Maid Pribadi Tuan Muda Anderson

Maid Pribadi Tuan Muda Anderson
BAB 69


__ADS_3

πŸ’.....


πŸ’.....


πŸ’.....


Setelah kejadian makan malam yang gagal total rencana yang Siska susun, iya kini lagi-lagi merencanakan rencana lain saat nanti di mana hari pernikahan antara dirinya dan Adrian.


Hari hari pun berlalu, sampai akhirnya hari pernikahan akan terlaksana hari esok.


Keluarga Adrian yang sudah berkumpul di kediaman Anderson, kini mereka semua sedang bersiap untuk berangkat ke Hotel yang sudah mereka boking dari jauh hari, keluarga Anderson memesan ballroom hotel dan seluruh kamar di 2 lantai untuk semua keluarga Anderson dan keluarga calon mempelai wanitanya.


"Apa semuanya sudah siap?"


"Sudah Pa! Apa kita berangkat sekarang?"


"Ya kalau semua sudah siap kita berangkat sekarang!"


"Tunggu Pa! Apa Tante Naima dan Om Robert akan kita tinggal?"


"Oh mereka, masih dalam perjalanan karena macet, jadi mereka akan langsung ke Hotel."


"Baiklah kalau begitu."


Mereka pun berangkat dengan beberapa mobil dari kediaman Anderson menuju Hotel yang sudah di pesan Darren dari 1 bulan sebelumnya.


Perjalanan dari kediaman keluarga Anderson cukup menyita waktu karena mereka berangkat di waktu jalanan macet, yang biasa perjalanan hanya memakan waktu hanya 30 menit sekarang hampir 1 jam mereka menghabiskan waktu perjalanan cukup melelahkan karena kemacetan.


Satu jam pun berlalu, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, sesampainya mereka semua tak lupa Rama sang asisten Darren menghampiri resepsionis untuk mengambil kunci seluruh kamar yang sudah di pesan oleh tuannya.


Setelah mengambil kunci, sebagian karyawan Hotel membantu mereka untuk membawa semua koper mereka.


Darren pun sudah memberikan arahan sebelum seluruh anggota keluarga besarnya sampai di Hotel.


Untuk semua keluarga dari Andini dan Darren ditempatkan di lantai 15, sedangkan keluarga Darren dan keluarga calon mempelai di lantai 16 yang bertepatan di bawah ballroom hotel.


Mereka semua pun memasuki kamar masing-masing yang sudah di tentukan bersama para petugas Hotel.


Di sisi lain Siska yang sedang berkemas dengan orang tua angkatnya, tetiba ponselnya berdering, Siska pun gegas melihat layar handphone, di sana tertera nama my partner Siska pun gegas mengangkatnya.


"Ya.. Ada apa?"


"....."


"Apa...!"


"....."


"Tapi bagaimana dengan orang tua ku?"


"....."


"Oke aku serahkan padamu."


"....."


"Ya aku akan membicarakannya sambil jalan menuju Hotel pada mereka!"


"....."


"Baiklah, ya sudah kamu atur saja semuanya,"


"....."


"Ya.. Ya.. Aku tutup."


Sambungan telepon pun terputus, setelah pembicaraan di telpon Siska mulai gelisah.

__ADS_1


"Aaakh... Benar-benar sial, kenapa aku tak merasakan semua itu,"


Teriakan Siska terdengar oleh orang tuanya, begitu sang Ibu dan Ayahnya mendengar teriakan sang anak mereka saling tatap.


"Bu, itu Siska kenapa?"


"Gak tau Pa, kita datengin kamarnya saja takut kenapa-napa."


"Ya udah ayo Bu."


Mereka pun keluar kamar mereka yang syok mendengar suara teriakan sang anak angkat mereka.


Sesampainya di depan pintu kamar sang anak Ibu Siska pun mengetuk pintu kamar sang anak.


Tok.....


Tok.....


Tok.....


"Nak, kamu kenapa berteriak? Apa ada masalah?" tanya sang Ibu dengan lembut.


Siska yang mendengar suara ketukan pintu menoleh dan langsung menyahut saat ada suara sang Ibu.


Ceklek.....


"Ah Ibu, Ayah, masuk ada yang mau Siska bahas," kata Siska.


"Ada apa nak? Apa ada sesuatu?" tanya sang Ibu.


"Iya nak, ada apa? kenapa kamu berteriak?"


"Duduklah Bu,Yah aku akan ceritakan."


Mereka pun patuh lalu duduk di sofa yang ada di kamar Siska.


Panjang lebar Siska menceritakan semuanya, Ibu dan Ayahnya mendengarkan dengan tenang, sampai Siska selesai menceritakan semuanya, baru Ayahnya angkat bicara.


"Apa kamu baik-baik saja nak? Ayah khawatir dengan semua rencana yang kamu lakukan bersama Rico akan gagal lagi?"


"Iya nak, Ibu gak mau kamu kenapa-napa! Meskipun kamu hanya anak angkat kami, kamu itu tetap anak kita."


"Iya nak, apa sebaiknya kamu meminta maaf saja?"


"Ayah sama Ibu tenang saja, mereka tak akan menyakiti kalian, maafkan aku selama menjadi anak kalian tak berbakti, dan belum bisa memberi kebahagiaan, pokoknya Ayah dan Ibu ikuti rencana kita, yang pentin g Ayah dan Ibu selamat."


"Ya sudah, Ayah sama Ibu percayakan saja sama kalian, semoga rencana kalian berhasil,"


"Iya Bu Yah terimakasih atas segalanya."


Siska pun memeluk kedua orang tuanya, setelah itu mereka berangkat menuju Hotel tempat di mana pernikahan Siska dan Adrian akan di laksanakan.


Balik ke laptop eh salah, kita balik ke Hotel yang sudah semua berkumpul di ruangan yang biasa di sewa untuk meeting room.


"Selamat sore semuanya,"


"Sore....." jawab semua anggota keluarga yang sudah berkumpul di meeting room.


"Pertama saya ucapkan terimakasih atas kehadiran semua keluarga yang mau datang ke acara pernikahan anak saya, di sini saya akan jelaskan rincian acara untuk besok, sebelumnya saya selaku kepala keluarga, meminta maaf karena ada sedikit rencana yang akan saya ganti, dan mohon untuk semua keluarga memaklumi."


Sesaat ricuh karena mereka heran apa yang harus di ganti rencananya, padahal mereka sudah dengar rencana sebelumnya itu benar-benar sempurna.


"Tolong tenang dulu, saya belum bilang rencana yang akan saya ganti."


Mereka pun berhenti semua, ruangan pun hening kembali.


Setelah semuanya diam tanpa kata, Darren pun memulai pembahasan rencana barunya, menjelaskan panjang kali lebar semua anggota keluarga hanya mendengar dan menyimak, karena mereka tak berani berkomentar sedikitpun, mereka hanya menerima semua arahan dari kepala keluarga Anderson.

__ADS_1


"Apa semuanya mengerti?" tanya Darren setelah menjelaskan panjang kali lebar.


"Ya mengerti." jawab semua anggota keluarga.


"Kalau semuanya sudah mengerti kita langsung naik ke lantai paling atas untuk makan malam,"


"Baik..."


Mereka pun gegas membubarkan diri dari ruangan meeting.


"Pah..!"


"Iya Yan ada apa?"


"Apa Papa yakin?"


"Kenapa tidak?"


"Tapi Pa.."


"Tak ada tapi-tapian Papa udah rencanain dengan Rama itu sebulan lalu, kamu tau itu!"


"Aku percayakan semua sama Papa,"


"Bagus, kamu hanya tinggal memainkan peran saja, seolah tak tau apa-apa!"


"Baiklah."


"Ya udah ayo kita makan malam dulu, apa Siska sudah datang?"


"Nanti Iyan hubungi dulu."


Mereka pun menyusul keluarga lainnya yang sudah memasuki lift.


"Sayang, kamu siap kan?"


"I-iya Ma, insyaallah Kita siap."


"Jangan gugup sayang, relax Ibu dan Ayah mu akan sampai esok pagi, Mama dan Papa sudah bicarakan semuanya kamu tenang ya sayang!"


"Iya Ma, terimakasih." jawab KIA dengan senyum manisnya.


Adrian yang sedari tadi menghubungi Siska, belum ada tanda jawaban, karena memang Siska yang sedang fokus menyetir, dan sebagian otaknya memikirkan rencana yang iya akan lakukan nanti.


"Nak itu handphone mu berbunyi dari tadi, apa tak sebaiknya di angkat, takut ada yang penting!"


"Ah ya Bu, Siska angkat."


"Halo.. Sayang akhirnya kamu angkat juga telponku!"


"Ah maaf, aku masih menyetir, ada apa sayang?"


"Oh pantas, kamu masih di mana? Keluarga ku sudah di lantai atas untuk makan malam, kalau kamu sampai langsung ke atas saja ya!"


"Baiklah terimakasih sayang, sebentar lagi aku sampai, apa kamu tak mau menunggu ku di lobby?"


"Oke, aku tunggu kamu di lobby."


"Terimakasih sayang."


Telpon pun di tutup lalu Adrian gegas untuk turun ke lantai bawah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.....


Terimakasih yang selalu setia menanti ku up love you full all 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2