
Za membayangkan mereka akan menginap di sebuah villa dengan beberapa kamar dan kolam renang , sehingga mungkin saja kemungkinan untuk tidak sekamar dengan ex boyfriend nya alias suaminya bisa terwujud . Tapi Benny tidak membawanya ke villa , setelah perjalanan panjang ( menurut Za) dari bandara , dan sekarang mereka dihadapkan pada sebuah kamar suite honeymoon .
Kamar yang mungkin seluas 3x kamar tidurnya itu , bernuansa warna krem dan merah dengan pencahayaan berwarna keemasan membuat suasananya terlihat sangat romantis . Tapi keeleganan dan kemewahan di kamar itu tidak sesuai dengan suasana hati Za , dia justru merasa terpenjara dalam kamar suite yang disewa suaminya itu .
Za menghembuskan nafasnya dalam-dalam , berusaha menetralkan suasana hatinya , tapi semuanya sia sia , kamar mewah dengan Benny didalamnya adalah sesuatu yang tidak ia inginkan . Kejadian di masa lalu antara dia dan Benny masih terekam jelas di kepalanya , dan tentu saja hatinya masih sakit karena itu .
" Bagaimana , suka kamarnya ..." Benny mendekati istrinya dan merangkul bahu Za begitu dua petugas Bell Boy telah meninggalkan mereka berdua .
Tapi Za menepis rangkulan tangan Benny dengan sedikit menggeser tubuhnya kesamping , jelas sekali Benny kecewa , tapi Za pura pura tidak memperhatikan .
" Umm... aku tidur dimana ??" Bukannya menjawab Za malah melemparkan pertanyaan lain pada Benny .
Benny tersenyum tidak percaya ," pertanyaan macam apa , itu sayang ? Kau bisa melihat ranjang besar itu dengan jelas kan , kita akan tidur disana .."
" Kita? Maksudku .... aku tidak bisa ..."
" Apa maksudmu tidak bisa ?!" Benny buru buru memotong perkataan Za yang terbatas bata .
Za menghela nafas dalam lagi , " Ben...maaf , aku belum bisa , ini sulit bagiku ....kau dan aku...dulu...kau tahu kau pernah menyakitiku dulu ..." Za menggigit bibir bawahnya , kenapa kata katanya begitu susah terucap .
Benny menatap mata istrinya , dia laki laki dan seorang suami , bagaimana mungkin seorang istri menolak untuk tidur sekamar dengan suaminya , itu adalah suatu penghinaan , bagaimana pun juga dia sudah meminta maaf pada Za dan pada seluruh keluarga besar istrinya , kenapa wanita ini sekarang masih mempermasalahkan kisah masa lalu mereka .
" Tunggu , apa maksudmu ... dengan belum bisa dan dulu aku yang pernah menyakitimu ..." Za tidak berani menatap langsung ke wajah suaminya , dia yakin mungkin Benny sudah berapi api marah karena pernyataannya .
" Aku , belum bisa sekamar dengan mu sekarang ..."
**"****"*
__ADS_1
Sudah dua hari sejak keputusan bodohnya menolak Benny di kamar mereka , kamar itu sangat luas untuk tinggali sendiri oleh Za . Sejujurnya Za sangat kesepian di kamar seluas itu sendirian , ya sendirian . Keputusan bodohnya itu telah menyebabkan Benny pergi entah kemana , meninggalkannya sendirian di kamar seluas 3x kamarnya dan di kota orang sendirian .
Za memutuskan keluar kamar dan menyusuri jalanan di sekitar hotel tempat dia menginap , Za sudah jenuh dengan suasana kamarnya , ditambah lagi Benny yang sudah dua hari ini tidak muncul . Hati Za sedikit gundah , sebenarnya sedang dimana pria itu , apakah ia baik baik saja .
Za buru buru menepis rasa kekhawatiran nya , bila mengingat perlakuan Benny beberapa tahun lalu , masih sangat terasa jelas sakitnya .
Sebuah kedai kopi yang cukup ramai , di depan sana , Za memutuskan untuk masuk kedalamnya , mungkin minum segelas kopi dan muffin bisa mempengaruhi mood nya .
Suara lonceng di pintu langsung berdenting begitu Za mendorong pintu masuk kedalamnya , setengah penghuni coffee shop menoleh mendapati kehadirannya . Za berusaha mengabaikan tatapan mereka dengan melihat sekeliling mencari meja yang kosong , tapi bukan meja kosong yang ia dapatkan , tak jauh dari meja barista , Benny duduk santai dengan seorang wanita tampak sekali wanita itu duduk menempel kearah suaminya . Bahkan tangan wanita itu berada diatas tangan Benny saat berupaya memindahkan cursor laptop didepannya .
Langkah kaki Za terhenti , matanya terasa perih dan hatinya serasa diiris tipis-tipis , jadi jelaslah kenapa pria itu tidak nampak selama dua hari . Ada perempuan lain nampaknya , Za tidak menyadari seorang pramusaji berjalan di belakangnya saat Za berbalik mendadak .
Gelas yang dibawa sang pramusaji terpelanting jatuh dan pecah berhamburan di lantai , " maaf .." Za tahu perbuatannya ini tidak baik , membuat kekacauan tapi langsung berlari pergi keluar coffeshop . Hatinya tidak sanggup jika harus berlama-lama di sana , biarlah nanti ia kembali lagi kesitu , meminta maaf dan membayar ganti rugi , tidak untuk saat ini . Za bahkan mengabaikan teriakan sang pramusaji yang mengkhawatirkannya .
" Miss , are you ok ?"
Za menangis tersedu di dalam kamarnya , harusnya ia tidak percaya Benny , harusnya ia menolak perjodohan itu .
Za menangis lagi , semua penyesalannya sia sia . Benny adalah suaminya sekarang , dan dengan brengseknya pria itu menghianatinya lagi , lagi dan lagi .
Belum sempat Za pergi ke kamar nya dan mengurung diri , Benny sudah masuk dan memegangi tangannya erat .
" Sayang , kau tidak apa-apa ? " Za menepis tangan Benny kasar .
" Jangan sentuh aku ! "
" Apa apaan itu sayang , kenapa kau lari saat melihat ku ? Sebenci itukah kau padaku ?"
__ADS_1
Za berbalik dan menatap wajah suaminya , menampilkan mata merah dan berairnya .
" Haruskah aku jawab pertanyaan mu? Harusnya kau sadar , kau itu pria beristri !!"
" Kau tidak perlu mengajariku Za , memangnya siapa yang menolak suaminya sendiri ? " Benny balik menatap wajah istrinya yang sudah basah karena air mata , terenyuh juga sebenarnya hatinya .
" Sudah ku bilang aku belum siap ..."
" Sampai kapan ?!" Potong Benny .
" A_ak_ku tidak tahu ... , "
Benny tersenyum pesimis , " kau bahkan tidak tahu ?! "
" Memangnya aku harus apa ? Sedangkan aku masih sangat ingat dengan jelas kau menyakitiku dulu..." za tersedu sendiri di kedua telapak tangannya .
" Aku sudah minta maaf padamu waktu itu , bahkan didepan keluarga besar mu , dan kau sendiri yang menyetujui pernikahan ini , aku tidak pernah memaksamu " jika dia wanita , mungkin Benny sudah bercucuran air mata sekarang , sungguh dia sangat mencintai wanita ini , tapi apalah daya , jika Za bahkan masih sangat membencinya hingga sekarang .
" Kau tidak mengerti Ben, Pakde ku akan sangat kecewa jika aku menolaknya ... " Benny tercengang mendengar jawaban Za barusan , dia tidak percaya jika Za setuju menikah dengan nya hanya karena terpaksa .
" Oh ya , jadi kau terpaksa menikah dengan ku ? "
Benny mengambil langkah mundur dan berbalik siap membuka pintu ," aku akan membatalkan pernikahan kita jika itu bisa membuat mu bahagia , ketahuilah aku tidak pernah ingin memaksamu ..."
BLAM!!
Pintu tertutup dan Benny menghilang dibaliknya .
__ADS_1