
Khanza melihat sekelilingnya , ini bukan lah tempat nya . Ia heran kenapa para orang kaya suka sekali membuat pesta dengan remang remang seperti ini , suara musik bahkan menghentak hentak di telinganya . Bahkan tak jarang ia lihat Benny berbicara tepat di telinga lawan bisnisnya .
Pria itu dengan setia menggenggam erat tangannya , meskipun tangannya sangat berkeringat , Benny bukannya tidak tahu , Za tidak nyaman berada di tempat ini untuk menemaninya , tapi proyek ini sangat penting baginya . Jika ia tidak datang , tentu saja David Morres akan sangat kecewa padanya , dan mengecewakan rekan bisnisnya adalah suatu hal yang sangat dihindarinya .
" Aku mau ke toilet sebentar ... " Bisik Za di telinganya , Benny menoleh .
" Aku akan menemanimu ..." Balas Benny .
Za menggeleng , " aku bisa sendiri ..." Benny menampilkan raut muka tidak suka , tapi dia tidak bisa berkata-kata lagi ketika David mengajaknya ke sebuah private room untuk membahas projek mereka .
" Jangan lama lama ok , aku tunggu di sana ..." Benny menunjuk private room dimana David menghilang di balik pintu .
Za berusaha membaur dengan orang orang dan pesta ini , tapi sepertinya mereka tidak menerima kehadirannya , beberapa perempuan bahkan dengan terang terangan mencibirnya , seolah ia tidak pantas berada disini . Yah dengan gamis glamor yang ia pakai sekarang tidak membuat mereka tersenyum kearahnya .
Za menghela nafas dalam-dalam , dia berjalan perlahan dari toilet menuju private room tempat dimana suaminya , sebelum ia benar-benar membuka pintu itu , suara David membuatnya urung untuk masuk ke sana .
" ... pilih lah salah satu wanita disini Benny , temanku . Aku yakin mereka akan sangat bisa memuaskan mu ..." David tersenyum pongah sambil memeluk dua orang wanita berpakaian minim .
" Maaf tuan Morres , saya sudah beristri kalau anda tidak lupa ..." Benny tersenyum canggung , memikirkan Za yang tidak juga kembali dari toilet .
David tertawa pongah , menampilkan deretan gigi giginya . " Aku juga pria beristri Benny , tapi kita para pria harus tau bagaimana caranya bersenang senang , kawan " pria keturunan blesteran indo jerman itu dengan terang terangan berciuman dengan salah satu wanitanya di depan mata Benny.
Sebenarnya Benny sangat risih melihatnya , jika saja ia tidak terikat kontrak bisnis dengan pria ini. Mungkin ia akan lebih senang tinggal di hotel bersama istrinya . Memikirkan istrinya membuat Benny khawatir kenapa Za belum juga kembali dari toilet .
" Apa yang kau pikirkan tampan...." Benny terkejut ketika mendapati salah satu wanita Morres mendekat hingga jarak mereka hanya terpisahkan desahan nafas mereka .
" Bersenang senang lah kawan ...." Teriak Morres diseberang sana , yang sedang bercumbu hebat dengan wanita yang harusnya layak menjadi anak gadisnya .
Benny muak , sudah cukup !
Tapi sekelebat bayangan istrinya menghilang di balik pintu , Benny segera berlari mengabaikan teriakan Morres atau wanita pelacur itu . Benny yakin pandangan nya tak salah lihat , istrinya baru saja berlari di depan pintunya .
__ADS_1
Dengan susah payah Benny berusaha membelah lautan manusia di tengah pesta , sebagian mereka ada yang merutuk marah karena senggolan atau tabrakan tubuh Benny yang berusaha mengejar istrinya , atau bahkan ada yang tidak peduli dan melanjutkan aktivitas mereka .
Za berhenti di pinggir jalan begitu ia berhasil keluar dari tempat terkutuk itu , buliran air matanya mengalir begitu saja tanpa ia sadari . Hatinya rasanya sangat perih , kenapa ia begitu percaya bahwa Benny akan selalu menunggunya di tengah jutaan perempuan cantik dan seksi di luar sana , bodohnya dia . Za tertunduk lesu , merintih pelan , menutup isakannya dengan kedua tangannya berharap suaranya tidak terdengar memilukan . Dia masih ingat dengan jelas bagaimana perkataan David Morres tentang nya dan Benny yang sedang digoda perempuan seksi di dalam sana .
" Katakan padaku , kenapa kau berlari bukannya menghampiri ku ...!" Teriak Benny dengan nafas tersengal , keringatnya mengucur deras membasahi setelan hitamnya .
Za menoleh kaget tidak menyangka jika Benny ada di belakangnya , dia fikir lelaki ini sedang bercumbu dengan wanita lain di dalam sana .
Benny memandang nanar wajah istrinya , masih tercetak jelas bekas jejak air mata diwajah Khanza ." Dan kenapa kau menangis , disini ?! Bukannya menghampiri ku ! Kamu tidak tahu betapa khawatirnya aku..!"
Za menangis lagi , kenapa pria ini justru memarahi nya , sudah jelas Benny lah yang salah disini .
" Bukannya kau bersenang senang di dalam sana ?" Kata Za getir .
Kedua alis Benny saling bertaut , " apa maksudmu bersenang senang ..."
Za memalingkan wajahnya , " harusnya aku tidak mempercayaimu ..."
" Lepaskan aku!!" Kata Za setengah berteriak kedua tangannya berusaha melepaskan cekalan tangan Benny , tapi dia kalah tenaga .
" Tidak akan , sebelum kau menjelaskan maksud dari kata kata mu itu ..."
" Lepaskan ! Kau menyakitiku !!" Ringis Za lagi sambil terisak pelan , Benny tersentak mundur dan melepaskan cekalan ya , tanpa sadar ia sudah menyakiti istrinya .
Benny berusaha memeluk istrinya menenangkannya , tapi wanita itu berontak dan memukuli dadanya . Benny bergeming dan membiarkan Za melampiaskan amarahnya meski ia tidak tahu apa letak kesalahannya , hingga wanita itu lelah dan terisak di pelukannya .
Khanza menangis semakin kencang , ia dalam pelukan Benny tapi rasanya mereka begitu jauh . Seharusnya ia tidak percaya begitu saja kata kata Benny yang akan selalu menunggunya sampai ia siap , laki laki sehat seperti Benny mana mungkin tidak tertarik pesona gairah wanita diluar sana .
" Aku tidak tahu apa yang membuat marah seperti ini sayang, harus kamu tahu aku juga sedih melihat mu seperti ini ..." Benny menghirup aroma wangi rambut istrinya di balik hijab , rasanya baru kali ini mereka bisa sedekat ini .
Isakan Za lama terdengar lirih dan berhenti , berusaha melepaskan pelukan hangat Benny , jujur dia berasa sangat nyaman didalamnya , indra penciumannya di penuhi aroma tubuh suaminya , sangat wangi dan maskulin .
__ADS_1
Tapi hati Za langsung kembali lunglai begitu menyadari kenyataan rumah tangga mereka .
" Kita pulang ...?" Kata Benny setengah bertanya .
Za tidak menjawab , lama ia terdiam , sebenarnya satu tanda besar yang sedang berkecamuk di kepala nya .
" Za , sayang , kita pulang? Ok ? " Ulang Benny lagi .
" Apa kau pernah melakukan **** dibelakang ku ???" Za menggigit pelan bibirnya , wajahnya tertunduk tidak berani menatap Benny , ia takut kalau jawaban akan membuatnya terluka dan kecewa .
" Apa?!" Benny tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar , apa pendengaran nya salah tadi ?
" Apa kau, pernah melakukan **** dibelakang ku sebelumnya .... tolong jawab yang jujur , meskipun itu pahit ...." Khanza menatap nanar wajah suaminya .
" Jangan berpikiran macam-macam , ayo kita pulang..." Benny menarik lembut tangan istrinya , tapi Za menolak untuk mengikutinya .
" Ayo kita berhubungan ****...."ucap Za lirih , tapi masih bisa didengar jelas Benny .
Benny seperti sedang dijatuhi bintang bertubi tubi , dia harus senang atau marah tentang hal ini ?
Jika memang kecurigaan Za ini adalah suatu kecemburuan , mungkin Benny akan sangat gembira , karena dibalik kecemburuan itu ada benih cinta yang terselip .
Benny menoleh untuk melihat wajah istrinya , pandangan Za menatap nanar wajahnya , ada sirat keragu raguan dalam matanya , Benny bisa melihat itu .
" Aku tidak mau berhubungan **** dengan mu !" Balas Benny tegas .
Dada za langsung sesak begitu mendengarnya , rasanya seperti ada ribuan bebatuan yang sedang menimpa dadanya .
Dengan susah payah Khanza mengucapkan kata-kata menjijikkan seperti itu , tapi jawaban yang ia dengar ternyata sangat menyakitinya , tidak terasa setitik air mata mengalir di kedua belah pipinya .
Tapi belum sempat Khanza menimpali , Benny sudah menariknya kedalam pelukan dan melumat bibirnya lembut , selembut bibir Khanza .
__ADS_1