Mantan Tapi Menikah

Mantan Tapi Menikah
MTM 37- Ancaman Natan


__ADS_3

37


Memang belakangan ini tersiar kabar burung di kantor mengenai pernikahan Marvel, tapi sampai saat ini tidak yang tahu seperti apa wanita yang dinikahi Marvel, sebab Marvel tidak pernah membenarkan kabar itu, dia juga tidak pernah membawa wanita manapun di depan umum. Hal ini membuat banyak orang semakin bertanya-tanya. Bagaimana Marvel bisa memberikan cicit padahal dia belum menikah?


"Tunggulah sebentar, nanti aku hubungi lagi."


Panggilan itu ia putus secara sepihak, permintaan nenek barusan membuat kepala Marvel bertambah pusing saja. Harus dari mana ia mulai mewujudkan permintaan nenek itu? Bukan ia tidak tahu cara membuatnya, ayolah ...satu tahun lagi ia genap kepala tiga, ia juga yakin cukup satu kali tanam saja benih suburnya pasti langsung tumbuh. Tapi masalahnya yang punya lahan mau ditanami, tidak? Marvel tidak yakin Celine menyetujuinya nanti. Akh, Celine lagi!


Sedari tadi ia tidak fokus memimpin rapat. Raganya ada di ruangan ini, tapi jiwanya ada di tempat lain, terbayang wajah judes istrinya itu. Rasa manis yang ditinggalkan bibir Celine masih terasa. Jujur, ingin sekali ia mengurung Celine di dalm kamar lalu mengajak wanita itu bergelud di atas ranjang sepanjang malam. Dengan begitu lahirlah anak mereka nanti.


Marvel menggeleng keras, mengusir khayalan yang semakin menambah sakit kepala atas dan kepala bawahnya. Urusan Elma dan Daisy saja belum selesai, tapi kini nenek menambahnya. Akhirnya sebelum semua menjadi semakin kacau Marvel meninggalkan ruang rapat, ia menyerahkan semuanya kepada Harry.


"Apa yang mau kau sampaikan? Jangan buang waktuku!" ucap Marvel ketika sudah berada di ruang kerjanya.


Seorang pengawal yang baru selesai mengintrogasi Elma memberikan alat perekam suara kepada Marvel.


"Tuan bisa mendengarnya secara langsung," ucapnya setelah mengaktifkan alat itu, suara tangisan Elma yang direkam beberapa saat lalu mulai terdengar.


Wajah Marvel merah padam, tangannya mengepal erat, apa yang baru ia dengar membangkitkan amarahnya lagi. Marvel menggebrak meja.


Brak!!!


"Jadi Elma yang sudah menjebak Celine di dalam lift waktu itu? Keterlaluan, dia tega mengancam nyawa Celine hanya karena tidak mau menjadi iparnya. Aku tidak akan pernah mengampuninya,"


"Kau pastikan Elma tidak melarikan diri, jangan hubungi aku sebelum dia menyesali perbuatannya. Sepertinya apa yang sudah aku berikan selama ini kepadanya membuat dia besar kepala."


Pengawal itu sedikit membungkukkan pungung dan bicara, "Baik,Tuan. Akan saya lakukan apa yang Tuan perintahkan." Kemudian ia pamit undur diri, tapi pintu ruangan Marvel terayun dari luar sebelum ia membukanya.


Pria berkemeja biru sudah berdiri tegak di ambang pintu, matanya menyalang merah melihat Marvel. Rahang kokoh di wajahnya mengeras menahan emosi yang sudah lama ia tahan untuk Marvel.

__ADS_1


"Kau? Beraninya kau datang ke sini," Marvel berdecih, ia memberikan isyarat kepada pengawal agar meninggalkan tamunya di sini. "Mengantar nyawa."


"Justru aku datang kesini untuk mengambil nyawamu, pecundang!" teriak Natan, ia langkahkan kakinya mendekati meja kerja Marvel. "Apa maksudmu menikahi kekasihku?"


Marvel mengernyit bingung. "Sejak kapan ISTRIKU menjadi kekasihmu?" Marvel masih bersandar, tapi tangannya sudah terkepal di bawah meja, ntah lah hatinya panas mendengar ocehan Natan.


Brak!!


Natan memukul tepi meja Marvel, kemudian mengarahkan jari telunjuk di wajah Marvel. "Celine bukan istrimu! Kau menikahinya pasti hanya karena ingin membalasku saja 'kan? Kau tidak pantas mendapatkan cintanya. Celine hanya mencintai aku, jadi lepaskan dia!" ucap Natan berapi-api.


"Tutup mulutmu lalu pergilah sebelum aku menghabisimu di sini! Aku tidak ada urusan denganmu begitu juga dengan istriku, jadi aku sarankan jangan terlalu banyak bicara." Marvel masih bisa mengontrol diri, ia tidak mau membuang tenaga menghajar Natan lagi.


Natan semakin marah, ia memasuki area meja kerja Marvel kemudian menarik kerah jasnya.


"Dasar tidak tahu malu, apa kau tidak puas sudah merebut dan menyakiti hati Jeny?Apa kau akan menjadikan Celine korban lagi? Lepaskan Celine, jika tidak aku sendiri yang mengambilnya darimu!"


"Jangan bawa-bawa nama Jeny! Dan kau harus tau kalau aku tidak pernah menyakitinya!" teriak Marvel sambil mendorong Natan, ia berdiri kemudian meraih kerah kemejanya. "Dan jangan dekati Celine."


"Sialan!"


Bugh!!!


Satu pukulan mendarat di rahang Natan sampai membuat pria itu terpojok di dinding.


"Kenapa kau marah? Memang itulah kenyataannya, bahkan Celine datang ke sini hanya untuk menemui aku, tapi kau malah mengacaukan semuanya!" Natan mengusap rahangnya, ia tidak berniat membalas pukulan Marvel sebab lebih mudah baginya menghancurkan mental Marvel saat ini.


"Keluar, sebelum aku benar-benar menghabisimu!" Marvel membuka jaznya lalu ia hempas ke sembarangan arah. "Aku tidak mau dengar apapun tentangmu dan istriku! Jadi, jangan coba-coba memancingku lagi." Marvel menghembuskan nafas kasar, ia tatap wajah Natan dengan penuh ancaman.


"Aku tidak akan berhenti sebelum Celine kembali padaku," jawab Natan tanpa merasa takut sedikitpun.

__ADS_1


Marvel melonggarkan dasi yang dirasa mencekik leher, sungguh ia sudah tidak bisa mengontrol diri. Marvel mendekat lalu melayangkan tangan hendak memukul Natan lagi, tapi....


"Jangan, Tuan!" seru Harry tiba-tiba, ia terkejut melihat pertengkaran Marvel dan Natan. Harry bergegas menghalangi Marvel yang saat itu tangannya hampir mengenai wajah Natan.


"Kau kemana saja, huh? Kenapa kau biarkan sampah ini masuk ke kantorku?" Suara Marvel menggema di ruangan itu, tapi Natan tidak sedikitpun merasa takut. "Bawa dia pergi dari sini!"


"Aku bukan sampah dan aku bisa pergi sendiri! Tapi, kau harus ingat kalau aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan Celine lagi!" ancam Natan sebelum akhirnya ia pergi dari sana.


.


.


.


.


.


Pikiran dan perasaan Marvel masih belum membaik, perkataan Natan tadi masih terngiang di telinga, membakar hati yang masih membara, tentu ia tahu apa arti berkencan yang diucapkan Natan.


'Apakah mereka menghabiskan waktu berdua sepanjang malam?'


'Apa yang sudah mereka lakukan?'


Dan masih banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam benaknya, hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam barulah ia bergegas pulang ke rumah.


Ketila membuka kamar, lampu redup menandakan penghuninya sudah larut dalam mimpi. Hanya lampu tidur yang masih mengisi cahayanya di ruangan itu. Marvel melangkah gontai ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai, barulah ia mendekati tempat tidur.


Cukup lama Marvel memerhatikan Celine, awalnya ia marah mengingat Natan sudah mengencani wanita ini sepanjang malam, tapi ntah mengapa saat melihat wajah teduh Celine membuat amarahnya menghilang begitu saja.

__ADS_1


Hingga akhirnya secara perlahan ia naik ke tempat tidur kemudian merengkuh tubuh Celine yang masih terlelap ke dalam pelukannya.


__ADS_2