
Pembatalan pernikahan ?
Benarkah itu yang ia inginkan , mungkin ini satu-satunya kesempatan Za untuk terlepas dari Benny selamanya . Tapi apakah itu benar benar terbaik untuknya , dan juga bagaimana dengan Pakde , bagaimana Za menjelaskan pada orang tua yang disayanginya itu . Bagaimana kalau kesehatan pakde sampai menurun lagi gara gara masalah nya ini .
Za tidak sanggup membayangkan nya , kehilangan satu orang lagi pengganti orang tuanya , Za tidak mau itu terjadi .
Tapi ini adalah kesempatan terakhir nya untuk bisa lepas dari Benny , Za duduk terdiam di sofa dan merenung sendiri . Kenapa kehidupan rumah tangganya bisa seperti ini , diam diam air matanya menetes membasahi pipinya . Entah karena apa ia menangis , Za bingung dengan suasana hatinya . Tanpa pikir panjang dan langkah gontai , dia meraih kopernya dan merapikan seluruh barang barangnya didalam koper .
Za kembali memandangi koper dan barang bawaannya yang sudah tersusun rapi , entah kenapa hatinya terasa perih dan hampa , air matanya menetes lagi . Karena kepalanya yang semakin pening Za merebahkan tubuhnya di kasur besarnya yang terasa dingin .
****
Keputusan bodohnya membuat Pakde Anfal , terpaksa beliau harus dilarikan ke RS lagi . Belum lagi kasak kusuk para tetangga yang menjadikan nya buah bibir , Mas Dito bahkan tidak mau berbicara padanya . Entah karena marah atau sibuk menghawatirkan bapaknya .
Berbeda dengan Mbak Isma , dia hanya terus menangis dan memeluknya . Perempuan itu justru prihatin padanya . Berkali-kali mba Isma memasang badan hanya untuk melindungi nya dari cemoohan para tetangga atau bahkan sikap diam mas Dito .
Belum lagi keluarga besar Benny yang sekarang memusuhinya , menyalahkan dirinya karena dia penyebab keluarga Sanjaya menanggung malu .
Za bangun dari duduknya begitu mas Dito keluar dari ruang UGD , pria itu tidak berbicara , tapi sorot matanya memancarkan kesedihan . Mba Isma yang sedari tadi duduk di sampingnya bangkit dan menghampiri suaminya .
" Mas , bagaimana bapak mas ..." Mba Isma mengguncang tubuh mas Dito yang perlahan lahan lirih kelantai . Za tidak bisa lagi menahan air matanya , ketika melihat hal yang sama juga keluar dari mata Dito sosok yang sangat tegar seperti yang Za tahu .
" Mas...!" Mba Isma ikut luruh dilantai bersama suaminya . Tidak mungkin , Za menggelengkan kepalanya , tidak mungkin hal itu terjadi .
" Mas apa yang terjadi dengan pakde mas ..?!" Za ikut bersimpuh dihadapan kakaknya , tapi justru Dito mendorongnya hingga terjatuh .
" Pergi kau , ini semua gara gara kamu , bapak meninggal !!"
Tidak mungkin , dunia Za seperti berhenti berputar . Tuhan tolong sadarkan aku jika ini mimpi .
Pakde meninggal , lalu Semua orang membencinya , bahkan mas Dito juga .
Ini mimpi buruk!!
" Tidak!!!!"
" Tidak!!!!" Nafas Za tidak beraturan naik turun , keringat dingin membasahi seluruh badannya , padahal AC kamar hotel dibuat senyaman mungkin .
Za baru ingat dia masih dikamar hotel , dan kopernya masih ada disana , itu hanya mimpi , ya hanya mimpi . Za bersyukur dalam tangisnya , diraihnya ponsel Android miliknya .
Pada sambungan pertama Za langsung bersyukur begitu mas Dito mengangkat panggilan darinya .
" Mas!"
"Ada apa dek , kok kedengarannya kamu ngos-ngosan gitu ..? Jangan bilang ya kamu habis ******* sama Benny ..." Mas Dito cekikikan di ujung sana .
Za menangis dalam diam , dia bersyukur mas Dito masih sayang padanya , bagaimana jika mimpinya itu jadi kenyataan .
__ADS_1
" Dek... Kok malah diam ? Beneran nih abis ******* ya ...?" Mas Dito tertawa lagi .
" Mas Pakde sehat kan ...?"
" Hm... mengalihkan pembicaraan ..."
" Mas, Za serius. Pakde sehat ...?" Ucap Za tegas ..."
" Iya sehat , lagian ada apa , tiba tiba telpon , ga jelas gitu ... jangan bilang ya kamu berantem sama Benny !"
Suara Dito diujung sana membuat Za menelan ludah , bagaimana pria ini bisa tahu .
" Ng_gak..." Bohong Za .
" Kamu ga bisa bohong sama Mas , dek...hayo jujur , bener kan kalian bertengkar ...?"
Za mengangguk sambil menangis , seolah Dito diseberang sana bisa melihat anggukannya .
" Maafin Za mas , Za ga bermaksud seperti itu ..." Za tersedu sedan ditengah tangisnya .
" Udah ,udah , jangan nangis gitu , harusnya kamu minta maaf sama Benny bukan sama mas mu ini "
" Za ga tau mas ..." Za mengusap bulir air mata di pipinya .
" Ga tau apa ?? Ga tau cara minta maaf ??" Za menggigit bibir bawahnya , tentu saja bukan itu yang ia maksud .
" Terus ..?"
Hening .
Masih hening .
" Za , kamu ga ketiduran kan ..? Mas mu ini sampai kering lho nungguin kamu ngomong , apa mesti diajari ngomong lagi ...?"
Za tertawa kecil menanggapi , guyonan kecil masnya , mas Dito yang Za kenal selalu sabar menghadapinya .
" Ga mas... Maksudku , Za ga tau Benny ad_da di_ma_na..." Terbata bata Za mengucapkannya .
Dito menghela nafas diujung sana ,
"Za kamu sudah melihat kan bagaimana kehidupan rumah tangga mas dan mbak mu ini , kehidupan rumah tangga itu memang tidak mudah , selalu ada saja aral melintang , tapi pesan mas , sama kamu Za hormatilah suamimu , karena sekarang kau adalah wanita bersuami , kepada suamimu lah kau harus taat , cepat telpon dia minta maaf lah ..."
Za malu mengakui kebodohan nya , bagaimana mungkin dia bisa melupakan hal sepenting itu , dia telah menyakiti hati suaminya selama ini , betapa sholatnya selama ini sia sia , Za menangis lirih .
" Hm , malah mewek lagi , telpon Benny , cepat minta maaf ..."
Za menghapus air matanya , " maaf mas , Za ga punya nomor Benny ..."
__ADS_1
Dito tertewa di ujung sana .
" Dek , dek kenapa ga ngomong dari tadi ...?"
Persekian detik , Dito mengirimkan kontak ponsel Benny lewat WhatsApp .
" Nomor Benny sudah mas kirim , buru buru hubungi dia , .......oh iya dan satu lagi pesan mas , coba kamu rubah panggilan kamu sama Benny , Mas kek atau apalah biar keliatan mesra..., Ok honey ..?"
" Ok mas Za ngerti ..."
" Ok , jaga diri dek , ingat sekarang kamu adalah seorang istri , harus taat , dan hormatilah suamimu ..."
Dito menutup panggilannya , Za segera menyimpan nomor telepon yang dikirimkan Dito padanya . Begitu tersimpan dalam kontak ponselnya , sambungan WA Benny langsung terhubung di kontaknya , dan satu yang Za lihat , gambar dirinya yang sedang tertidur di pesawat ada di profil WhatsApp suaminya .
Sedikit ragu Za menekan tombol panggilan dan langsung berdering di sambungan kedua .
" Halo..." suara Benny diujung sana .
Za menelan ludahnya kasar , rasanya tenggorokannya sangat kering dan susah mengucapkan kata kata .
" Halo , siapa ini ?" Suara Benny lagi .
" H_ha...Lo...,mas...ada dimana ?" Za menelan ludahnya lagi , ya Allah semoga Benny tidak menertawakan atau menutup panggilannya .
" Maaf ini siapa ya ? Apa saya mengenal anda ?"
" Ini aku mas ....., Khanza ...." Khanza menutup matanya , bersiap menerima keputusan apapun dari Benny .
Hening , satu detik berlalu ...
" Mas ....., Maaf mas ada dimana ...Za mau ketemu , mau bicara sama mas , apa boleh ...?" Jantung Za berdetak 2x lebih cepat .
" Jangan bercanda ya , jangan mengaku aku istri saya ..." Suara Benny sedikit tegas , dan membuat Za tambah dag dig dug tidak karuan .
" Em.....mas kalau tidak percaya , alihkan saja panggilannya ke panggilan video ..."
Dua detik kemudian ada konfirmasi pengalihan panggilan ke panggilan video .
Za menekan tombol ok dan ia tidak tahu penampilannya saat ini sangat mendukung untuk dilihat suaminya , berhubung dia habis nangis semalaman .
Wajah Benny muncul di layar ponselnya , suasana latar sebuah restoran ada dibelakang suaminya .
" Mas , boleh kita bertemu ? Ada yang mau Za omongin ..." Za memberanikan diri untuk menatap mata suaminya , pria itu bersikap sangat dingin tidak seperti Benny yang kemarin , hati Za sedikit bergetar perih karenanya , tapi semua itu salahnya . Apa Benny sudah mendaftarkan gugatannya , memikirkannya membuat Za ingin menitikkan air mata lagi , tapi sekuat tenaga menahannya .
" Mas ... Apakah bisa kita ketemu ...?"
Sinyal panggilan video sangat lambat karena Za hanya melihat anggukan kecil suaminya , lalu panggilan video terputus sesaat setelah Benny menengok kearah lain .
__ADS_1