Maid Pribadi Tuan Muda Anderson

Maid Pribadi Tuan Muda Anderson
BAB 61


__ADS_3

💝.....


💝.....


💝.....


Sesampainya di Mansion, Adrian langsung masuk tanpa kata, ia merasa panas hatinya karena melihat Azkia yang sudah berbicara dengan seorang pria lain selain dirinya, ia tak tau kenapa hatinya terasa menggebu-gebu rasa panas menjalar memikirkan yang tidak-tidak.


Azkia yang melihat sangat tuan bergegas sendiri, ia pun mengikuti sang tuan dan tak lupa membawa tas kerjanya.


Saat sampai di lantai atas, Azkia masuk ke kamarnya lebih dulu untuk menyimpan tas yang tadi ia bawa kuliah, setelah itu ia menuju kamar sang tuan.


Tok.. tok.. tok..


CEKLEK..


Tanpa menunggu jawaban sang tuan, Azkia pun langsung masuk setelah mengetuk pintu kamarnya.


Azkia pun masuk tapi tak melihat sang tuan ada di dalam, tapi ia tak memikirkan itu, di taruh tas kerja sang tuan di atas meja sofa, lalu ia bergegas ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk sang tuan mandi.


Aaaaaa....


Saat Azkia masuk kamar mandi, ternyata sang tuan sudah ada di dalam dengan tubuh polosnya hanya saja celana bokser masih bertengger, tapi begitu pun Azkia kaget melihat itu, meskipun dia sudah beberapa kali ia lihat.


'Astaga kenapa aku harus lihat tubuh tuan Adrian lagi sih! tolong dong jantung kau kembali normal, aku takut lama-lama akan copot nih jantung, melihat dada bidang tegap dan mulus bikin jantung ini tak sehat, ya allah tolong aku.' gumam Azkia setelah ia melihat sang tuan bertelanjang dada lalu ia menutup kembali pintu kamar mandi sang tuan.


Adrian menoleh ke arah suara jeritan, ia hanya menyeringai tanpa memperdulikan Azkia yang sudah menutup kamar mandinya, ia melanjutkan ritual mandinya karena, badannya terasa gerah karena badannya panas setelah melihat Azkia yang sudah berduaan di Cafe tadi.


Ia pun tak mengerti dengan alasan apa, hati nya dan jantung nya selalu menggebu-gebu, setiap kali menyangkut tentang Azkia.


Azkia pun kembali ke kamarnya, ia pun bergegas mandi karena merasa gerah seharian belanja dan belajar yang menguras otaknya, ia tersenyum melihat banyak paperbag di atas kasurnya saat masuk kamar.


Setelah mandi dan membereskan belanjaan yang tadi ia beli bersama sang nyonya yang sekarang telah menjadi Ibu angkatnya.


Setelah selesai Azkia pun langsung keluar bergegas menuju dapur untuk masak makan malam nanti, di sana udah ada mbak Mira.


"Sore mbak!" sapa Azkia pada mba Mira.


"Sore juga Kia, udah pulang? gimana kuliahnya?" sahut mbak Mira sambil bertanya.


"Alhamdulillah mbak lancar, maaf ya aku jadi merepotkan mbak terus."

__ADS_1


"Syukur alhamdulillah kalo begitu, apaan sih Kia, ini kan udah tugas mbak juga." sahut mbak Mira.


"Hehe.. jadi gak enak aku mbak, pulang sore terus, eh ini masak apa mbak, apa yang belum di kerjakan?" tanya Kia.


"Gak enak apanya sih Kia, ini kan tugas mbak juga, Kamu tinggal olah aja, tadi nyonya telpon katanya ingin makan udang asam manis, perkedel kentang sama sayur lodeh." sahut mbak Mira.


"Assiap mbak, eh Bibi kemana mbak? kok aku gak liat sih?" tanya Azkia.


"Tadi Bibi di suruh nyusul nyonya, di anter sama mang asep sekalian jemput."


"Oh gitu ya, emang tadi nyonya gak pulang dulu mbak? itu belanjaan siapa yang anter ke kamar ku?"


"Gak ada pulang kok, tadi mang asep yang kasih belanja itu ke Bibi, terus Bibi yang masukin ke kamar kamu."


"Oalah, jadi ngerepotin banyak orang aku tuh." sahut Kia sambil menunduk malu.


"Udah yuk lanjut dulu aja ke buru magrib nanti."


Kia pun gegas mengolah bumbu masakannya. "Iya mbak siap."


Mereka pun dengan cekatan meracik bahan masakan, Kia yang mengolah bumbu, sedangkan mbak Mira ngolah bahan masakannya.


Kita kembali ke Adrian, biarkan Azkia dan Mira memasak.


Adrian tersenyum penuh arti melihat baju yang sudah di siapkan Azkia.


'Andai aku bisa mempunyai istri yang cekatan seperti Azkia, hati ku akan senang.'


Adrian sedang membayangkan, kalo nanti Azkia bakalan jadi istrinya, seketika ada bayangan lain yang melintas yang menghadang semua itu.


Ya, bayangan itu adalah lelaki yang tadi di Cape bersama Azkia.


'Ah, sial gak akan ku biarkan Kia di miliki orang lain.' tekad Adrian kuat dengan mengepalkan tangannya karena mengingat kejadian tadi, melihat lelaki yang menatap Azkia berbeda dari tatapan lelaki terhadap teman wanita nya, yang menatap memuja dan mengagumi ingin memiliki.


Di saat Adrian sedang memikirkan jalan untuk mencegah kedekatan Azkia dengan teman laki-laki nya, telpon Adrian berdering.


Saat melihat icon yang tertera nama sayangnya aku, dengan malas Adrian mengangkat nya.


"Hallo sayang, akhirnya kamu angkat juga, kenapa lama banget sih angkat telpon nya?" berondongan pertanyaan dari sebrang sana.


"Maaf, aku baru selesai mandi." dusta Adrian dengan dingin, padahal ia emang mengabaikan sebentar. "Ada apa?" tanya Adrian.

__ADS_1


"Iiihh.. kok nanya ada apa sih, aku kangen tau." rengeknya dengan manja.


"Kita kan baru kemarin bertemu, lagian kan minggu kita akan bertemu juga!" sahut Adrian dengan dingin dan malas.


"Hehe.. iya sih tapi aku udah gak sabar ingin dinner romantis berduaan, sudah lama kita gak ngelakuin itu, aku mau sebelum menikah ada kenangan indah di saat kita pacaran sayang, dan aku udah siapin itu semua, kamu tinggal datang dan nikmati semuanya." kata Siska menjelaskan dengan semangat dan menggebu.


Adrian hanya bisa menghela nafas panjang iya ingin sekali membentak sang kekasih yang telah mengkhianati cinta tulusnya, tapi ia hanya mendapatkan sakit di hati yang sudah benar-benar dihempaskan dari lantai paling atas kantornya.


"Sayang sayang kok kamu diam saja sih? kamu sakit? biasanya kamu antusiasme tinggi, atau ada masalah fi kantor kah?" Siska memberondong pertanyaan lagi dengan cemas karena tak biasanya sang pacar berdiam diri, dan ingat perlakuan terakhir kali ia bertemu.


"Ah gak apa-apa kok, aku gak sakit, aku lagi ada sedikit masalah di kantor jadi pikiran ku mumet, iya sayang nanti kamu kasih tau saja tempatnya di mana?"


"Ah.. syukur deh kalo kamu tak sakit, pasti dong aku nanti pasti kasih tau di mana tempatnya." jawab Siska dengan semangat.


"Sudah dulu ya sebentar lagi adzan maghrib, aku mau ambil wudhu dulu." kata Adrian mengakhiri telpon nya tanpa menunggu jawaban dari sebrang sana.


"Iy-a lah baru mau di jawab udah di tutup aja, aneh tak biasanya dia begitu, apa mungkin... ah tidak mungkin dia tau sesuatu sudah lah yang penting dia sudah setuju." gumam Siska dengan senyuman mengembang penuh arti.


Waktu pun semakin malam, tibalah jam makan malam.


Tadi nyonya Andini dan tuan Darren datang bersamaan saat magrib berkumandang, mereka pun langsung ke kamar untuk membersihkan tubuh nya yang lengket.


Saat makan malam tiba Adrian lebih dulu datang ke ruang makan dan duduk di meja makan yang sedang di tata rapi oleh mbak Mira.


"Malam tuan muda silahkan." kata Mbak Mira menyambut sang tuan muda.


"Terimakasih Mbak, yang lain belum datang?" tanya Adrian.


"Belum tuan muda." jawab Mbak Mira.


Tak lama Azkia datang bersamaan dengan Mama dan Papa.


"Malam Yan, tumben kamu lebih dulu?" tanya mama Andini.


"Iya ma, Iyan juga gak tau, hehe.. " jawab Adrian dengan cengengesan.


"Sudah ma, biarin aja, kita yang telah juga, ayo kita makan langsung saja no debat." sahut tuan Darren.


Mereka pun makan bersama dengan khusu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2