
54
Kedua alis tebal bak ulat bulu yang ia miliki hampir menyatu, garis-garis panjang mulai terlukis di dahi pria berjas hitam yang kini sudah berdiri, mata tajamnya tidak berkedip melihat Celine berdiri di sana. Memerhatikan penampilan istrinya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Celine terlihat lebih cantik dari tadi pagi, bahkan bibir itu dilapisi lipstick warna merah senada dengan dres yang dikenakkan. Apa-apaan ini? Kenapa Celine ada di sini?
Deg-deg-deg-deg-deg-deg
Oh, tidak ... untuk pertama kali jantung ini berdegup sangat kencang, bukan karena jatuh cinta. Tapi karena ia mulai menyadari ada sesuatu yang salah di ruangan ini. Tidak mungkin Celine yang dimaksud sebagai pemilik J Kosmetik 'kan? Pikirannya mulai nebak-nebak.
Celine dan Marvel saling diam dan mengunci pandangan, seolah hanya ada mereka berdua di ruangan ini sampai....
"Ap-apa Ac di sini tidak berfungsi?" Harry memecah keheningan yang ada, ia bahkan harus berulang kali menelan ludah. Ntah mengapa ruangan itu terasa panas. Harry bisa melakukan apapun perintah Marvel, tapi untuk urusan wanita, ia angkat tangan di tempat. Habislah riwayatmu, Tuan. Istrimu itu sudah mengetahui apa hubunganmu dengan klientmu itu. Harry membatin mengasihani Marvel.
"Oh, maaf kalau aku membuat kalian menunggu terlalu lama. Silahkan duduk."
Marvel dan Harry sama-sama terkesiap mendengar ucapan Celine. Wanita itu bicara seolah tidak mengenal mereka berdua dan lagi kenapa Celine berdiri di samping ... oh tidak!
Marvel menghembuskan nafas di udara, sekilas memejamkan mata saat melihat Jeny dan Celine berdiri berdampingan. Tidak menutup kemungkinan Celine pasti sudah mengetahui sesuatu, sesuatu yang disembunyikan darinya.
"Tuan Marvel, ini temanku Celine!" ujar Jeny memerkenalkan Celine.
Duar!!!
"Teman?" Perasaan Marvel mulai tidak enak.
"Iya, Celine ini pemilik J kosmetik yang sesungguhnya!"
Marvel terkejut mendengar fakta yang baru ia ketahui. Dan lagi sejak kapan Celine dan Jeny saling mengenal?
"Celine, kenalkan dia ... Marvel," ucap Jeny sambil tersipu.
__ADS_1
"Dia---
"Senang bertemu Anda, Tuan Marvel." Celine memungkas ucapan Marvel yang langsung terdiam menatapnya, ia mengulurkan tangan. "Terima kasih sudah datang di kantorku."
Wajah Marvel memerah, gigi yang gemeretak membuat rahangnya mengeras, belum sempat Marvel berjabatan tangan dengan Celine, seseorang mengetuk pintu. Celine menarik tangannya lagi.
"Maaf mengganggu, Nona Jeje ada yang ingin bertemu dengan Anda."
"Siapa? Aku tidak ada janji dengan siapapun selain tuan Marvel," jawab Jeje.
"Pergilah, Nona Jeje. Kami tak apa di sini." Marvel bicara kepada Jeje, tapi wajahnya menatap Celine.
"Maaf untuk itu," ucap Jeje menyesal. "Celine, temani mereka sebentar, ya," ucap Jeje kemudian bergegas pergi.
"Tinggalkan kami Harry," ucap Marvel sambil mengendurkan dasinya.
Harry menghela nafas berat, ia tahu Marvel dan Celine butuh waktu untuk bicara berdua, akhirnya mau tidak mau ia menjaga pintu di luar.
"Jadi, ini kejutan yang kau maksud?" Ia membuang nafas gusar. "Sangat mengejutkan."
Celine bersedekap dada berusaha tetap tenang.
"Kejutanmu bahkan lebih mengejutkan dari ini, Marvel!"
"Bukan aku, Celine ... tapi kau!" Marvel berdiri tegak. "Kau bicara seolah aku ini bukan suamimu!"
"Apa kau pernah mengaku kalau sudah menikah? Apa mantan kekasihmu itu tahu kalau kau sudah punya istri?" sentak Celine tidak terima.
"Sia*l!" Marvel memukul udara, benar Celine sudah tau semuanya.
__ADS_1
"Huh, aku bahkan tidak yakin kalau hubungan kalian benar-benar sudah berakhir!"
"Berhenti bicara omong kosong, Celine!"
"Kalian bahkan bernostalgia seharian." Celine tersenyum sinis. "Kau senang, bukan?"
Marvel mengusap wajah gusar. "Aku bisa jelaskan semuanya."
"Waktumu sudah habis, Marvel! Aku menunggumu bicara, tapi kau tetap bungkam ... aku sudah tidak mau dengar penjelasan apapun! Tenang saja, wanita yang kau cintai itu tidak akan tahu kalau aku ini istrimu, tapi jangan sekalipun kau sakiti dia, jika tidak ... kau berurusan denganku!"
"Jaga bicaramu, Celine ... aku tidak mencintainya!" sentak Marvel, ia bahkan memukul meja.
"Kau pikir aku percaya dengan omong kosongmu, itu? Aku lebih percaya dengan apa yang aku lihat, Tuan Marvel!"
"Jangan menguji kesabaranku, Celine!" Marvel keluar dari area tempat duduk lalu memegang pergelangan tangan Celine. "Memangnya apa yang kau lihat, huh?" Ia bertanya tepat di wajah Celine.
Celine menolak dada Marvel, tapi Marvel bergeming di tempat.
"Jangan seperti ini, nanti dilihat orang!"
"Aku tidak perduli, katakan apa yang kau lihat sampai kau tidak percaya padaku!"
Celine membuang muka, malas melihat wajah Marvel.
Marvel menarik dagu Celine sampai menghadapnya lagi.
"Aku melihatmu berciuman dengannya! Apa lagi yang ingin kau dengar dariku?"
Tangan Marvel perlahan mengendur dan jatuh.
__ADS_1
🍀🍀🍀
Gak digantung'kan?🤧