
70
Beberapa meja bundar dilapisi kain warna putih lengkap dengan kursi dan hiasan bunga di atas meja tertata rapi di dalam gedung hotel yang akan menjadi tempat pesta pernikahan. Para tamu sudah mulai berdatangan memenuhi undangan tuan rumah yang tampak ramah menyambut mereka secara langsung. Bahkan, jika diperhatikan pria yang memakai tuxedo warna hitam itu terlihat lebih ceria, senyum yang selama ini jarang terlihat di wajahnya, malam ini merekah sempurna. Hanya saja pria itu terlalu sering melihat alroji di pergelangan tangannya.
"Sudah jam berapa ini? Kenapa istriku belum datang juga?" Sedari tadi mata Marvel selalu menyorot pintu utama berharap Celine segera hadir di sana, tapi sudah dua jam menunggu Celine belum muncul juga.
"Nyonya Cloe baru menginformasikan kalau mereka sudah dalam perjalanan. Tuan tenang saja, aku yakin semua akan berjalan seperti yang sudah kita rencanakan dari jauh hari."
"Enak saja, ini rencanaku, bukan rencanamu!"
Harry mengalah dan bicara, "Iya, Tuan ... apapun itu malam ini milikmu."
Di saat yang bersamaan beberapa orang di sekitar Marvel saling berbisik melihat ke arah pintu. Marvel yang biasa tidak penasaran mengenai urusan orang lain, malam itu justru sangat tertarik ingin mengetahui apa yang dibicarakan di sana, hingga matanya berhasil menemui wanita yang sudah lama ditunggu. Marvrel terpaku melihat istrinya yang juga sudah melihat kehadirannya.
Celine ... istrinya terlihat sangat cantik.
"Bibik, sebenarnya kita mau ke mana?"
Sepanjang perjalanan, Celine tidak bisa berhenti bertanya, takut Cleo punya niat jahat padanya, sedari tadi, Cloe tidak mau menjawab ke mana mereka akan pergi, matanya ditutup kain warna hitam persis menyerupai dasi, bahkan saat sudah turun dari mobil pun, Cloe memilih menggandengnya daripada melepas penutup matanya, sebenarnya kemana Cloe membawanya?
Celine merasa saat ini berada di antara keramaian, seperti sebuah gedung yang sangat luas dan sesak dipenuhi banyak orang. Ntahlah, Celine semakin penasaran.
"Kita sudah sampai." Cloe berucap sambil membuka ikatan penutup mata Celine. "Pelan-pelan buka matamu."
Kelopak mata Celine tidak bisa langsung terbuka, cahaya lampu seperti terarah kepadanya. Namun, perlahan dan pasti mata indah itu mulai terbuka. Betapa terkejutnya Celine saat melihat banyak orang di sekelilingnya, hingga matanya menjumpai Marvel berdiri tidak jauh darinya. Suaminya itu terlihat lebih tampan dari biasanya.
"Bibik ... apa ini?" Melihat kehadiran ayah, ibu dan nenek membuat matanya mulai berkaca -kaca.
Cloe hanya tersenyum kemudian bergabung dengan ibu dan besannya. Meskipun saat ini ia masih bersedih, tapi setidaknya acara resepsi pernikahan Marvel dan Celine bisa sedikit mengiburnya, barulah setelah ini ia akan menyusul Elma, kemungkinan akan ikut mengurus domba-domba yang ada di sana.
Sementara Marvel sudah melangkahkan kakinya mendekati Celine, menjemput istrinya dengan memegang buket bunga baby breath yang melambangkan cinta sejati, ketulusan dan kemurnian hati sengaja diberikan Marvel untuk Celine.
"Bunga yang cantik untuk istriku dan calon anak kita." Marvel berucap sambil setengah membungkukkan badan di hadapan Celine. "Terimalah tanda cintaku ini."
Celine tersenyum dan berucap, "Sejak kapan kau pandai membual seperti ini?" Ia meraih bunga pemberian Marvel.
__ADS_1
"Ini tulus dari hatiku." Marvel meraih satu tangan Celine lalu ia letakkan di lengannya, membiarkan satu tangan Celine yang lain memegang buket bunga. "Aku akan memperkenalkanmu pada mereka. Agar, mereka tahu kalau wanita cantik ini adalah istriku."
"Jadi, kesibukan suamiku ini karena menyiapkan pesta ini?"
"He'em ... semua tidak sia-sia, bukan? Kau menyukai kejutanku ini, kan?"
"Entahlah, aku tidak tahu." Celine bergidik bahu.
Ucapan Celine menghentikan langkah Marvel, meraih kedua bahu Celine lalu menghadapkan padanya, sementara sinar lampu dan kamera dari para awak media masih setia menyoroti mereka.
"Apa maksudmu tidak tahu? Kau tidak menyukai kejutanku?" Marvel takut mengecewakan Celine.
Celine tersenyum, ntahlah sejak hamil ia sangat suka menggoda Marvel.
"Aku ... menyukai semua yang ada di dirimu."
Marvel bernafas lega, tapi ia tidak bisa lagi menahan diri. Hingga akhirnya ia meraih dagu Celine dan menyatukan bibir mereka.
Para tamu dan wartawan yang ada di sana bersorak gembira, mereka seperti ikut merasakan kebahaagiaan yang dirasakan Marvel dan Celine. Malam ini untuk yang pertama kali, Marvel memperkenalkan Celine sebagai istrinya.
2 Tahun kemudian.
Anak laki-laki berusia 10 tahun tampak menggendong seorang anak perempuan berumur 1 tahun lebih. Itu Ethan ... ia menggendong Selena dengan hati-hati dan penuh kasih sayang. Meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah seperti kebanyakan saudara kandung pada umumnya, tapi Ethan sangat menyayangi Selena sama seperti kedua orang tua Selena menyayanginya selama ini. Ya ... Selena adalah anak yang dilahirkan Celine sekitar satu tahun yang lalu.
"Momy ... Selena ingin memberikan bunga ini untuk nenek." Ethan menuntun Celena untuk meletakkan bunga mawar putih di atas makam nenek. Hari ini tepat tiga bulan nenek meninggalkan mereka untuk selamanya.
"Come here, girl." Marvel meraih tangan putri kecilnya, ia jongkok di belakang Selena yang memunggunginya.
"Kalau kau besar nanti, kau harus sering mengunjungi makam nenekmu ini. Karena nenekmu ini lah orang tuamu bisa bersatu dan kau pun lahir ke dunia. Kau tau ... nenekmu sangat menyayangimu, kehadiranmu sudah lama dinantikannya. Jadi, kita harus selalu mengenang kebaikan dan kasih sayang nenek, kau mengerti my little Celine?"
"Da...da...da...ta...ta...ta...ta...befrrrr!" Ocehan Selena mengundang tawa kedua orang tua dan kakaknya.
"Hem, baiklah ... kau sudah lapar, rupanya." Marvel menggendong Selena. "Ucapkan selamat tinggal untuk nenek."
"Da...da...da...da...!" Selena memainkan tangannya seolah mengucapkan 'Dadah ... kapan-kapan kami datang ke sini lagi.'
__ADS_1
"Anak pintar." Celine mencium pipi Selena. "Kita pulang," ajaknya sambil merangkul Ethan.
Mereka meninggalkan pemakaman, Ethan diam-diam menghapus air matanya, ia sangat bersyukur bisa berada di keluarga ini. Bahkan, setelah kehadiran Selena, kasih sayang Marvel dan Celine tidak berubah. Orang tua angkatnya itu tidak pernah sekalipun membedakan kasih sayang mereka.
"Momy ... biarkan Selena duduk denganku di sini." Ethan mengulurkan tangan untuk mengambil Selena dari Momy Celine.
"No ... Selena bisa menyusahkanmu, biar Momy saja yang memangkunya."
"Uwaaaa... dedrde berrrffffff!!!"
Sepertinya Selena tidak setuju.
"Biarkan Ethan yang memangkunya di bangku belakang, sayang. Aku akan menyetir dengan hati-hati, jadi Selena tidak akan jatuh."
Marvel mulai menghidupkan mesin mobil.
"Baiklah, tapi kau harus menjaganya dengan baik, ya ... kalau kau lelah menjaganya, kau bisa kembalikan pada Momy."
"Aku janji, Mom ... aku akan menjaga Selena kita dengan baik." Kini, Selena sudah berada di pangkuannya, manik mata berwarna biru Selena mentap Ethan, lihatlah betapa cantiknya adiknya ini. Ethan betah memandangnya.
'Aku janji akan menjaga Selena, Mom ... seumur hidupku.' Ethan membatin, ia akan menjaga adiknya itu semampu yang ia bisa, bahkan untuk seumur hidupnya!
❤TAMAT💓
Biarkan mereka bahagia dengan cara mereka sendiri.
Ethan ... jangan nakal, ya. Jangan sampai jatuh cinta sama anak gadisnya Dady Marvel dan Momy Celine🤣
Etan "But, Selena has stolen my herat"💓
🤫 "Ngomongnya jangan keras-keras, nanti didengar Momy dan Dady."
Ethan. "I don't even care, I'm in love with her, my Selena."
😌 "Dih, ini anak merengkel juga, emang mau nerima resiko beserta kemungkinan gak direstui Daddy dan Momy?"
__ADS_1
Ethan.".................."