum-senyum terus ish, Kia kan jadi malu sendiri, tahu begini Kia tak akan bilang jujur." kata Kia sambil memajukan bibirnya, sambil memotong daging yang sudah ia cuci.


"Bibi hanya senang saja, kamu udah mulai merasakan ada yang menggoyang kan hati kamu yang tadinya biasa jadi luar biasa!" sahutnya dengan senyum berkembang di wajah Bi Inah.


"Kok goyang sih Bi?" tanya Azkia dengan polosnya.


"Iya dong, kan getaran jantung kamu lebih kencang daripada awal sebelum kamu bertemu dengan tuan muda Adrian." sahutnya.


"He.. he.. iya sih Bi, udah ah ngobrolnya nanti masakannya telat kasihan tuan besar dan nyonya kalau harus menunggu." sahut Azkia kembali.


Bi Inah hanya senyum lebar atas jawaban apa yang Azkia lontarkan, mereka pun fokus dengan bakalan masakan yang akan di masak untuk makan malam.


Saat adzan maghrib berkumandang, mereka pun menunaikan ibadah sholat dahulu, meninggalkan pekerjaannya, lalu setelah menunaikan sholat maghrib mereka pun menyelesaikan pekerjaan memasak makan malam.


"Mau kemana Kia? kok mundur lagi?" tanya Andini sambil mengerutkan keningnya saat melihat maid yang sebentar lagi akan menjadi menantunya.


"Eh.. ini nyonya, tadinya saya mau memanggil nyonya, tuan besar, dan tuan muda untuk makan malam, tapi saya urungkan karena tuan besar, nyonya dan tuan muda udah berjalan menuju ruang makan." sahut Kia sambil tersenyum.


"Ooh.. kirain ada apa!" sahut Andini singkat.


Mereka pun menikmati makan malam dengan menikmatinya dan tanpa ada suara.


Setelah makan malam, tuan Darren memanggil Kia untuk menemuinya di ruang kerjanya.


"Kia.. kamu temui saya dan istri saya di ruang kerja saya ya!"


"Ah iya tuan, mau di ambilkan apa?" tanya Azkia.


"Seperti biasa teh dan cemilan, tapi kamu bikin teh nya 3 cangkir ya!"


"Baik tuan, nanti saya antarkan." sahut Kia sambil membereskan meja makan bekas makan para tuannya.

__ADS_1


"Pah, Mah, Iyan duluan ke kamar ya, hari ini Iyan capek mau istirahat lebih dulu."


"Iya sayang, istirahat semoga mimpi indah." sahut Andini sedangkan Darren hanya mengangguk.


Setelah Adrian meninggalkan mereka, mereka pun menyusulnya berjalan menuju ruang kerja.


"Ayo mah," sahut Darren sambil menarik tangan sang istri dan bertautan satu sama lain.


"Ayo pah," sahut nya dan mengikuti sang suami saat tangannya menyatu.


Saat mereka sampai di ruang kerja Darren mereka pun duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Mah nanti kamu yang ngomong soal rencana papah yang akan menguliahkan Kia waktu itu, papah sudah menyurpey kampus terbaik dan sudah mendaftarkan nya juga, tinggal tes yang akan di jalankan nya hari senin besok." kata Darren panjang lebar.


"Iya pah, mamah pikir papah belum mendaftarkan nya?"


"Udah mah, biar sekalian karena kalau nanti lagi tes nya akan 1 minggu ke depan."


"Ya sudah berarti mamah langsung to the point saja ya pah, bilang sama Kia?"


"Ya elah mah, basa basi dulu dong jangan main langsung aja."


"He.. he.. he.. iya iya pah."


Perbincangan mereka pun berhenti kala Azkia datang mengetuk pintu ruangan.


Tok.. tok.. tok..


"Masuk," sahut suami istri itu.


Azkia pun masuk dengan nampan di tangannya yang sudah berisi 3 cangkir teh dan 1 piring cemilan.


"Silahkan tuan, nyonya, cemilan dan teh nya."


"Terimakasih Kia duduk lah, ada hal yang saya dan suami saya sampaikan!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2