Maid Pribadi Tuan Muda Anderson

Maid Pribadi Tuan Muda Anderson
BAB 54


__ADS_3

💝.....


💝.....


💝.....


Sore hari Azkia pun pulang dari kuliahnya, dia pulang di jemput mang ujang yang sudah biasa di tugaskan nyonya Andini.


"Sore mang, udah lama ya nunggu nya?"


"Belum kok neng, baru 5 menit yang lalu, hehehe...."


"Maaf ya mang, jadi nunggu!"


"Gak papa neng, udah tugas mamang juga, ini langsung pulang neng?"


"Iya mang, pulang aja."


Mang ujang pun langsung menginjak pedal gas dan berbaur ke jalanan yang sudah padat di jalanan.


Di sisi lain Adrian sedang melamun, sejak melihat semua bukti yang Bian kasih, dia tak menyangka dengan penghianatan sang kekasih yang selama ini ia cintai dan sayangi, yang sudah ia lamar dan tinggal menghitung hari ia akan mengucap ikrar pernikahan.


Flashback On


"Bagaimana Bi? apa sudah ada hasil dari anak buahmu?"


"Sudah tuan, saya sudah memeriksa semua isinya, apa tuan sudah siap? apa pun yang terjadi tuan harus menerima kenyataan."


"Apa kecurangan Mamah terbukti?"


"Ya tuan, nyonya seorang Ibu, jadi dia tak akan salah menduga-duga."


Adrian pun menarik napas dalam mengambil udara segar di ruangan nya sebanyak-banyaknya.


"Ya mana buktinya, saya sudah siap dengan segala kemungkinan."


"Ini tuan semua sudah ada di sini, gambar, video, dan yang tertulis pun ada."


Adrian pun langsung mengambil flashdisk di tangan Bian, dan langsung menghubungkan flashdisk ke laptopnya.


Adrian pun membuka satu per satu file di flashdisk tersebut, awalnya biasa saja saat melihat terus dan terus Adrian syok dengan apa yang di lihatnya.


"Apa ini benar-benar dia Bi?" tanya Adrian.


"Ya tuan itu nona Siska, kekasih anda!" sahut Bian.


"Kenapa dia melakukan ini pada ku? apa salah ku pada-Nya Bi?" lagi Adrian bertanya.


"Maaf tuan saya pun tak mengerti jalan pikiran kekasih anda? anda harus melihat sampai habis tuan!" sahut Bian lagi.


Adrian pun menarik nafas panjang, guna untuk mengendalikan amarah yang sudah mulai berkobar.

__ADS_1


"Bi bisa kamu berbicara sebagai sahabat, aku butuh dukungan mu bukan asisten kaku seperti sekarang!"


Bian pun bangkit dari kusi di hadapan Adrian, dan memutar ke arah Adrian duduk, lalu menepuk pundak sang sahabat.


"Loe harus kuat Yan, Alloh masih sayang sama kamu, meskipun aga terlambat, setidaknya loe tau sebelum pernikahan loe dan Siska di lakukan, loe harus bangkit, buktikan loe itu gak sebodoh yang mereka kira!"


"Terimakasih Bi, emang loe sahabat yang paling mengerti gue, tapi tunggu, loe bilang mereka? maksud loe apa?"


"Loe buka semua file yang ada di sana, nanti loe tau apa yang gue maksud."


Tanpa banyak bicara lagi Adrian pun, membuka file berikutnya, di situ semua video tentang percakapan dan perselingkuhan Siska begitu jelas.


"Sayang kamu, sudah di lamar sama Adrian, sebentar lagi kita akan balas kan dendam orang tua kita, yang sudah tiada."


"Iya sayang, aku sudah gak sabar buat keluarga Anderson terpuruk, dan kita yang akan ambil alih semua harta mereka."


"Kamu harus secepatnya ajak Adrian, tidur dengan mu sayang, biar bagaimana pun, Adrian jangan sampai tau kalau kamu sudah tak perawan lagi!"


"Aku sudah susun rencana yang kamu buat tempo hari, dan hari minggu besok aku akan melakukan ide kamu!"


"Bagus, kamu memang bisa di andalkan sayang, aku sudah tak sabar akan hari di mana keluarga Anderson hancur se hancurnya karena kebodohan anak semata wayangnya, hahaha...."


Adrian membeku melihat video percakapan Siska dengan seorang laki-laki, yang Adrian tau dia saingan perusahaan keluarganya.


"Bi apa ini? dendam apa yang mereka maksud? apa ini ada hubungannya dengan Papah ku?"


"Ya, mereka adalah anak dari saingan Om Darren, dan dari itu, Om Darren sudah menyusun segalanya, untuk pembalasan balik mengejutkan mereka juga, loe harus tanya Om Darren selajutnya."


Adrian pun menguatkan diri nya sendiri, untuk melanjutkan melihat file selanjutnya sampai habis.


Adrian benar-benar terpukul dengan apa yang iya tahu dari kenyataan bahwa sang kekasih berkhianat, tak ada secuilpun memikirkan ini akan terjadi.


Lama Adrian melamun setelah menyelesaikan melihat semua bukti di laptopnya.


Flashback Off


Tok... tok... tok...


Lamunan Adrian sangat pekat, meskipun ada ketukan pintu beberapa kali tak membuyarkan lamunannya, Bian yang masih di sana pun menggeleng kan kepala nya, lalu menyahuti ketukan yang berasal dari luar pintu ruangan sang Boss.


"Masuk!"


"Permisi tuan, sekarang sudah lebih dari jam pulang! apa tuan Bian dan tuan Adrian tak pulang?"


Bian tak menyadari semua itu, ia pun langsung melihat jam tangan yang berada di pergelangan tangannya, dan benar saja saat melihat itu Bian pun berkata.


"Ah iya Nad, kamu bisa pulang lebih dulu, kami masih ada urusan."


Ya yang mengetuk pintu adalah Nadia sang sekertaris Adrian.


"Baik tuan kalau begitu saya pamit pulang lebih dulu, selamat sore!"

__ADS_1


"Ya hati-hati."


Nadia hanya mengangguk, lalu memutar badan untuk keluar ruangan meninggalkan Adrian dan Bian di dalamnya.


"Yan, loe gak papa kan?" tanya Bian sambil mengibaskan telapak tangan di depan muka sang sahabat.


Tak ada respon sedikit pun, Bian lalu mengguncang pundaknya guna untuk menyadarkan dari lamunannya.


"Yan.. Yan.. loe gak papa kan?" lagi Bian membangunkan kesadaran Adrian.


"Ah.. ya Bi gue gak papa, ada apa?"


"Hah... syukur lah, loe gak usah pikirkan itu, loe minta bantuan sama bokap loe aja, pasti bokap loe udah susun rencana buat loe."


"Ya bener kata loe, thanks ya Bi, loe udah dukung gue dalam keterpurukan ini, gue gak tau kalo gue tak punya sahabat kaya loe, gue beruntung punya sahabat seperti loe."


Adrian pun bangkit dari kursi kebesarannya, lalu memeluk sang sahabat dan Bian pun balik memeluk Adrian.


"Ya sama-sama Yan, gue hanya berlaku sebagai sahabat yang baik dan yang saling mengerti, kita itu bersahabat bukan satu atau dua tahun tapi sudah bertahun-tahun, sudah-sudah ini udah jam pulang, loe mau gue antar pulang?"


"Hah.. jam berapa emang?"


"Jam 4 lewat 20 menit."


"Apa? gue lupa kalau gue udah bilang Kia mau menjemputnya pulang."


Adrian pun langsung mengambil ponsel nya yang memang sedari tadi mode silent.


"Astaga, Kia dari tadi nelpon dan Mamah pun sama, gue telpon mereka dulu!"


"Hallo Mah, ada apa nelpon Iyan?"


"Kamu kemana aja sih Yan, mamah tuh nelpon mau mastiin kamu jadi jemput Kia apa gak? tapi tak ada jawaban, jadi mamah utus mang Ujang buat jemput Kia, jadi kamu gak usah jemput Kia lagi dia udah mau sampai sebentar lagi juga."


"Maaf Mah Iyan tadi banyak kerjaan, jadi lupa!"


"Ya sudah tak apa, cepat kamu pulang ya!"


"Iya Mah Iyan pulang sekarang, Assalamu'alaikum."


"Ya Hati-hati Wa'alaikumsalam."


"Ayo Bi, loe antar gue pulang, gue gak mungkin ngendarai mobil sendiri dengan pikiran tak menentu."


"Ayo, gue bawa tas dulu di ruangan gue, tunggu gue di luar aja Yan."


"Ya."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2