
59
Disaat yang bersamaan orang tua Jeny datang menemui anaknya. Celine dan Marvel memberi ruang untuk keluarga Jeny. Mereka memilih duduk di bangku panjang tepat di depan ruangan.
"Aku butuh waktu untuk menerima semua keadaan ini, Marvel ... biarkan aku sendiri." Celine melepaskan genggaman tangan Marvel, rasanya ia masih belum bisa memaafkan ketidak jujuran Marvel padanya.
"Kau masih marah padaku? Bukankah semuanya sudah jelas?"
"Marvel tolonglah, untuk saat ini aku tidak mau berdebat denganmu." Celine pindah tempat duduk, ia menciptakan jarak diantara mereka, tapi Marvel tidak perduli, pria itu duduk di samping Celine lagi dan meletakkan kepalanya di bahu Celine.
"Marvel, jangan seperti anak kacil."
"Hemm...." Marvel memindahkan kepalanya di paha Celine. "Biarkan seperti ini sebentar saja."
Celine menghembuskan nafas panjang, kalau bukan karena ingin memantau kondisi Jeje, ia tidak akan membiarkan Marvel tertidur di pangkuannya.
.
.
.
Ozan masih berusaha meyakinkan Jeje agar mau menikah dengannya, ia bahkan mengutarakan niatnya kepada kedua orang tua Jeje, tapi wanita itu masih tidak mau menerima pinangannya.
"Ozan ... jangan buat rasa bersalahku lebih dalam lagi, kalau kau seperti ini aku tidak bisa pergi dengan tenang."
Jeje merasa sesak, pandangannya pun semakin buram, Ozan masih tidak mau melepaskan tangannya.
"Mom ... Dad, terimakasih sudah besarkan aku dengan limpahan kasih sayang yang terhingga, aku sangat menyayangi kalian... berjanjilah setelah ini kalian tidak boleh menangis, lepaskan kepergianku dengan senyuman, bukan dengan air mata."
Hati orang tua mana yang tidak hancur melihat anak tercinta tidak berdaya seperti ini? Bahkan sedari tadi putrinya itu bicara tentang perpisahan.
__ADS_1
"Tidak akan ada yang pergi kemanapun, Sayang. Kita sama-sama pulang ke rumah kita, ya." Mama Jeny mengelus rambut putrinya, ia di dampingi suami yang sedari tadi mendekapnya dengan linangan air mata. Jika boleh meminta, ingin rasanya mereka bertukar posisi dengan putri mereka.
"Tapi, rumah kita berbeda, mom...." Sesak kian terasa di dadanya.
"Kalau gitu, ajak aku bersamamu, Je ... aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu." Ozan duduk di tepian tempat tidur pasien. "Menikah denganku," pintanya penuh dengan permohonan. "Aku sangat mencintaimu."
"Tapi, terkadang cinta tidak harus memiliki, Ozan ...." Jeje terisak. "Aku masih mencintai Marvel, di-dia akan menjadi cinta terakhirku. Meskipun aku tidak bisa bersamanya, tapi aku bahagia melihat dia bahagia."
"Kalau gitu izinkan aku memilikimu. Kali ini aja, Je. Beri aku kesempatan." Ozan menggenggam tangan Jeje di dadanya, ia tatap wajah pucat yang juga menatapnya.
"Tapi, aku rasa waktuku sudah tidak banyak lagi, maafkan aku, Ozan...." Ozan menggeleng lemah. "Berjanjilah kau akan membuka hatimu untuk wanita lain, aku yakin kau akan temui wanita yang lebih baik dariku."
"Tidak aku hanya menginginkanmu, hanya kau yang aku cintai. Jenyka ... aku mencintaimu," bisik Ozan lirih.
Jeje tersenyum. "Aku beruntung memiliki cintamu, tapi aku tidak bisa bersamamu. Berjanjilah untuk bahagia."
"Sudah aku bilang, kaulah kebahagiaanku." Ozan tidak mau melepaskan pelukannya.
"Aku tidak bisa ... aku tidak bisa mencintai wanita lain selain dirimu, Je...."
"Kau pasti bisa, Ozan... berjanjilah padaku, hem?"
Ozan melepaskan pelukannya, ia tatap wajah Jeny. "Aku tidak mau berjanji."
"Jangan sampai aku datang menghantuimu, nanti." Rasanya ia tidak sanggup lagi menahan sesak. "Jangan menangis, Pak Dokter tampanku."
Ozan tersenyum. "Kau pasienku yang paling menyebalkan." Mengecup kening Jeje. "Aku mencintaimu...."
Jeny sekilas memejamkan mata. "Apa aku harus membalasnya?"
"Yah, sekali saja. Aku ingin mendengarnya."
__ADS_1
"Apa nanti kau akan buka hatimu untuk wanita lain?"
"Aku tidak yakin untuk itu." Ozan membuang muka.
Jeje tersenyum.
"Mom, katakan padanya untuk tidak menangisi kepergianku, nanti. Suruh dia membuka hatinya untuk wanita lain, dengan begitu aku bisa pergi dan beristrahat dengan tenang."
"Kau tidak akan pergi kemanapun," ucap Ozan.
"Berjanjilah, buka hatimu untuk wanita lain."
Ozan menggelengkan kepala.
"Ozan...."
Ozan menggelengkan kepala.
"Ozan ... aku ... mohon."
Ozan masih bungkam.
"Oz-za...an." Jenyka sudah tidak mampu bicara.
"Je...jangan tutup matamu." Ozan merengkuh wajah Jenyka menghujaninya dengan ciuman.
"Ber-berjan ... jilah."
Ozan terpaksa mengangguk. "Aku berjanji," ucapnya lirih dengan linangan air mata. "Katakan kau mencintaiku, sekali saja."
"Ozan ...
__ADS_1
Tiiiitttttttttttttttttt