Maid Pribadi Tuan Muda Anderson

Maid Pribadi Tuan Muda Anderson
BAB 44


__ADS_3

💝.....


💝.....


💝.....


5 jam berlalu akhirnya Azkia selesai di MAKE-OVER dari atas rambut sampai ujung kaki.


"Wow nyonya Andini tak salah memilih calon menantu yang cantik alami seperti yey, eike kalo laki normal pasti eike embat ha.. ha.. ha.. " kata Miss Irna dengan pujiannya dan tertawa.


"Ah miss bisa saja, kalo cewek pasti cantik semua juga." kata Azkia.


"Cantik itu relatif say, pasti nyonya Andini punya alasan lain selain yey cantik, tapi hati yey lebih cantik."


Azkia tersenyum malu, saat miss Irna bilang tentang diri nya, tak ada tanggapan dari Azkia, karena dia bingung harus menjawab apa.


Azkia pun berdiri dari duduk nya, "Apa sudah selesai Miss?" tanya Azkia.


"Sudah say, yey sudah boleh pulang, tenang saja pembayaran sudah lunas." sahut miss Irna.


Azkia pun mengangguk dan berpamitan, "Terimakasih Miss, kalau begitu saya permisi pulang dulu." pamit Azkia.


"Oke say, titiDJ sampaikan salamku pada nyonya Andini alias camer mu."


Lagi-lagi Azkia hanya mengangguk dan tersenyum manis.


'Ya ampun hanya senyuman saja jiwa laki gue meronta lihat Azkia' gumaman miss Irna dalam hati.


Azkia menghampiri mbak Mira yang sudah menunggu nya dengan sabar, bayangkan saja 5 jam lamanya mbak Mira menunggunya.


"Mbak, maaf ya menunggu lama, pasti bosen ya?" kata Azkia saat menemui Mira di ruang tunggu VIP.


"Enggak kok Kia, mbak juga di kasih minum dan cemilan dan di temani majalah-majalah, sambi menunggu mu, mbak membaca saja, sekalian tambah pengetahuan, wah Kia kamu beda banget loh mbak sampe pangling loh?" sahut Mira sambil tersenyum.


Azkia pun membalas senyuman Mira, "Ah mbak bisa saja, ayo mbak kita ke tempat perlengkapan alat tulis, nyonya udah kasih tau nama toko nya, aku telpon mang Udin dulu ya."


Azkia pun menelpon mang Udin, tak lama mang Udin datang tepat di depan salon, Azkia dan Mira yang sudah menunggu di depan pun langsung masuk ke mobil saat mang Udin sampai.


"Mang kita ke toko buku merauke ya, yang ada di Mall terdekat." kata Azkia.


"Siap Neng." sahut mang Udin lalu melajukan kendaraan nya membaur dengan kendaraan yang lain.


Di sisi lain Adrian dan kedua orang tuanya sedang berada dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


"Pah kita makan dulu ya, Mamah laper nih, tadi Mamah makan sedikit!"


"Iya Mah, Papah juga sama, tadi makan sedikit, Pak kita mampir dulu ke Restoran terdekat dulu ya."


"Baik tuan." sahut sang supir.


"Mamah, sama Papah kaya yang gak suka sama keluarga Siska! kenapa sih?" tanya Adrian.


"Mamah gak nyaman aja sayang, sikap mereka itu kaya yang di buat-buat,cuma cari simpati kita saja," sahut Mamah Andini.


"Iya Yan, betul kata Mamah mu, kelihatan banget cuma cari muka, tak ada ketulusan dari hati." sahut Papah Darren.


"Iyan gak ngerasa gitu kok Mah, Pah."


"Iya lah pasti, kamu sudah sedalam itu mencintai kekasih kamu, kamu itu laki-laki sayang, kamu harus selidiki dulu asal-usul calon istri mu itu, udah pas belum, baru beberapa bulan pacaran kamu udah mau nikahin dia aja?" kata Mamah Andini.


"Tapi Mah.. "


"Tak ada tapi Adrian.. pokoknya mamah mau kamu selidiki tentang calon istri mu itu, kalo kamu gak mau, mamah yang akan cari tau dan buktikan sama kamu."


Percakapan mereka terpotong, saat sang sopir memberi tahu sudah sampai di restoran yang di minta oleh nyonya dan tuan nya.


"Maaf tuan muda, nyonya, tuan besar, kita sudah sampai di restoran." kata sang supir dengan sopan.


"Tidak usah nyonya, tadi sudah kenyang makan di rumah pacar tuan muda." kata sang supir.


"Beneran? bapak tak bohong kan?" tanya Andini kembali.


"Iya nyonya, beneran kok, saya di kios depan saja, mau sambil ngopi." lagi pak supir menolak dengan sopan biar tak menyinggung Nyonya nya yang baik hati itu.


"Ya sudah nih, buat ngopi, nanti saya telpon bapak kalau sudah beres ya." Andini mengeluarkan selembar uang seratus ribu, dan memberikan nya pada sang supir.


"Terimakasih nyonya." sang supir pun mengambil uang pemberian sang nyonya, karena rezeki tak boleh di tolak kan.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam Restoran itu dan langsung di sambut oleh pelayan yang menunggu di depan pintu masuk, lalu menunjukkan ruang private yang di minta tuan Darren.


Setelah masuk ruangan private sang pelayan langsung memberikan buku menu restoran itu, mereka pun menanyakan menu spesial di restoran ini apa, dan sang pelayan pun menjawabnya.


"Kalau begitu pesan semua menu spesial di sini." kata nyonya Andini.


"Baik nyonya ada tambahan lainnya?"


"Pah, Yan, ada tambahan lain gak?"

__ADS_1


"Iyan gak mah." jawaban Adrian aga cemberut."


"Cukup Mah, tak ada." sahut sang suami.


"Cukup itu saja."


"Kalau begitu saya permisi, tuan, nyonya." kata sang pelayan.


Mereka hanya mengangguk saja, setelah pelayan itu pergi Adrian memulai percakapan yang sempat tertunda tadi.


"Mah, kenapa mamah mencurigai Siska sih mah?" kata Adrian memulai percakapan.


"Karena Mamah sudah berpengalaman Adrian, mamah tau orang yang tulus dan yang hanya sandiwara, Mamah lihat gelagat mereka mencurigakan. jangan sampai kamu menyesal setelah nya, Mamah gak mau kamu sakit hati nantinya."


Adrian merenugi perkataan sang Mamah, dengan terdiam sejenak tak lama pesanan mereka datang, lamunan Adrian pun buyar lalu sadar ke alam nyata.


"Permisi tuan, nyonya silahkan pesanan menu spesial dari restoran kami, selamat menikmati." kata sang pelayan.


"Terimakasih." sahut mereka bertiga.


Mereka bertiga pun makan dalam keheningan menikmati menu spesial dari restoran ternama yang mempunyai cabang di mana-mana.


'Aku harus menyelidikinya, benar kata mamah semoga dugaan mamah tak terbukti.' kata Adrian dalam hati.


Tadi keluarga kedua belah pihak sepakat menggelar pesta pernikahan sang anak-anak mereka di lakukan sebulan dari sekarang, sebenarnya keluarga Siska meminta 2 bulan tapi nyonya Andini meyakinkan kedua orang tua Siska agar menyerahkan semua persiapan pernikahan anak mereka kepada mereka.


Setelah beberapa menit mereka pun menyelesaikan makan sore karena ini sudah sore menjelang malam.


"Pertimbangkan perkataan Mamah mu Yan, apa perlu Papah bantu?"


"Tak perlu Pah, nanti Iyan minta Bian yang selidiki Siska."


"Nah gitu dong ini baru anak Mamah, Mamah gak akan salah menilai seseorang, apa lagi kamu anak Mamah Satu-satunya, mana mungkin Mamah menjerumuskan mu dalam hal yang tidak baik, ini menyangkut kebahagiaan kamu juga sayang, Mamah gak mau anak Mamah terpuruk gara-gara sakit hati."


"Iya Mah, Pah, makasih atas segalanya yang Mamah dan Papah berikan pada Iya selama ini."


"Papah dan Mamah akan dukung kamu selagi itu jalan yang benar, Papah akan kecewa kalau kamu tak mendengar saran Mamah mu." kata Papah Darren sambil menepuk pundak sang anak.


"Udah yuk kita pulang, udah kenyang juga, mamah mau menelpon pak supir dulu."


Setelah menelpon sang supir, mereka pun keluar dari ruangan private dan tak lupa membayar tagihannya di kasir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2