Maid Pribadi Tuan Muda Anderson

Maid Pribadi Tuan Muda Anderson
BAB 59


__ADS_3

πŸ’.....


πŸ’.....


πŸ’.....


Di sisi lain Andini sedang bertemu dengan Teman-teman sosialitanya, setelah berbelanja dengan Azkia dan mengantarkan ia kuliah.


"Din tumben kamu telat datang? biasanya kamu selalu on time?" tanya salah satu teman mamah Andini.


"Iya nih td ada urusan dulu, makanya aku telat hehe.. " sahut mama Andini.


"Oh pantas kamu terlambat, eh jeng Rita pun belum datang?" tanya teman mama Andini yang lain.


"Iya nih tinggal dia yang belum datang, gimana mau kocok arisan kalo salah satu dari kita tak ada nanti di protes lagi!" kata teman mama Andini yang lain lagi.


"Ya udah tunggu saja, tadi aku ketemu jeng Rita di tempat sama yang aku perlu." sahut Andini.


"Ya sudah kita tunggu saja." lagi kata teman mama Andini yang lain.


Ya Andini pun terlambat datang hanya untuk membelikan pakaian untuk Azkia, padahal mereka bisa pergi saat Azkia libur, tapi Andini tak mau menunggu hari itu tiba, menurutnya memang waktu itu kapan saja tepat, selagi ada waktu luang.


Tak lama berselang waktu saat menanyakan jeng Rita, akhirnya orang yang di tunggu datang.


"Assalamu'alaikum, maaf jeung semuanya saya terlambat, tadi ada urusan dulu." kata jeng Rita.


"Wa'alaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh." sahut semua yang ada di ruangan tersebut.


"Iya jeng Rita tak apa, apa mau langsung kocok arisan atau jeng Rita mau minum atau makan lebih dulu?" tanya salah satu temannya.


"Langsung saja boleh, tapi aku minum dulu sebentar." katanya sambil melenggang ke tempat meja di mana minuman dan makanan tersedia.


"Oke jeng silahkan." kata panitia arisan.


Setelah minum, jeng Rita pun bergabung dengan yang lain.


"Maaf ya jadi pada nungguin saya." kata Rita merasa bersalah.


"Iya jeung, tak apa! ayo kita mulai saja." kata sang panitia.


Mereka pun mengocok arisan dengan heboh, karena kerap kali ke luar 2 gulungan nama di baliknya, sehingga harus mengulang lagi dan lagi.


βž–


Adrian yang sedang berkutat dengan tumpukan kertas dokumen yang iya sedang kerjakan, sampai lupa dengan jam makan siangnya sudah lewat, meskipun Bian sudah membelikan makan siang untuk sang bos, karena Adrian menyuruhnya untuk membeli makan siangnya.


Adrian sengaja melakukan itu karena masih memikirkan tentang sang kekasih yang sudah mengkhianati nya.


Padahal sejak tadi ponsel nya berdering, tapi, Adrian mengabaikan nya karena saat melihat siapa yg menghubunginya dan memberi pesan padanya, itu adalah sang kekasih pengkhianat.


Adrian sampai mematikan ponselnya, karena dia belum siap untuk bersandiwara.


Tak lama suara ribut di luar ruangan Adrian terdengar, tapi tak sampai memakan waktu lama karena detik itu pintu ruangan Adrian terbuka dengan agak kasar.

__ADS_1


"Sayang." suara itu menggema di ruangan saat seorang wanita masuk dengan paksa, karena tadi sempat di larang masuk oleh sang sekertaris Adrian.


Adrian yang mendengar pintu di buka dengan agak karas dan sebutan sayang pun memekakan telinganya, ia pun langsung mendongakkan pandangannya melihat siapa yang sudah berani masuk ruangannya dengan tak sopan.


Nadya yang sangat gugup dan takut, ia pun langsung berbicara minta maaf pada sang bos.


"Maaf kan saya tuan, nona Siska memaksa masuk, meskipun saya sudah melarang ia masuk." kata Nadya sambil menundukkan kepalanya karena takut mendapatkan semprotan dari sang bos.


"Ya Kamu boleh keluar." sahut Adrian dingin ambil berdiri dari duduknya.


Siska yang melihat itu langsung menghampiri Adrian dan langsung mengelayut manja di lengan kekar Adrian.


"Sayang, kenapa kamu tak membalas atau mengangkat telpon ku?" rengek Siska.


Adrian yang masih marah terhadap sang kekasih, ia pun perlahan melepaskan tangan Siska yang menggelayuti lengan nya.


"Jangan begini berat." Adrian berusaha menahan amarah yang sudah memuncak, ia bun bersikap dingin.


"Loh kok kenapa sih sayang," lagi Siska merengek.


"Duduk, ada apa kamu ke sini? apa ada yang penting?" ucapnya lagi-lagi dengan nada dinginnya.


"Ish sayang, kamu kenapa sih dingin banget, biasanya kalo aku dateng kamu pasti menyambut ku dengan hangat? apa kamu sakit?" kata Siska sambil memegang dahi Adrian.


Adrian cepat-cepat menepis tangan Siska yang akan memeriksa dahinya.


"Tidak, hanya saya aku banyak kerjaan, katakan apa yang membawa mu kesini? aku masih banyak kerjaan." kata Adrian dingin.


"Aku tuh kesini karena kamu tak membalas chat aku, panggilan pun tak kamu jawab sampai aku kesel karena itu, aku mau jawaban cepat sayang, makannya aku datang ke kantor kamu!"


Helaan nafas panjang terdengar dari mulut Siska, ia pun menjelaskan apa isi chat yg dia kirim pada Adrian.


"Gini loh sayang, aku mau ngakak makan malam besok lusa, kamu mau kan sebelum pernikahan kita di laksanakan dalam waktu 2 minggu lagi."


"Hmm.. oke, kamu bisa pulang sekarang aku masih banyak pekerjaan, nanti aku kabari setelah pulang kerja." lagi Adrian berkata dingin tak seperti biasanya.


'Ish kenapa nih anak dingin banget gak kaya biasanya kalo gue datang pasti di sambut dengan hangat, ini malah sikapnya dingin abis kaya yang gak kenal huh.. ' gumam Siska dalam hati.


"Ya udah deh, maaf kalo aku udah ganggu kamu, aku tunggu balasan chat kamu ya sayang." kata Siska sambil mencium pipi sang kekasih sebelum pergi.


Adrian pun pasrah, kalau menolak ia takut Siska akan curiga, ia harus benar-benar membuat akting yang mumpuni.


Setelah kepergian Siska ia pun melanjutkan pekerjaannya, tapi ia melihat box makan siang di pinggir kiri meja yang sudah siap santap. Ia pun memutuskan untuk makan, agar bisa melampiaskan kemarahannya pada makanan yang sudah Bian beli tadi.


Setelah makanannya habis, Adrian pun melanjutkan pekerjaannya sampai jam pulang.


βž–


Mata kuliah Azkia dan Cindy akhirnya selesai, mereka pun siap-siap untuk meninggalkan ruang kelasnya.


"Ki, kamu pulang di jemput siapa? sopir, kakak, apa mama kamu?" tanya Cindy.


"Aku di jemput mama kayanya Cin, kalo kamu gmn?" sahut Azkia dan bertanya balik.

__ADS_1


"Yah tadinya kalo, kamu di jemput sopir, aku mau meneng, tapi kamu sama mama kamu, jadi aku naik taksi online aja." kata Cindy.


"Loh gitu? emang kamu mau ke mana?" lagi Azkia pun bertanya."


"Aku mau ke rumah tante ku yang searah sama rumah kamu." sahut Cindy.


"Ya udah bareng ajalah, mama ku gak akan gigit kok." sahut Azkia.


"Yeay, bukan soal gigit tapi, aku yang gak enak." kata Cindy lagi.


"Lah, terus gimana mau kamu Cin?"


"Ya, aku jadinya mau pake taksi online aja."


"Yakin?"


"Iya Kia... "


"Iya deh terserah kamu Cin."


Mereka pun terus berbincang sampai di gerbang kampus tak lama taksi yang di pesan Cindy datang.


"Ki taksi online ku udah sampe, mama kamu belum jemput?"


"Belum Cin, masih di jalan katanya."


"Ya udah aku duluan ya, papay, sampai ketemu besok."


"Ya hati-hati Cin."


Cindy pun segera masuk ke mobil yang di pesannya tadi, sedangkan Azkia menunggu sang mama.


Tak lama, ponsel Azkia bunyi tanda masuk pesan 2 kali, Kia pun langsung membuka chat di ponsel nya, di sana melihat ada pesan dari mamanya yang tak jadi menjemputnya, tapi nanti akan di jemput Adrian sepulang Adrian kerja.


Kia pun membalas pesan mamanya.


"Iya ma, tak apa-apa kok, mama jangan khawatir ya." itu lah pesan jawaban yang Kia kirim pada sang mama.


Lalu Kia lihat pesan dari Yono, ia menepuk jidatnya, karena melupakan janji yang ia punya bersama Yono.


"Maaf Yon, aku lupa, sekarang aku kesana ini sudah ada di gerbang kok tinggal nyebrang."


Azkia menyebrang dengan ikut penyebrang lainnya dan di sebrangkan oleh satpam yang menjaga di tempat kuliahnya.


Azkia pun sampai di sebrang lalu menuju Cafe yang sudah ada Yono di sana menunggunya, saat masuk tak jauh dari pintu masuk Yono melambaikan tangannya.


"Kia.. aku di sini." teriak Yono.


Azkia pun menghampiri Yono, lalu Yono dengan sigap membuka kursi yang rapat ke meja untuk Kia duduk.


"Terimakasih Yon, merepotkan." kata Kia dengan senyum yang selalu membuat Yono kalang kabut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2