
40
Selama ini Ozan bukan hanya bertindak sebagai seorang dokter untuk Jenyka, ia juga berperan menjadi teman setia yang selalu ada untuk mendengarkan keluh kesah Jeny. Ozan juga tahu seperti apa perasaan Jenyka untuk pria bernama Marvel. Pria yang sampai saat ini masih bertengger di hati Jenyka, Ozan sudah berusaha semampunya untuk merebut hati Jenyka, namun tidak pernah bisa.
"Kami berdua saling mencintai, aku sangat mencintainya, meskipun dia menyebalkan, sering marah tidak jelas, terkadang tidak ada saat aku membutuhkannya, tapi aku tahu dia juga sangat mencintai aku. Kami sudah menggantungkan harapan untuk hidup bersama, menikah dan memilikin anak. Tapi, harapan itu hanya tinggal kenangan. Semua itu hanya impian yang tidak bisa digapai. Karena penyakitku ini, aku harus membuat dia membenciku, aku harus menjauhinya. Pergi kalau perlu ke dasar bumi yang paling dalam. Dan kau, Ozan. Jangan mencintai wanita sepertiku, karena aku takut tidak bisa membalas cintamu."
Itu yang dikatakan Jenyka suatu hari saat ia melamarnya. Cintanya ditolak wanita cantik itu. Meskipun begitu ia tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti mengejar Jeny. Seperti saat ini, pertemanan mereka sangat erat. Itu cukup menghibur hati Ozan.
"Dokter ... sejak kapan berdiri di sana?"
Suara lembut Jenyka membuyarkan kenangan pahit itu. Ozan tersenyum tak lupa mengechek infus di punggung tangan Jenyka.
"Berhenti memanggilku, dokter. Aku tidak punya pasien pembangkang sepertimu."
Meskipun lemah, tapi Jenyka tetap tersenyum. "Kau marah padaku?" tanya Jenyka kepada Ozan yang sudah berdiri tegak di sampingnya.
"Menurutmu?" Ozan mengambil handpone Jenyka. "Aku akan menahannya!" Ia simpan benda pipih itu di dalam saku jas putihnya.
"Maaf, tapi aku sangat merindukan dia. Aku harus menyiapkan semuanya agar perusahaannya bersedia bekerja sama denganku, hanya itu satu-satunya cara supaya kami bisa bertemu lagi. Mau bagaimana lagi? Kau melarangku terbang jauh."
Wajah pucat pasih itu terlihat sendu, ia menghapus air mata yang menetis di pipinya.
Ozan duduk lalu meraih tangan Jenyka.
"Kau, tidak boleh pergi ke manapun. Aku tidak melarangmu bertemu dengan dia. Aku cuma tidak mau kau kelelahan. Kenapa kau tidak menurutiku?"
Jenyka tersenyum. "Tenanglah, aku sudah mengirimkan pesan kepada Celine, dia akan kembali dan membantuku, nanti."
__ADS_1
"Kau sudah bilang padanya kalau kau sakit?"
Jenyka menggelengkan kepala. "Tidak."
Ozan menghembuskan nafas berat.
"Pantas saja sampai saat ini Celine belum kembali juga. Dengarkan aku, Je. Kalau pria yang kau tunggu itu tidak menginjakkan kakinya ke negara ini dan bertemu denganmu, maka berjanjilah kau harus melupakan dia untuk selamanya."
"Aku pasti bisa melupakan dia kalau kami sudah berada di dunia yang berbeda."
"Berhenti bicara yang bukan-bukan, Je."
"Kenapa? Kau bahkan lebih tau berapa lama lagi aku bisa bertahan hidup." Jenyka tersenyum masam. Dokter sudah memonis hidupnya tidak lama lagi.
"Je, please ... don't talking about that!" Kau bisa hidup lebih lama lagi dari yang kau inginkan." Hatinya selalu sakit saat mereka membahas sisa umur Jenyka.
"But, I'm not sure... aku tidak yakin untuk itu. Jadi, kumohon mengertilah. Sebelum aku benar-benar pergi, aku ingin bertemu dan menghabiskan sisa waktu yang aku punya dengannya."
"Ini permintaan terakhirku," ucap Jenyka lirih.
"Stttt enought...." Ozan menatap wajah Jenyka lalu meletakkan Jari telunjuknya di bibir Jenyka, tidak mau mendengar apapun lagi darinya.
"Meskipun aku seorang dokter, tapi aku tau kalau dokter bukan Tuhan yang bisa menentukan batas usia manusia. Kau harus semangat, Jen."
Jenyka terdiam, ia tidak berharap apapun selain bertemu dengan Marvel.
"Tidurlah, Jen." Ozan menarik selimut sebatas dada Jenyka. "Jangan pikirkan apapun."
__ADS_1
Jenyka tersenyum. "Terima kasih, kau selalu ada untukku," ucapnya sebelum memejamkan mata.
Cukup lama Ozan mengamati wajah Jenyka yang sudah terlelap, setiap kali melihat Jenyka sakit seperti ini ia pun merasakan sakit juga.
"Aku pastikan, aku akan selalu ada untukmu," gumam Ozan, ia mengambil foto Jenyka dengan infus di tangan kemudian dikirimkan kepada Celine, Ozan berharap wanita itu segera kembali.
"Bagaimana kondisi putriku?" tanya Nyonya Melanie setelah Ozan menutup pintu. Nyonya Melanie tampak cemas memikirkan kondisi putrinya saat ini.
"Tenanglah, bibik. Jeje sudah baik-baik saja. Dia hanya butuh istrahat." Ozan berusaha menenangkan Melani.
"Syukurlah, aku takut dia menyerah." Melani menangis, tangannya bergetar saat meraih tangan ozan.
"Tolong, buat dia tersenyum setiap saat. Aku tidak mau sisa waktunya dihabiskan dalam kesedihan." Ia sudah mulai terisak.
Ozan memeluk nyonya Melani yang sudah ia anggap sebagai ibunya.
"Bibik tidak perlu khawatir, aku akan berusaha semampuku..."
Berusaha membuat Jenyka tersenyum.
Berusaha mengabulkan permintaan Jenyka.
Meskipun perih, namun ia siap membantu Jenyka agar bisa segera bertemu dengan pria yang bernama Marvel.
Bisakah ia melihat Jenyka bersama pria lain selain dirinya?
🌴🌴🌴
__ADS_1
Gimana-gimana? Hatinya udah jedag-jedug, belum, Bestie? Terima kasih komentar penyemangatnya, maaf kalau aku jarang balas komen, ya, para emak dan calon emak yang ada di sini.
Jangan lupa jempolin, ya, cintah😍