Mantan Tapi Menikah

Mantan Tapi Menikah
MTM 44- Mulut Beracun Pria Gemulai


__ADS_3

Mobil yang tadi membawa Celine dan Marvel dari Bandara sudah terparkir di halaman Supermarket yang menjual keperluan harian terlengkap di kota itu. Celine ingin membeli bahan mentah untuk persediaan di dapur. Awalnya, Marvel melarangnya karena sudah ada pelayan yang melakukan pekerjaan rumah termasuk memasak untuk mereka, tapi Celine tetap memaksa karena ingin melakukan tugasnya sebagai seorang istri menyiapkan segala kebutuhan Marvel terutama memasak makanannya.


"Banyak orang memerhatikan kita, mungkin kita terlihat seperti pengantin baru," ucap Celine sambil memasukkan beberapa keju dan roti tawar ke dalam troli yang dibawa Marvel.


Marvel melongos mendengarnya.


"Bukannya kita memang baru menikah?Kenapa kau masih bilang seperti?"


Melihat wajah tidak bersahabat yang ditunjukkan Marvel menyadarkannya jika sudah salah bicara.


"Ah, iya aku lupa. Mungkin karena aku masih tidak menyangka bisa menikah denganmu. Ki-kita kesana." Sebelum Marvel marah, ia cepat-cepat berbelok ke sisi lain, meninggalkan Marvel di belakangnya.


"Menyebalkan, awas saja kalau dia lupa aku ini suaminya!" Bergegas mendorong troli belanjaan mengikuti Celine yang berjalan ke arah kasir.


.


.


.


.


.


"Celine? Aku tidak salah orang 'kan?" Penjaga kasir tampak antusias melihat Celine. " Kau ke mana saja? Sudah lama tidak datang ke sini, di mana calon suamimu itu?" Matanya mencari Natan yang dulu pernah mengaku sebagai calon suami Celine.


"Calon suami apa? Nanti saja ngobrolnya kau kerjakan saja tugasmu," jawab Celine, ia khawatir Marvel salah paham mendengar celotehan pria gemulai ini.

__ADS_1


"Kau semakin cerewet saja."


Penjaga kasir yang dulu cukup akrab dengan Natan itu pun fokus melakukan transaksi jual beli. Tiba giliran seorang pria tampan berdiri di depannya.


"Ouh, tampannya dia...." Tangannya seperti menyibakkan rambut cepak warna ungunya. "Anda sudah selesai belanja, Tuan? Atau mau aku temani keliling tempat ini?" Mengedipkan sebelah matanya.


Celine melipat bibir menahan tawa, ternyata bukan para wanita saja yang mengejar dan merayu Marvel, pria gemulai seperti penjaga kasir ini pun berusaha merayunya. Lihatlah wajah Marvel tampak kesal.


"Hitung saja semua, jangan banyak bicara!" sentak Marvel. "Dan lagi, aku bukan bagian darimu, aku sudah menikah!" Marvel melirik Celine.


"OMG!! Oh, no!!" pekiknya histeris sambil memegang kepala yang migran tiba-tiba. "Anda sudah menikah, Tuan? Aku menyesali pertemuan ini, Anda membuat hatiku patah." Menunjuk dadanya patah hati untuk kesekian kali.


"Pilihlah aku dan jadikan aku sebagai selingkuhanmu, Tuan."


"Jangan mendramatisir keadaan, Owen. Kau tidak lihat sudah banyak orang mengantri di sini." Celine tahu betul kalau mulut Owen harus dihentikan.


Marvel memijit pangkal hidungnya, bingung harus ia apakan orang ini.


"Sayang ...." Marvel mengelus pipi Celine. Wanita itu terkejut melihatnya. "Aku tunggu di luar saja, ya. Tempat ini tidak aman untuk suamimu."


Marvel menekuk bahu lalu mencium pipi Celine.


"OMG!! Oh, no!! Kalian tidak mungkin suami istri sungguhan, bukan?" Ia lebih histeris dari sebelumnya, tidak perduli menjadi pusat perhatian barisan orang yang ada di sana.


"Celine kau khianati aku! Kau tidak menepati janjimu! Ka-kau menikah dengan Tuan tampan itu?" Owen menghentakkan kaki merajuk seperti anak kecil.


"Diamlah, Owen! Nanti kita bicara." Ia mendorong bahu Marvel. "Marvel, kau pergi saja suruh Harry yang mengambil belanjaan kita."

__ADS_1


Marvel mengamati wajah Celine. "Tapi, kenapa kau menjadi gugup seperti ini?"


Belum sempat Celine bicara, Owen sudah mendahuluinya.


"Lalu bagaimana dengan Natan?"


Celine sekilas memejamkan mata, benar dugaannya kalau mulut Owen tidak akan berhenti sebelum hatinya merasa puas.


Marvel berkacak pinggang lalu mengembuskan nafasnya di udara. Matanya masih melihat Celine seolah minta penjelasan.


"Bukannya waktu itu kalian bilang padaku sedang mengurus pernikahan? Tapi, kenapa kau menikahi Tuan tampan ini? Astaga! Kau mengkhianati Natan?"


"Bukan begitu, ah sudahlah aku tidak punya kewajiban menjelaskan semuanya padamu. Lebih baik, kau hitung saja semua belanjaanku ini!" Celine memindahkan belanjaannya ke atas meja kasir.


"Aku tidak mau tahu, kau berhutang penjelasan padaku," tuntutnya dengan bibir yang mengerucut. "Dulu Natan yang mendorong troli belanjaanmu. Sekarang Tuan tampan ini."


"Astaga, berhenti bicara atau kulaporkan kau kepada manager di sini," ancaman Celine berhasil membungkam mulut beracun pria gemulai ini.


Rahang Marvel mengeras menahan emosi yang tiba-tiba menyelimuti diri.


'Jadi, London menyimpan banyak kenangan antara Celine dan Natan? Pantas saja dia sangat ingin datang ke sini.'


🌴🌴🌴


Sabar, ya, Bestie. Pokoknya kita selesaikan urusan yang ada di London dulu, ada Jenyka dan Ozan.


Oh, iya ... aku ada cerpen, jika berkenan klik profilku, ya. Ada cerpen di sana jangan lupa tab love. Makasih🤗

__ADS_1


__ADS_2