Mantan Tapi Menikah

Mantan Tapi Menikah
MTM48- Saling Menatap


__ADS_3

48


Baru satu malam menginap di London, tapi Marvel sudah menggempur Celine habis-habisan. Mereka tidak melakukan aktifitas apapun di luar kamar. Hari itu, jam itu, waktu itu hanya diisi di dalam kamar pribadi mereka. Marvel sangat ingin membuktikan kalau ia pria perkasa dan tidak sabar melihat perut Celine membuncit karena ulah dan keperkasaannya.


"Apa Tuan tidak mau memeriksa berkas dan melihat foto pemilik J Kosmetik?"


Kamar yang memang tidak kedap suara membuat Marvel bisa mendengar teriakkan Harry dari luar. Dari awal Harry yang terus meyakinkannya untuk menerima tawaran kerja sama ini.


"Tidak perlu, aku percaya padamu!" Ia menjawab sambil mencium bahu polos Celine yang masih terlelap di sampingnya.


"Tuan tidak lupa 'kan kalau hari ini kita ada pertemuan dengan ...."


"Harry pergilah! Kenapa kau datang sepagi ini? Mengganggu saja!"


Teriakkan Marvel bukan hanya berhasil mengusir Harry, tapi juga berhasil membangunkan istrinya.


"Kenapa teriak di telingaku?" tanya Celine dengan suara parau khas orang bangun tidur.


"Maaf, Sayang ... aku tidak bermaksud membangunkanmu." Marvel mengelus punggung Celine yang hanya dilapisi selimut. "Tidurlah lagi kau pasti kelelahan, maafkan suamimu ini, ya."


"Jangan minta maaf, nanti kau ulangi, lagi." Badannya terasa remuk redam sekarang.


Marvel tersenyum dan memeluk Celine. "Mau bagaimana lagi? Aku kan sedang menebar benih unggulku, memangnya kau tidak mau punya anak?"


Pertanyaan Marvel membuat Celine berbalik badan. Mereka saling beradu pandang.


"Kau sangat ingin punya anak dariku, ya?"


"Tentu."


"Kalau gitu aku akan lahirkan dua anak yang lucu-lucu untukmu." Mengangkat dua jarinya. "Auh...," keluhnya saat Marvel menggigit ujung jarinya.


"Kenapa dua anak saja, Sayang ... rumah kita masih cukup luas untuk ditempati banyak orang, aku mau suara tawa anak-anak memenuhi setiap sudut rumah kita."

__ADS_1


"Memangnya mau punya anak berapa?" Mencubit dada Marvel. " Jangan bilang kau mau membentuk tim sepak bola."


Marvel tergelak. "Kalau bisa kenapa tidak?" Ia mendapat pukulan di lengannya. "Bercanda, Sayang ... berapa pun anak yang dikasih Tuhan nanti, aku terima dengan senang hati. Ayo, kita usahakan lagi...."


"Kau!!!" pekiknya mengancam, matanya membola sempurna. "Mau buat aku tidak bisa jalan, huh?"


"Hahahaha tidak ... aku ngetes saja, ternyata istriku ini masih cerewet. Sini, peluk saja." Keduanya nyaris tanpa jarak, mengelus rambut Celine. "Mana kejutannya?"


"Sudah tidak sabar, ya?" Celine menggoda, sama halnya dengan dirinya tidak sabar memberi kejutan untuk Marvel dan Jeje, bahkan demi kejutan itu juga sampai sekarang Jeje belum tahu kalau dirinya sudah di London.


"Aku bahkan hampir tidak bisa tidur memikirkan itu."


"Jelas tak bisa tidurlah...." Menunjuk beberapa bercak merah hasil kerja malam Marvel.


"Hahahaha kau ini menggaskan sekali." Akhir-akhir ini ia sering tertawa lepas bila berada di dekat Celine.


Obrolan pagi itu benar-benar berlanjut sampai matahari menampakkan dirinya, ntah mengapa Marvel tidak mau jauh dari Celine barang kali sedikit saja.


"Tidak akan lengkap jika kau tidak ada di sampingku." Melingkarkan tangan di pinggang Celine. "Ikutlah denganku, kita makan siang bersama klient baruku."


"Tidak bisa ... aku harus menyiapkan kejutan untukmu 'kan?" Celine terkekeh, ia senang melihat Marvel penasaran.


"Istriku ini penuh teka-teki, tunggu saja kejutan dariku, nanti...," candanya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagi Marvel, ini pertama kali baginya menunggu klient, biasanya dia yang ditunggu orang.


"Kau tidak jelas, Harry ... mana klient yang kau banggakan itu?"


"Sebentar, Tuan ... kita juga baru datang," jawab Harry tanpa merasa bersalah.


"Sebentar katamu? Sudah lima menit aku duduk di sini!" keluh Marvel lagi.


Harry mendesahkan nafas, sengaja diam, sebab tidak mau memancing si pemarah ini.


"Daripada bicara denganmu, lebih baik aku bicara dengan istriku!" Benda pipih itu mulai terhubung dengan Celine, suara istrinya mampu meredam amarahnya. Apapun yang dikatakan Celine selalu bisa menarik sudut bibirnya. Bahkan, sesekali ia juga tertawa lepas.


Deg!!!


Benda pipih yang masih terhubung dengan Celine jatuh begitu saja.


Perlahan dan pasti tawanya memudar saat matanya tidak sengaja menangkap sosok wanita bergaun putih tengah melihatnya, ia bahkan harus berulang kali mengedipkan mata guna memastikan jika ia tidak salah lihat.


Wanita yang pernah ia cintai dengan sepenuh hati ada di depan mata.


Wanita yang berhasil membuat ia menutup mata hatinya untuk wanita lain ada di depan mata.


Wanita yang pernah membuat ia tertawa bahagia ada di depan mata.


Wanita yang dulu hilang, pergi ntah kemana, kini sudah ada di depan mata.


Wanita yang sudah membuat ia merasakan rindu setengah mati, kini sudah hadir di depan mata.


Wanita yang membuat ia pernah mengabaikan Celine, kini berdiri tidak jauh darinya.


Jeny ... terlihat baik-baik saja dan masih secantik dulu.


Seketika suasana di Restoran terasa hening dan sunyi. Ntah kemana perginya orang-orang yang ada di sekitarnya tadi. Marvel tidak bisa melihat orang lain selain Jeny. Ya ... mereka saling menatap dalam tanpa bicara.

__ADS_1


__ADS_2