
47
London memasuki musim semi, hampir semua jenis tanaman tengah bersiap melebarkan kelopak bunga indah dan dedaunan yang membuat siapapun senang melihatnya. Biasanya, di musim semi seperti ini para penduduk sekitar suka menghabiskan waktu mereka di taman memandang hamparan bunga dan menuliskan harapan baru untuk musim semi yang akan datang.
Cinta bersemi di musim semi, harapan itu yang dimiliki Jeje saat ini. Gaun panjang warna putih sebatas betis ia pilih untuk melengkapi penampilannya, rambut gelombang yang menggantung sebatas pinggang menambah keanggunannya, ada juga anting berlian tampak mengkilau di daun telinganya. Sungguh, siapapun akan terpesona melihatnya.
Terutama seorang pria yang sedang bersandar di badan mobil, di jam makan siang seperti ini ia datang untuk menjemput Jeje, bukan untuk makan siang bersama melainkan hanya untuk mengantar Jeje ke restoran.
Lesung pipinya terlihat saat tersenyum melihat Jeje sudah berjalan kearahnya, wanita itu sangat cantik dan memesona dirinya. Sayangnya ... kecantikan Jeje bukan untuk dirinya. Ozan sadar diri bahwa dirinya hanya lelaki cadangan untuk Jeje, tak apa ... apapun akan ia lakukan demi kebagagiaan Jeje.
"Bagaimana menurutmu? Aku cantikkan?" Ia selipkan rambut halus ke belakang telinga, bibir yang dipoles warna peach itu tersenyum lebar.
"Beautiful in white ... kau sangat cantik."
"Hem, dulu Marvel sangat suka kalau aku pakai gaun warna putih seperti ini."
Ozan menganguk tanpa menjawab, membuka pintu mobil untuk Jeje.
"Masuklah ...."
.
.
.
__ADS_1
.
Keheningan menemani perjalanan mereka ke restoran. Tidak ada yang memulai percakapan. Ozan dan Jeje larut ke dalam pikiran masing-masing. Sesekali mata Ozan melirik Jeje yang terlihat gelisah di sampingnya, mata wanita itu menatap ke luar jendela sedangkan tangannya saling meremat dan bergetar menandakan Jeje mulai dilanda panik.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, sampailah mobil mereka di halaman restoran ternama di kote itu. Jeje merapikan penampilannya sebelum turun dari mobil.
"Ozan, aku tidak terlihat seperti orang sakit 'kan? Hidungku tidak berdarah 'kan?" Keringat dingin terasa memenuhi dahi dan telapak tangannya.
"Tenang, Je ... kau tidak perlu khawatir. Semua pasti berjalan seperti yang kau inginkan." Ingin sekali ia melarang Jeje menemui pria lain, tapi sayangnya ia tidak berhak melakukan itu.
"Aku harap begitu ... Marvel tidak boleh tahu kalau aku sakit. Aku tidak mau Marvel memaafkan dan menerimaku karena kasihan padaku, hanya kau yang boleh tahu tentang kondisiku saat ini."
Ozan menghela nafas berat, bahkan sampai sekarang Jeje belum tahu kalau ia sudah memberitahukan Celine perilal penyakit yang diderita Jeje. Ya, hari itu ia menghapus semua riwayat panggilan termasuk foto yang ia kirimkan kepada Celine, tapi obrolannya dengan Celine waktu itu menyisahkan tanda tanya di dalam benaknya.
"Aku harap aku tidak terlambat datang, jika tidak Marvel pasti marah, dia 'kan paling tidak suka menunggu."
"Kau tidak mau temani aku di dalam?"
Sangat ingin, tapi Ozan tidak mau jadi obat nyamuk di sana.
Ozan melirik jam di pergelangan tangannya. "Lain kali saja, ya ... aku harus kembali ke rumah sakit," ujar pria tersebut kemudian berlalu dari sana.
.
.
__ADS_1
.
.
Setelah mobil Ozan benar-benar menghilang, barulah Jeje bergegas masuk ke dalam restoran.
"Tuan Harry sudah menunggu Nona di meja no 18. Mari saya antar, nona," tawar seorang pelayan restoran dengan ramah.
"Ti-tidak terima kasih, biar aku sendiri saja." Jantungnya terasa berdetak semakin kencang, aliran darah mengalir lebih deras dari biasanya, kedua kaki yang sudah melangkah menuju meja no 18 gemetaran tanpa dibuat-buat.
Deg!!!
Jantungnya berdetak lebih cepat saat melihat seorang pria berkemeja hitam duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Pria itu terlihat semakin tampan dari terakhir kali mereka bertemu, tubuhnya lebih tegap, gagah dan berisi, senyumnya menawan dan memesona dirinya untuk yang kesekian kali.
Tanpa sadar, Jeje tersenyum saat melihat pria itu tertawa, ia bahkan lupa kapan terakhir kali melihat pria itu tertawa. Tapi, senyumannya menghilang saat menyadari bukan dirinya yang membuat pria itu tertawa, melainkan orang lain. Ya ... pria itu tampak bicara dan sesekali tertawa kepada orang yang ada di balik benda pipihnya. Tapi, tak apa setidaknya saat ini ia tahu kalau pria itu baik-baik saja.
Marvel ada disini.
Marvel ada di depan mata.
Ia sudah semakin dekat untuk menggapai prianya lagi.
Tes!
__ADS_1
Bulir bening menetes di pipi saat mata pria itu tiba-tiba terarah padanya.