Mantan Tapi Menikah

Mantan Tapi Menikah
MTM 62- Masa Lalu Biarlah Masa Lalu


__ADS_3

62


Guci yang dipegang Marvel terjatuh kala punggungnya di pukul dari arah belakang, ya tanpa ada yang menyadari seorang pria bertubuh jangkung yang datang dari arah pintu menyerangnya tiba-tiba, meskipun begitu Marvel masih bisa menjaga keseimbangannya. Marvel tidak perduli, matanya hanya terarah pada pria yang tadi menyakiti Celine. Kekacauan di dalam rumah semakin tak terkendali saat Harry meringsuk masuk dan menghajar pria jangkung itu tanpa ampun, begitu juga dengan Marvel yang kembali memberikan pelajaran untuk pria yang wajahnya sudah dipenuhi lebam akibat pukulannya.


"Tolong lepaskan dia, Marvel! Kalian menakuti anak-anak ini." pekik Celine sambil merangkul anak-anak yang sudah mengerumuninya. Celine tentu tau betapa berbahayanya Marvel kalau sedang dipenuhi emosi seperti sekarang, mungkin pria itu tidak akan berhenti sebelum lawannya mati.


Celine membuat perhatian Marvel terarah padanya. Darah yang masih terlihat membasahi telapak tangan Celine, menjadi titik perhatian Marvel saat ini, Marvel mengeram kesal sebelum kemudian menghempaskan lawannya.


"Pergilah, jangan berani datang ke sini lagi!" bentak Marvel diiringi emosi yang masih bergemuruh di dada, ia tidak perduli di negara mana ia berdiri saat ini, yang ia perduli orang yang sudah melukai Celine harus diberi pelajaran.


Harry pun bergegas membereskan kekacauan di rumah tersebut termasuk mencari tahu akar permasalahannya.


Marvel menghela nafas berat saat melihat anak-anak di sekitar Celine hampir tidak berkedip menatapnya. Benar ... ia sudah menakuti mereka tanpa sengaja. Semoga saja anak-anak itu tidak trauma melihatnya marah tadi. Tanpa berkata sepatah katapun Marvel memegang pergelangan tangan Celine segera ia jauhkan dari serpihan beling yang masih berserak di sana.


Ruang tengah tidak terlalu luas yang diisi satu sofa chaise di atas karpet yang terbentang menjadi tempat duduk Marvel dan Celine saat ini, sementara anak-anak panti sudah mulai membubarkan diri.

__ADS_1


"Harusnya aku patahkan jari-jarinya tadi." Dengan telaten Marvel mengobati luka Celine menggunakan obat dari dalam kotak obat yang tadi diberikan ibu panti.


"Kau sudah buat tangannya terkilir, tadi," cicit Celine, ia meringis menahan perih saat Marvel meneteskan obat merah di telapak tangannya.


"Itu saja tidak cukup!" Marvel mendengus kesal, sebenarnya ia ingin memarahi Celine karena keras kepala Celine sudah membawa ia ke dalam bahaya, tapi Marvel masih menahannya agar tidak memperpanjang jarak yang diciptakan Celine padanya.


"Kau tau darimana aku ada di sini?" Celine menatap curiga. "Jangan bilang semua kebetulan saja, karena kau tidak pernah datang ke sini sebelumnya."


Marvel balas menatap Celine. "Ya, aku menyuruh Harry mengawasimu, kau pikir aku bisa tidur nyenyak saat istriku ada di luar rumah?"


"Kita pulang, ya ... kau sudah terlalu lama mendiamkan aku." Marvel mengelus lembut pipi Celine. "Aku merindukanmu."


"Tidak!" Celine menjawab cepat. "Aku tahu tindakanmu tidak seperti apa yang kau ucapkan."


Marvel menghela nafas panjang, ia tak tahu harus bagaimana lagi meyakinkan Celine agar mau memaafkan dan ikut pulang dengannya.

__ADS_1


"Setelah apa yang kita lalui kau masih marah padaku? Jauh darimu membuat aku tersiksa setengah mati, hidupku tak berarti bila tidak ada kau di sampingku. Lalu apa kau masih memerlukan bukti yang lain lagi?"


Bukti apa lagi? Celine bahkan menyaksikan sendiri bagaimana Marvel mrngkhawatirkan dirinya saat ini.


"Jangan marah lagi, aku yakin temanmu pun tidak senang melihat kita seperti ini." Marvel menarik Celine ke dalam pelukkannya. "Tidak perduli seberapa banyak kau menolak pulang denganku, tapi aku akan tetap membawamu karena aku berhak memiliki dan bertanggung jawab atas keselamatanmu."


Mau bagaimana lagi? Nyatanya pelukan hangat yang diberikan Marvel saat ini sepertinya mulai bisa mengikis amarah dan kecewa yang sempat membara di dalam diri Celine.


Selama ini hubungan yang mereka bangun selalu dihantui bayangan masa lalu Marvel dan Jeny yang ternyata merupakan teman Celine sendiri. Kini, disaat semua masalahnya sudah clear tanpa meninggalkan drama yang berkepanjangan, apakah Celine akan membiarkan kesalahan yang dilakukan Marvel dan kepingan masa lalu itu menghalangi masa depan mereka?


"Kakak ... makan malamnya sudah siap," ucap Ethan, ia menyampaikan bahwa ibu panti meminta Celine bergabung di ruang makan.


Kehadiran Ethan membuyarkan lamunan Celine, ia langsung menarik diri dari pelukan Marvel.


'Anak kecil ini mengganggu saja.' Marvel agak kesal karena bocah laki-laki itu mampu membuat Celine tersenyum. Sedangkan dirinya, ah sudahlah ... Celine mau bicara padanya saja sudah merupakan anugerah yang luar biasa.

__ADS_1


"Ethan ... maaf, ya, kakak jadi merepotkanmu," jawab Celine tersenyum canggung karena Ethan melihat Marvel memeluknya tadi.


__ADS_2