
π.....
π.....
π.....
Seminggu berlalu, Azkia sudah lewati masa mos dan pelajaran pertamanya juga sudah di mulai 3 hari lalu, hari ini adalah hari ke empat Azkia kuliah, alhamdulillah segalanya di lancarkan, pertemanannya pun semakin erat saja.
"Cindy, kita ke kantin yuk, laper nih." seru Azkia yang menghampiri bangku tempat sahabat nya duduk.
"Yuk, aku juga lapar, mikir terlalu banyak bikin laper hehehe... " sahut Cindy.
"Iya sama, aku udah chat di WAG kasih tau Dendi sama Yono suruh nyusul." seru Azkia.
"Okeh yuk kita duluan."
Ya Cindy dan Azkia memang satu kelas, tapi tidak dengan Dendi dan Yono karena mereka beda jurusan.
Cindy dan Azkia mengmbil jurusan kedokteran, sedangkan Dendi dan Yono mengambil jurusan Bisnis, tapi dengan begitu mereka tetap menjalin persahabatan mereka dengan saling membantu.
Sesampainya di kantin Cindy dan Azkia pun pesan nasi rames dan minum teh hangat, lalu duduk di bangku yang tak jauh dari kios nasi rames.
Tak lama Cindy dan Azkia duduk datanglah Yono dan Dendi.
"Hai, kalian udah lama?" seru Dendi menyapa Cindy dan Azkia.
"Baru kok, tapi kita udah pesan nasi duluan, kalian pesen aja."
"Oh ya udah, kalo udahudah kita pesen dulu."
Dendi dan Yono memesan makan, dan pesanan makan Cindy dan Azkia datang.
β
Sudah seminggu berlalu Adrian di sibukan dengan pekerjaan yang sedang di garapnya, laporan demi laporan dia kerjakan, saking sibuknya, sampai Adrian melupakan apa yang menjadi masalah pribadinya.
"Tuan ini laporan yang kemarin saya dan Nadia kerjakan di luar kota, dan masalah di sana sudah saya atasi dan Nadia."
"Syukurlah, kalian sudah menyelesaikan masalah itu, bagai mana perkembangan penyelidikan masalah Siska?"
Bian lupa kalau dia belum konfirmasi tentang itu pada anak buahnya.
"Maaf tuan saya belum menanyakan lagi pada anak buah saya, karena saya tak mau selama menyelesaikan masalah pekerjaan di sana melarangnya untuk menghubungi saya, karena takut fokus saya terbagi, kalau begitu saya akan menghubungi anak buah saya dulu." jelas Bian panjang lebar.
"Ya sudah saya tunggu, saya harap anak buah mu sudah menemukan apa yang selama ini mamah khawatirkan."
"Baik tuan saya permisi dulu."
"Ya."
Bian pun keluar dari ruangan Adrian, dan kembali ke ruangan untuk menelpon anak buahnya.
"Halo tuan, ada yang bisa saya bantu?" sahut anak buah Bian di sebrang telpon.
"Ya, bagaimana hasil penyelidikan mu tentang pacar tuan Adrian? saya tunggu laporan mu hari ini!"
"Baik tuan, saya akan segera ke sana membawa hasil pekerjaan saya."
__ADS_1
"Ya saya tunggu, di ruangan saya."
Telpon pun di tutup, lalu anak buah Bian pun bergegas menuju kantor sang tuan, tak lupa ia membawa semua hasil kerjanya.
β
"Rama bagaimana perkembangan tentang Srigala berbulu domba itu?"
"Ini tuan, untuk bukti kuat agar dia tak bisa mengelak atas perbuatan mereka, saya sudah tak sabar, ingin cepat membongkar semua perbuatan mereka tuan."
"Kerja bagus Rama, kamu memang yang terbaik, hubungi Bian untuk memberikan bukti ini untuk Adrian, saya juga sudah tak sabar melihat reaksi anak itu."
"Baik tuan, saya permisi dulu."
"Ya, silahkan."
Rama pun keluar ruangan sang tuan, lalu gegas ke ruangannya, dan menelpon Bian untuk datang ke ruangannya.
"Hallo pak Rama, ada yang bisa saya bantu?"
"Hallo Bian, kamu sibuk?"
"Saya sedang menunggu anak buah saya? apa pak Rama memerlukan saya secepatnya?"
"Ya, kalo bisa sekarang, kamu datang ke ruangan saya!"
"Baik Pak, saya segera ke sana."
Telpon pun di tutup secara bersamaan, Bian pun gegas menuju satu lantai di atas lantai ia bekerja.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk."
"Permisi Pak."
"Ya duduk lah, ada hal penting yang saya akan sampaikan, ini menyangkut tentang Siska! apa kamu sudah menemukan bukti tentang kebohongan Siska?"
Rama mempersilahkan duduk pada Bian dan Rama bertanya pada Bian.
"Saya lagi menunggu anak buah saya Pak, apa Pak Rama punya?"
"Ya, saya menyuruhmu datang untuk memberikan ini semua bukti tentang kebohongan Siska, kamu berikan pada tuan muda, tapi jangan semuanya, sebagian dulu saja, perlahan tapi pasti, biar tuan muda tah syok dengan kenyataan itu."
"Baik Pak, ini saya terima, apa ada lagi Pak?"
"Sementara itu dulu, nanti kalo ada lagi saya hubungi kamu!"
"Baik, terimakasih Pak, saya permisi, takut anak buah saya datang."
"Ya silahkan."
Bian pun gegas meninggalkan ruangan Rama, menuju lift untuk kembali ke ruangan sendiri.
Begitu keluar dari lift, bersamaan dengan itu, anak buah Bian pun keluar dari lift di sebelahnya.
"Loh tuan!"
__ADS_1
"Pas banget, ayo masuk ruangan saya."
"Baik tuan."
Yuda pun mengikuti Bian dari belakang, melewati meja Nadia yang sedang fokus dengan pekerjaannya.
Saat mereka masuk, Bian pun langsung menyuruh Yuda duduk di kursi depan meja kerja Bian dan Bian duduk di kursi kerjanya.
"Bagaimana hasil Yuda?" langsung Bian bertanya.
"Ini tuan semua bukti ada di sana, tuan bisa lihat gambar, video, dan bukti tertulis juga semua ada di sana."
"Bagus, saya akan memeriksanya, kamu tunggulah."
Bian pun, memasukan flashdisk ke laptopnya, dan membuka semua hasil kerja, Yuda sang anak buah yang handal itu, setelah Bian melihat semuanya, ia pun puas dengan hasil kerja anak buahnya, tercetak senyum puas dari raut muka Bian.
"Kerja bagus Yuda, kamu memang bisa di andalkan, kamu terus pantau dia, kalau ada info baru kamu langsung, kabarkan pada saya."
"Baik tuan apa ada yang lain?"
"Hari ini, itu dulu sudah cukup, kamu boleh melanjutkan pekerjaan mu, dan nanti saya akan menambahkan bonus untuk kerja bagus kamu."
"Terimakasih tuan, kalau begitu saya permisi."
"Ya."
Yuda pun gegas keluar dari ruang kerja sang bos, lalu ia pun pergi melanjutkan pekerjaannya.
Setelah Yuda keluar dari ruangan nya, Bian pun gegas ke ruangan sang tuan muda.
Nadia tetap fokus dengan pekerjaannya, tak bergeming dengan lalu lalang Bian dan anak buahnya sedari tadi yang melewati meja kerjanya.
Bian melirik ke arah Nadia yang sedari tadi fokus dengan komputer nya, lalu gegas menuju ruangan sang tuan.
Tok... tok... tok...
"Masuk."
Bian pun masuk dan langsung menuju meja sang tuan.
Adrian pun mengalihkan atensinya, dan melihat ke arah sang sahabat sekaligus asisten pribadinya.
"Bagaimana Bi? apa sudah ada hasil dari anak buahmu?"
"Sudah tuan, saya sudah memeriksa semua isinya, apa tuan sudah siap? apa pun yang terjadi tuan harus menerima kenyataan."
"Apa kecurangan Mamah terbukti?"
"Ya tuan, nyonya seorang Ibu, jadi dia tak akan salah menduga-duga."
Adrian pun menarik napas dalam mengambil udara segar di ruangan nya sebanyak-banyaknya.
"Ya mana buktinya, saya sudah siap dengan segala kemungkinan."
"Ini tuan semua sudah ada di sini, gambar, video, dan yang tertulis pun ada."
Adrian pun langsung mengambil flashdisk di tangan Bian, dan langsung menghubungkan flashdisk ke laptopnya.
__ADS_1
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Bersambung....