
41
Malam panjang dilewati Celine bersama suaminya. Pria yang pernah menolak dan mengabaikannya. Pria itu juga yang belakangan menyatakan cinta padanya. Pria yang berhasil mengambil madu manis miliknya. Pria yang sudah berhasil membuat ia mendes*h sepanjang malam. Bodoh ... kenapa hati ini begitu cepat luluh padanya? Kemana perginya keberanian melawan dan mengumpat pria itu? Kenapa malam tadi ia tidak berdaya? Bahkan, sangat ... sangat menikmatinya. Kenapa hati ini sangat lemah bila disentuh olehnya?
Cinta, mambuat ia lemah. Cinta membuat ia bodoh. Cinta membuat ia lupa pria seperti apa yang saat ini ia hadapi. Pria keras kepala yang teguh pendirian. Bagaimana kalau suatu saat pendiriannya goyah? Bagaimana kalau pria ini tetap menceraikannya setelah satu tahun pernikahan mereka?
Tapi, tak apa ... setidaknya Marvel tahu, bahwa ia belum tersentuh. Bahwa pria itu sendiri yang mengambil kesuciannya.
Jujur, untuk pertama kali malam tadi ia merasa Marvel sangat menyayanginya. Menatap matanya penuh dengan cinta, berusaha untuk tidak membuat ia merasakan sakit saat Marvel mulai melakukan aksiinya, sampai berhasi merenggut madu manis miliknya sampai menodai selimut mereka.
"Benarkah kau cinta padaku?" Celine hanya bisa bergumam, ia tidak mau membangunkan pria yang masih terlelap di sampingnya. Bibir yang malam tadi menyapu hampir semua bagian di tubuhnya, bibir yang malam tadi menyatakan cinta, bibir yang malam tadi maracau tidak jelas. Kini, sudah terkatup rapat. Pria itu tidur sangat nyenyak.
Masih sangat larut untuk ia melakukan aktifatas, bagian bawahnya terasa perih saat ini, tapi ia tetap terseok-seok ke kamar mandi. Berendam air panas berharap bisa mengurangi rasa perih ini. Celine tak dapat menghitung berapa banyak bercak merah yang ditinggalkan Marvel di tubuhnya.
"Kau milikku...."
Itu yang diucapkan Marvel setiap kali melakukannya. Celine mendes*hkan nafas mengingatnya.
"Apakah aku masih milikmu bila suatu saat nanti kau diharuskan untuk memilih? Memilih aku ... atau Jeny. Kau tidak bisa memiliki keduanya 'kan?"
Memikirkan itu hanya akan membuat ia sakit hati. Air hangat itu ia guyur dari atas kepala, membersihkan pikirannya yang sedang kacau. Sebelum keluar dari kamar mandi, ia raih handuk kimono untuk menutupi tubuhnya.
.
.
.
.
.
Celine yang awalnya berniat membalas pesan dari Jeje terkejut melihat foto Jeje terbaring dengan selang infus di tangan. Karena cemas memikirkan kondisi temannya itu, ia pergi ke balkon untuk menghubungi JeJe di sana.
__ADS_1
"Ozan ... kau'kah itu?" tanya Celine pada pria yang menjawab panggilannya.
Terdengar hembusan nafas berat disana.
"Kau yang mengirimkan foto Jeje padaku, 'kan? Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa sakit seperti itu?"
"Kembalilah, Celine ... Jeje membutuhkanmu."
"Apa-apaan ini? Jadi itu alasannya dia menyuruhku cepat kembali ke sana? Kenapa tidak bilang kalau dia sakit? Kalau aku tahu dari awal, aku pasti sudah ada disana, sekarang."
"Dia melarangku memberi tahumu. Aku bisa apa, huh? Cepat temui dia, jika tidak...."
Hening, hanya gemuruh hembusan nafas yang terdengar.
"Jika tidak apa, Ozan? Bicaralah...."
Celine terus mendesak, tangannya mulai gemetaran.
"Jika tidak ... kau akan menyesal."
Bulir bening jatuh begitu saja membasahi pipinya. Jantungnya seakan berhenti berdetak, firasat buruk menyelimutinya.
"Apa maksudmu? Jeje tidak mengidap penyakit yang serius 'kan?" tanyanya disela-sela isakkannya.
Ozan menghembuskan nafas berat.
"Jeje menderita Meningioma ... para dokter sudah berusaha semampunya, tapi tumornya semakin menyebar."
Tiiiiiiiittttt
Telinga Celine berdengung, ia tidak tahu apa lagi yang dikatakan Ozan disana. Tubuhnya bergetar hebat. Mata yang sudah basah menatap langit gelap dengan nanar. Wajah tersenyum Jeje terlukis di sana.
"Tidak mungkin ... kenapa kau sembunyikan ini dariku?"
__ADS_1
Celine terduduk, punggungnya bersandar di besi pembatas. Benda pipih yang menampakkan foto Jeje ia genggam di dada, ia melipat kedua lutut dan membenamkan wajah di tumpuan tangannya. Menganis mengingat awal pertemuannya dengan wanita itu. Dua wanita yang sama-sama terluka dipertemukan untuk saling menguatkan, saling mendukung, saling mengerti hingga kenyamanan menyelimuti pertemanan mereka.
.
.
.
"Celine ... kau menangis?"
.
.
.
🌴🌴🌴
Meningioma adalah tumor jinak yang berkembang pada membran yang menutupi permukaan sel otak dan sumsum tulang belakang.
🍀🍀🍀
Jadi, awal Marvel bertemu dengan Celine statusnya udah jomlo, akut! Bang sad ini udah cukup lama ditinggalkan sama Jeny yang pergi ntah kemana.
.
.
.
Celine sendiri, setelah memutuskan pertunangannya dengan Marvel, ia langsung terbang ke negara lain. Di sini ia jadi Kak Sad😔 Berusaha ngelupain Mantan yang bernama Marvel. Nah ... tanpa diduga ia bertemu dengan wanita yang lebih suka dipanggil Jeje. Lambat laun mereka berteman dan begitulah kisahnya.
Jarak dan waktu pernah memisahkan mereka, nanti mereka akan bertemu di bawah langit London.
__ADS_1
Kapan ketemunya?
Ini masih ngurus tiket, visa dll😁