
69
Sudah dua hari setelah pertengkaran yang mengakibatkan Zack terusir dari rumah, suasana di rumah itu terlihat berbeda dari biasanya. Cloe menjadi pendiam dan tidak pernah bicara kasar kepada Celine. Nenek juga tidak bisa berbuat apapun, jantungnya hampir kambuh saat tahu Zack mengkhianati putrinya. Sementara Marvel, sudah dua hari ini dia sibuk atau menyibukkan diri di kantor.
"Bibik benar-benar akan menggugat paman? Apa perceraian menjadi pilihan terakhir yang bibik ambil?" Celine bertanya ragu, ia tidak berniat mencampuri masalah bibik Cloe, tapi semenjak paman Zack keluar rumah, bibik Cloe selalu mengurung diri di dalam kamar dan ia tidak tega melihat bibik Cloe hancur seperti ini.
"Ya, aku sudah menyuruh pengacara mengurus perceraian kami. Tidak ada kesempatan kedua untuk lelaki pengkhianat seperti dia!"
Celine menghela nafas berat, lalu memegang tangan bibik Cloe. "Aku yakin, bibik pasti bisa melewati semua masalah ini, bibik tenang saja nanti aku akan minta Marvel mengirim orangnya menjemut Elma dan membawanya pulang ke rumah ini."
Cloe menatap Celine intens. "Itu sudah tidak perlu, biarkan saja Elma di sana lebih lama lagi sampai dia menjadi anak yang baik. Semua kejadian ini membuat aku sadar kalau selama ini aku telah gagal mendidiknya, kami memandang orang dengan harta, aku pikir semakin banyak harta yang dimiliki, maka akan semakin membuat kedudukan orang itu menjadi tinggi dan bahagia, ternyata malah lupa diri. Seperti Zack yang tidak tahu balas budi dan berterimaksih."
"Celine ... bibik minta maaf karena selama ini tidak memperlakukanmu dengan baik. Mungkin, setelah ini bibik akan menyusul Elma, kami akan menetap di sana."
"Apa bibik tidak bisa tetap tinggal di sini? Rumah ini semakin sepi kalau bibik tidak ada, nanti."
Cloe menggeleng lemah, keputusannya sudah tidak bisa dirubah. "Rumah ini menyimpan banyak kenangan bibik dan laki-laki itu, mengingat itu semakin membuat bibik sakit hati, bibik yakin keluar dari rumah ini bisa membuat bibik lebih cepat melupakan dia." Lagi-lagi setetes cairan bening menetes di wajahnya, ia bahkan tidak pernah menduga sebelumnya, kalau Celine yang selama ini tidak ia perlakukan dengan baik jusru yang memberinya di saat hidupnya benar-benar terpuruk.
__ADS_1
Percakapan Celine dan Cloe terhenti saat daun pintu kamar yang memang tidak tertutup itu diketuk seseorang, pelayan muda di rumah itu datang bersama dua penata rias yang menjadi langganan Cloe.
"Kalian sudah datang?" tanya Cloe setelah menghapus air mata di pipinya, ia tersenyum dan kembali bicara, "Masuklah, kerjakan tugas kalian."
"Baik, Nyonya."
"Bibik ada tamu rupanya?" tanya Celine sambil memerhatikan seorang Mua profesional menyiapkan peralatan makeup di atas meja depan sofa. "Apa bibik mau menghadiri pesta?" tanyanya lagi.
"Bukan bibik, justru mereka datang ke sini mau meriasmu."
Cloe hampir kelepasan bicara, ia tidak mungkin membongkar kejutan yang akan diberikan Marvel untuk Celine. Ya, Marvel memintanya membawa Celine ke suatu tempat malam ini.
"Em ... sudah sebaiknya jangan membuang waktu lagi, bibik takut kita terlambat," putus Cloe tidak membiarkan Celine menolak ajakannya
Meskipun bingung, pada akhirnya Celine menurut juga, ia pasrah ketika peralatan make up itu menyentuh wajahnya.
Tidak memerlukan waktu yang lama, Celine telah selesai dirias. Wajah Celine yang pada dasarnya sudah putih mulus terawat dengan baik tidak memerlukan make up yang berlebihan, hanya sedikit sentuhan modern namun terlihat elegant membuat kecantikkan Celine semakin terpancar. Gaun v neck warna putih tanpa lengan menjuntai hingga mata kaki sudah membalut tubuhnya, Celine terlihat lebih anggun dari biasanya.
__ADS_1
"Bibik, apa ini tidak terlalu berlebihan?Aku takut Marvel marah kalau aku pakai gaun seperti ini." Meskipun belahan dadanya tidak sampai terlihat, tapi Celine merasa gaun ini bisa menarik perhatian banyak orang nanti.
Celine tidak tahu kapan tepatnya bibik cloe mengganti pakaiannya, gaun hitam sudah membalut tubuhnya, wajah bibik Ckloe pun terlihat lebih fresh tidak sembab lagi.
Cloe meminta para perias itu pergi karena sudah selesai melakukan tugasnua. Lalu ia mendekati Celine.
"Marvel tidak akan tau kalau kita pergi, jadi dia tak mungkin marah," jawab Cloe.
"Aku tidak mungkin pergi tanpa ijinnya, bik. Biar kuhubungi Marvel sebentar." Celine mulai menghubungi Marvel, tapi pria itu tidak menjawab panggilannya.
"Jadi, bisa kita pergi sekarang?"
Celine mengangkat bahu, ia tidak yakin akan pergi. Tapi, bukan pilihan yang tepat menolak ajakan Cloe, sebab saat ini Cloe butuh hiburan supaya tidak terlalu lama larut dalam masalahnya.
"Baiklah, Bik, kita pamit sama nenek saja."
"Ibu juga tidak ada di rumah, sudahlah tak apa kita pergi saja." Cloe menggandeng Celine tanpa bisa ditolak wanita yang tengah hamil muda itu.
__ADS_1