Maid Pribadi Tuan Muda Anderson

Maid Pribadi Tuan Muda Anderson
BAB 51


__ADS_3

πŸ’.....


πŸ’.....


πŸ’.....


Azkia terus menimbang perkataan sang nyonya yang sedari tadi hinggap di pikirannya, saat tak fokus dengan dunianya Azkia di buat kaget dengan teriakan sang tuan yang sudah berada di depannya.


"Aaaaaa.... " teriak Azkia saat sadar ia telah menyalakan keran saat terkaget dan tak sengaja memuncratkan ke seluruh badan Azkia dan Adrian.


"Ah.. apa yang kamu lakukan Kia?"


"Hah, maaf tuan saya tak sengaja." sahut Kia dengan mata sayunya yang benar merasa bersalah.


Adrian mematung sesaat melihat penampilan Azkia yang basah akibat dari air keran yang menyiram badan mereka.


'Waw pemandangan indah, tak menyangka kejadian ini akan menjadi pemandangan seindah ini.' pikiran Adrian menjelajahi pikiran liarnya saat melihat Azkia yang basah kuyup akibat kecerobohan nya, dengan kaus berwarna putih itu mencetak lekukan tubuh Azkia yang ramping dan dengan lekukan bak gitar sepanyol.


"Maaf tuan, karena saya tuan jadi basah semua." kata Kia mengakui kesalahannya dan meminta maaf.


Adrian pun tersadar dari lamunan pikiran kotor nya.


"Sudah kamu cepat keluar, pakai handuk jangan sampai masuk angin." sahut Adrian dengan nada tinggi nya.


"Ba-baik tuan saya permisi." Azkia pun meninggal kan sang tuan sendirian dan tak lupa ia memakai handuk yang di pakai di bahunya setelah mengelap waja dan rambutnya.


Sedangkan Adrian mengerang prustasi, setelah Azkia pergi.


"Ah.. kenapa kamu harus bangun tong, kamu haus tidur lagi biar miss lux menidurkan mu kembali." kata Adrian yang harus menidurkan adik kecilnya sendiri.


βž–


Jam makan malam pun sudah tiba, hidangan sudah tertata rapi di atas meja dan tak lama nyonya Andini dan tuan besar Darren datang.


"Selamat malam tuan dan nyonya, silahkan makan malam sudah siap." kata Kia saat sang nyonya dan tuan besar datang.


"Terimakasih sayang, kamu makan bersama ya?" nyonya Andini berkata.


"Eh, tak usah nyonya saya akan makan bersama dengan yang lainnya di belakang." sahut Kia.


"Duduk lah Kia, tak ada penolakan." tegas sang nyonya.


"Tak ada salahnya kamu makan bersama kami, toh kamu sudah menjadi keluarga kami." sahut tuan Darren.


"Tapi... " perkataan Azkia ter gantung saat Adrian datang.


"Malam mah, pah." sapa Adrian saat sampai di sana.


"Malam juga sayang." sahut sang mamah.

__ADS_1


"Malam juga Yan." sahut sang papah.


Adrian melihat Azkia dengan sudut matanya, karena ia tak berani menatap nya, karena saat melihat Azkia pasti ingat dengan kejadian tadi sore, alhasil mengakibatkan membangunkan hasratnya.


Adrian pun duduk bersamaan dengan Kia pun duduk, saat sang mamah melihat wajah sang anak mengkerut ia pun menjelaskan apa yang terjadi saat ini.


"Mulai sekarang Kia akan makan bersama dengan kita, kamu gak keberatan kan sayang?" kata Mamah Andin.


"Ehem, ya terserah mamah saja." sahut Adrian.


"Ya sudah, ayo kita makan."


Mereka pun makan dengan keheningan, cuma ada suara denting sendok dan garpu beradu dengan piring.


Selesai makan malam mereka pun biasa pindah ke ruang santai, tak lupa teh dan cemilan sebagai teman nonton dan ngobrol.


"Mah, Pah, Iyan langsung ke kamar ya ada pekerjaan yang belum Iyan selesaikan."


"Iya sayang." sahut sang mamah, sedangkan sang papah hanya menganggukan kepalanya saja tanpa suara.


"Kia juga permisi nyo.. "


"Kia, mulai sekarang kamu tak perlu sungkan untuk memanggil kita mamah dan papah, karena Adrian sudah tau." sahut Andini.


"Betul Kia mulai sekarang kamu panggil kita papah dan mamah, dan mulai besok kamu tak usah melayani Adrian lagi, benar kan mah?"


"Ah iya hampir lupa, mamah udah menyuruh Mira menggantikan kamu, mulai sekarang kamu fokus sama belajar dan belajar, jangan lupa misi kita juga, oke sayang."


"Iya sayang selamat istirahat."


βž–


Ke esok anda harinya, Kia tak melakukan pekerjaan biasanya, ia hanya memasak dan menyiapkan sarapan pagi ini.


Tok.. tok.. tok..


Tak menunggu jawaban dari dalam, Mira pun masuk ke kamar sang tuang muda, dan sampai di dekat ranjang yang di tempati sang tuan muda.


"Tuan.. tuan.. bangun sudah pagi."


Adrian yang mendengar suara berbeda dari Azkia,ia pun langsung membuka matanya ingin memastikan pendengaran nya.


Saat membuka matanya "Loh kok, mbak Mira yang bangunin? emang Kia kemana?" kata Adrian terkaget.


"Iya tuan, malai sekarang saya yang akan melayani anda." sahut Mira.


Adrian hanya mengangguk saja, tanda dia mengerti.


Mira pun bergegas menyiapkan air hangat seperti yang biasa Kia lakukan, setelah selesai Mira pun keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Tuan air mandi sudah siap." kata Mira.


"Ya terimakasih mbak." Adrian pun langsung masuk ke dalam kamar mandi.


'Ini pasti mamah yang atur, aku tak berani membantah apa yang mamah putuskan, tapi rasanya canggung kalau mbak Mira yang nyiapin keperluan ku, tapi apa boleh buat aku tak bisa menggugat apapun keputusan mamah huh.' gumam Adrian dalam hati.


Di meja makan Kia dan Bi Inah sedang menata hidangan sarapan pagi ini.


Tak lama tuan Darren dan nyonya Andini datang menuju meja makan.


"Pagi sayang, pagi bi, wah menu sarapan yang lengkap."


"Iya mah, perut papa udah meronta nih."


"Pagi semua." sapa Adrian dan langsung mendudukan bokongnya di kursi.


"Pagi sayang, nanti kamu berangkat sama Kia lagi ya sayang? kamu gak keberatan kan sayang?"


"Iya mah, gak kok, kan satu arah, kalo beda arah mana bisa?"


"Terimakasih ya sayang, ayo kita sarapan."


Mereka pun menikmati sarapan bersama, dengan keheningan seperti biasabiasa.


βž–


"Kamu pakai pelet apa sampai Mamah dan Papah ku mengangkat kamu jadi saudaraku?"


"Hah.. maksud tuan apa? pelet apa Kia bahkan tak minta ini, Kia juga sadar kalo Kia cuma seorang pembantu, tapi Kia gak bisa nolak permintaan tuan besar dan nyonya." sahut Kia sambil menunduk dengan rasa campur aduk dan merasa sakit yang di katakan tuan mudanya.


"Hmmm.. saya masih tak percaya saja dengan sikap mamah terhadap kamu, tapi mamah malah cuek sama Siska yang notabene calon menantu nya, sedangkan kamu? hah sudah lah bikin pusing saja."


Azkia tak berani menimpali sang tuan muda, Kia hanya diam sepanjang perjalanan, saat sampai pun dia langsung turun dan berpamitan.


'Kenapa tuan Adrian bilang gitu? terkesan menuduh Kia lakuin sesuatu sama tuan besar dan nyonya, huh sakit dan nyesek di tuduh seperti itu.' gumam Azkia saat berjalan menuju taman tempat biasa ia dan Cindy bertemu.


"Hai Ki, kenapa tuh muka di tekuk begitu?" sapa Cindy.


"Ah enggak papa kok hanya bad mood, ayo kita langsung ke tempat pengumuman."


"Ayo."


Mereka pun menuju tempat di mana pengumuman hasil teh akhir kemarin, di sana sudah di kerumuni Mahasiswa/i ada yang bahagia karena lulus ada yang murung karena tak lulus.


"Kia kamu cari sebelah kiri aku sebelah kanan oke."


"Oke Cin."


Mereka pun mencari nama mereka dengan konsentrasi tinggi, dan akhirnya Kia menemukan nama mereka.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.....


__ADS_2