
Za pikir , setelah pernikahan sederhana itu digelar , dia tetap bisa tinggal dengan pakde Purwo atau mungkin di semarang tempat tinggal suaminya . Dia tidak pernah menyangka , malam itu juga Benny langsung mengutarakan sesuatu yg membuat dadanya berdegup kencang .
" Sayang...." tegur Benny halus , pria itu masuk setelah ia bersiap akan mandi .
" I_iya...." Khanza gugup sekali ketika suaminya memanggil, seketika kegiatan nya menghapus makeup jadi terhenti .
" Kamu siap siap ya ,aku mau ajak kamu ke Bali " kata. Benny sambil mengutak-atik hpnya. Bukan nya sok sibuk , sebenarnya dia juga gugup berada satu kamar dengan khanza yang telah sah menjadi istrinya . Cie cie pengantin baru
" B_bali ..??"
aduh jangan jangan dia mau ngajak honeymoon lagi . Oh no gw blm siap ' khanza terus saja ngedumel dalam hati.
" Aku ada urusan bisnis disana , kamu ikut ya , aku udah pesan tiket nya ,malam ini kita berangkat "
Khanza hanya mengangguk , sebenarnya ingin sekali dia menolak . Tapi bagaimana lagi , sekarang dia sudah bergelar sebagai istri Benny , dan sebagai istri Za harus ikut kemana pun suaminya pergi .
*******
Malam itu, seluruh keluarga besar khanza dan Benny berkumpul diteras rumah pakde Purwo , sebagian dari mereka ada yang bersorak dan bersiul begitu pasangan pengantin baru itu keluar beriringan .
" Ini ngurusin bisnis apa mau honeymoon ,qo buru buru banget " ledek mas Dito yang diikuti sorak Sorai dari yang lain. Mendengar itu khanza langsung saja jadi malu , mukanya memerah seperti kepiting rebus .
" Yah sambil menyelam minum air lah mas " cengir Benny sambil melirik istrinya . Yang dilirik malah tersedak ga karuan . Benny hanya tersenyum melihat tingkah laku istrinya itu .
" Ya udah kita berangkat dulu ya semuanya , takut ketinggalan pesawat " kata Benny lagi sambil menyalami semua orang .
Khanza pun berpamitan dengan pakde nya,dia mencium tangan pakde nya dengan penuh takzim .
" Pakde jaga kesehatan ya, jangan lupa minum obat "
" Iya kamu ga perlu khawatir sama pakde , Ben tolong jaga khanza baik baik ya jangan disakiti lagi , bahagiakan dia " khanza tersenyum mendengar perkataan pakde nya itu .
" dengan segenap jiwa saya pakde , saya akan membahagiakannya " Benny mencoba meyakinkan pakde nya . Dan yah kata kata benny sukses membuat semua orang tidak hanya pakde yg takjub dan terharu . Apa benar pria ini akan melakukan hal itu , dada Za berdegup takut sekaligus berbunga di waktu bersamaan .
****"******
Khanza melangkah dengan gontai,di seretnya koper hitam miliknya asal-asalan . Entah kenapa kepalanya pusing dan berasa pengen muntah . ' apa ini yang dinamakan jet lag ? Aduh kan cuma terbang dari Semarang ke Bali , aduh malu maluin aja ni ,mana si suami jalanya kenceng banget lagi' gerutu nya dalam hati , sambil memijat mijat pelipisnya .
Benny menoleh melihat istrinya ,dia tersenyum ketika melihat khanza memijat mijat pelipisnya . Dihampirinya khanza berhenti berjalan sambil terus memegangi kepalanya .
__ADS_1
" Kamu pusing ? " Tanya Benny sambil menyentuh kepala istrinya lembut . Khanza mendongak , dia sedikit memundurkan kakinya , karena muka Benny begitu dekat dengan wajahnya . Jantungnya berdegup kencang . Mendapat respon istrinya , Benny maklum mungkin Khanza belum terbiasa dengan dirinya .
" Enggak " jawab khanza datar . Khanza langsung melenggang meninggalkan Benny ditempatnya berdiri . Benny tau istrinya itu sedang berbohong .
" Sayang ,mau kemana ? Mobil jemputan kita ada disana " kata Benny seraya menunjuk mobil silver di depan lobi bandara .
" oh , maaf ..." sahut khanza sedikit kesal dan malu . Benny menyembunyikan senyum lebar nya dibalik telapak tangan .
Sialan laki laki itu menertawakannya ...
" Makanya tungguin suami dong , jangan ngeloyor duluan "
Benny pun ikut masuk kedalam mobil , duduk di sebelah khanza . Mobil mereka pun melaju meninggalkan bandara membelah jalanan di Bali .
Denyutan di kepala Za semakin menjadi , ia rasa dirinya tidak berjalan mulus seperti jalanan di pulau dewata ini . Duduk berdua di bangku penumpang , dengan pria yang mungkin terasa asing untuk Za .
Bertahun tahun mereka tidak bertemu , dan Za memang sengaja melakukannya , menghindari pria ini . Tapi takdir malah menyatukan mereka dalam pernikahan .
Za sudah berusaha duduk merapat di pintu mobil , tapi sepertinya Benny sengaja merapat kearahnya hingga jarak mereka hanya tinggal sejengkal .
" kau sepertinya tidak nyaman ada di dekat ku..." selidik Benny , dan sedikit menjauh .
Tapi Za berkata sebaliknya " bukan... Bukan seperti itu ...aku hanya mual , "
" kau mual ada didekatku ...?" gerutu Benny , dia angkat lengannya lalu mengendus ketiaknya sendiri , tapi sumpah dia wangi . apa Za tidak suka bau parfumnya .
" eh bukan , bukan itu , aku sepertinya mabuk udara .."
" hm kita bisa berhenti sebentar ..." usul Benny .
" tidak , tidak perlu , aku masih bisa menahannya , tenang saja aku tidak akan muntah di mobil mewahmu ini . .."
Benny yang semula tersenyum langsung berubah mimik mukanya ," serius ? Bahkan jika kau muntah di jaketku pun aku tidak masalah "
Za hanya meliriknya sekilas , " kau tidak perlu seperti itu , tapi itu menjijikkan .."
" jangan berbicara seperti itu lagi , punyaku adalah punyamu ..." Za mengerjap mendengar pernyataan Benny barusan .
Ya dia hanya gadis miskin yang kebetulan menikah dengan nya ...
__ADS_1
" jangan berpikir..."
Za menoleh , tapi ulu hatinya semakin sakit sial jangan sekarang " apa ..?"
" jangan berpikir yang bukan bukan ..." tegas Benny lagi .
Za mencengkeram pintu mobil di sebelahnya " bisa kita berhenti !" mungkin mukanya sekarang sudah semerah kepiting rebus .
" appa!" teriak Benny .
" pak tolong berhenti! " teriak Za lagi , kali ini lebih keras dan tergesa .
Begitu mobil berhenti , Za yang ada di bangku sebelah kiri langsung menerjang keluar .
" Sayang ! Apa yang...."
Za bukannya lari , dia hanya menunduk di dekat mobil dan memuntahkan semua isi perutnya . sial , apa yang harus ia katakan pada Benny , dia bilang bisa menahannya , tidak ! Dia bahkan tidak bisa berbicara jika semua cairan itu terus keluar dari mulutnya .
Benny pria itu , memegang ujung hijabnya agar tidak terkena muntahnya sendiri ," tenang , aku memegangmu .." tangan pria itu lincah bergerak di tengkuknya memijat dan mengurut , lalu ia berteriak pada sang sopir minta minyak angin ,
Za tidak tahu apa yang terjadi tapi Benny mengumpat ,sambil aktif memijat leher belakangnya .
Sepertinya semua tenaganya ikut hilang bersama cairan muntah tadi , sungguh memalukan , za terduduk lesu ditanah .
" oh shit ! Tidak ada minyak angin ...honey apa kau baik baik saja ...? " Benny menunduk melihat wajahnya , Za berpaling , tidak , dia sangat berantakan dan bau muntah , Benny tidak boleh melihatnya seperti ini .
" di tasku... " ucap za lirih , tapi benny yang tidak mengerti maksud ucapan istrinya hanya berkerut dan meraih sekotak tisu , pemberian pak sopir .
" kemarilah , akan kubersihkan mulutmu ..." Benny meraih dagu istrinya , tapi Za menepisnya .
" tidak , aku saja , ambil saja minyak angin di tasku..." Za berusaha menggapai tisu di tangan Benny dengan masih menunduk malu .
Tidak semudah itu , Benny mengangkat tangannya tinggi tinggi agar Za tidak bisa menjangkaunya " aku suamimu sekarang Za , biarkan aku mengurusmu !"
Za luluh , hanya dengan suara tegas Benny membuatnya tidak bisa berbuat apa apa , selain diam dan menurut .
Berjongkok mensejajari istrinya dan dengan lembut membersihkan sisa sisa muntahan di bibir dan sekitar mulutnya , suasananya seperti gerakan slow motion , mata mereka saling menatap , dan Za tenggelam dalam gelapnya mata Benny . pria itu tersenyum berkedip diantara bulu matanya , Benny semakin terlihat tampan dan sebagai pria dewasa , bibirnya yang tegas dan kumis dan janggut yang menyembul tipis tapi sangat terawat , pria itu tersenyum padanya hingga lesung pipit yg dulu ia sukai muncul di pipi yg ditumbuhi bulu bulu halus terawat , sial pria ini sangat seksi , dan baunya oh my...bau aftershave nya sangat seksi .
" sudah selesai , kau bisa memandangi ku lagi nanti , ini minumlah ..." Benny mengulurkan sebotol air mineral padanya , za berkedip malu dan langsung menyambar botol ditangan suaminya .
__ADS_1
Serius , za sangat malu , kepergok memandangi suami barunya , dan pria itu menertawakannya ...