Mantan Tapi Menikah

Mantan Tapi Menikah
MTM 42- Benih Unggul


__ADS_3

42


Udara dingin dini hari itu menusuk tulang Marvel. Pria yang tidur hanya memakai celana pendek di atas lutut itu menggerakkan tangan seperti mencari sesuatu. Selimut yang biasa menghangatkan malamnya sudah tersingkap dari tubuhnya. Marvel tidak mungkin meminjam selimut tetangga, ia hanya perlu memeluk erat sang istri yang sudah memberikan kenikmatan yang baru pertama kali ia rasakan. Ya, meskipun di negara ini hubungan bebas sah dilakukan, tapi Marvel tidak mau bermain dengan sembarang wanita dan membuang benih unggulnya percuma.


Tapi, sepertinya apa yang ia cari tidak ada. Tangan yang masih meraba-raba itu tidak bisa menyentuh sosok yang ia cari. Kosong, ketika membuka mata sang istri tidak ada di sampungnya.


"Celine ... dimana, dia?" Matanya menyusuri setiap sudut ruangan, tirai transparan yang menutup pintu kaca terhubung ke balkon bergoyang dihembus angin, pantas saja ternyata udara dingin itu berasal dari sana.


"Kenapa pintunya terbuka? Untuk apa Celine di balkon sepagi ini?" Ketika kakinya sudah mulai menginjak lantai, noda merah di atas sprai dan selimut yang sudah mengering menjadi pusat perhatiannya.


"Ternyata aku sudah terlalu banyak menyakitimu, aku juga yang pertama kali menyentuhmu, bagaimana caraku meminta maaf atas semua kesalahan yang aku lakukan padamu?"


Sejenak memejamkan mata mengingat malam panas yang sudah ia lalui dengan Celine beberapa jam yang lalu, punggungnya bahkan masih terasa perih akibat kuku-kuku Celine tertancap di sana, air mata Celine yang sempat menetes saat ia mulai menerobos bagian terdalam dari hutan itu pun masih jelas terbayang. Ternyata tidak mudah melakukannya, sebab hutan milik Celine benar-benar masih bersegel.


Ser!!!


Aliran darahnya menghangat, adik kecil ini pun terbangun dan minta lagi, menyiksa sekali. Ketika kakinya sudah mulai melangkah lamat-lamat Marvel mendengar Celine terisak.


"Kenapa Celine menangis sepagi ini?" Sosok yang ia cari ada di sana, terduduk di lantai balkon, wajahnya tersembunyi di tumpuan tangan di atas kaki yang tertekuk. Sosok itu terlihat rapuh dan menyedihkan.


"Tidak mungkin," lirih Marvel, hatinya terasa seperti dihantam benda tumpul, sesak yang ia rasakan, tangan mengepal mengira kemungkinan yang meracuni pikirannya.

__ADS_1


"Kau menangis karena menyesal sudah memberikan kesucianmu padaku? Apa kau memang tidak berniat memberikannya padaku? Tidak ... kau tidak mungkin mencintai Natan seperti apa yang dikatakannya."


Kemungkinan itu membuat frustsi, tidak rela jika Celine tidak mencintainya lagi. Tangisan Celine terdengar menyayat pilu saat ini membuat ia sakit hati, namun ia mencoba untuk tetap tenang.


"Celin ... kau menangis?" Marvel melipat lutut di depan Celine, ia rengkuh wajah Celine yang sudah dibanjiri air mata.


"Sttt, kenapa menangis di sini sepagi ini? Apa kau sakit? Aku pasti sudah menyakitimu, ya?"


Marvel menghapus air mata Celine, baru kali ini ia melihat wajah yang biasa menantangnya tampak sayu dan sembab.


Celine tersedu, ia tak mampu bicara. Tangannya semakin mencengkram erat benda pipih itu seolah mencari kekuatan.


"Jangan menangis sendirian ... kau bisa berbagi cerita denganku." Marvel merengkuh Celine ke dalam pelukannya.


"Ak-aku...." Celine tak mampu bicara, ia bingung harus darimana memulai percakapan ini takut Marvel tidak percaya padanya, takut jika ia ikut ke London Marvel akan merasa terganggu.


Marvel mengangkat wajah Celine hingga membuat pandangan mereka bertemu, manik mata mereka saling mengunci dalam.


"Ak-aku ...." Celine menelan ludah, menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya.


"Tenangkan dirimu lalu bicaralah perlahan."

__ADS_1


Setelah berulang kali menelan ludah akhirnya Celine kembali bicara, "Se-selama kita menikah ak- aku tidak pernah keluar rumah dan bertemu siapapun, a-apa sekarang aku boleh pergi?"


Deg!!


"Kau mau pergi dariku?" tangannya mengepal erat, sungguh ia tidak suka mendengarnya.


"Tidak ... ka-kau mau pergi ke London 'kan? Aku ikut denganmu, ya."


"London?" Kening Marvel mengerut, ia heran kenapa Celine sangat ingin pergi ke sana. "Baiklah ... kita akan pergi ke sana."


Celine tersenyum lega lalu refleks memeluk dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Marvel.


"Terima kasih...."


Marvel mencium pucuk kepala Celine, wangi yang menguar dari tubuhnya semakin membuat adik kecilnya bertambah sesak saja.


'Kalau kau memang menyesal sekarang, sudah tidak ada gunanya, Celine. Aku tidak bisa mengembalikannya lagi.'


Marvel bergumam sendiri, mengingat itu semakin membuat hasratnya membara. Marvel merengkuh wajah Celine dan mencium bibirnya, perlahan ia menggendong dan membawa Celine kembali ke atas ranjang.


"Bolehkan?" tanya Marvel sembari membuka tali yang melilit handuk kimono Celine. Sebelum Celine menjawab ia segera menyatukan lagi bibir mereka dan mengulang kegiatan panas yang membuat peluh bercucuran.

__ADS_1


'Benih unggulku pasti tumbuh subur di dalam rahimmu.'


Marvel semakin bertekad menyiram lahan milik Celine dengan benih unggul miliknya.


__ADS_2